NOTA KESEPAHAMAN: WUJUDKAN IMPIAN PAUS
Ketua Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBLL), Monica Tanuhandaru, bersama Praeses Seminari Menengah St. Yoh. Berkhmans Todabelu, Mataloko, RD. Martin Ua, menandatangani Nota Kesepahaman tentang Pengembangan Kegiatan Pendidikan, Penelitian, Pembinaan, Pendampingan, dan Pengabdian pada Masyarakat, serta Pemagangan pada Selasa, 7 Januari 2025, di English Room Seminari St. Yoh. Berkhmans Todabelu, Mataloko.
Turut menyaksikan pada kesempatan tersebut sejumlah staf dari YBLL dan Kampus Bambu Turetogo, Ngada dan beberapa Romo dari Seminari. Karena kegiatan ini dilakukan pada masa liburan, perwakilan siswa tidak bisa turut serta.
Momen yang Tepat
Dalam sambutannya, RD. Martin menyatakan kegembiraannya dengan penandatanganan Nota Kesepahaman ini. “Kemitraan yang sudah, sedang, dan akan dilaksanakan ini bagi kami sangat menggembirakan. Ini momen yang tepat, karena dalam upaya menyambut 100 tahun Seminari yang akan terjadi 4 tahun mendatang, kami ingin agar lahan yang selama ini menjadi padang ternak dimanfaatkan. Karena itu atas nama lembaga kami mengucapkan terima kasih atas kemitraan ini,” tuturnya.
Martin melanjutkan, para siswa mendapatkan pendidikan yang besar melalui kemitraan ini. “Untuk generasi Z atau Alpha, mengajak mereka untuk kembali mencintai lingkungan, merawat bumi dengan cara yang kongkret, ini aksi yang sangat bermanfaat.” Di lingkungan sekolah gerakan peduli lingkungan melalui bambu mendapatkan momen yang tepat dalam Kurikulum Merdeka melalui Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5).
Dalam dua tahun belakangan ini telah ada 2 hektar lahan Seminari yang ditanami bambu. Sebagian besar bambu yang ditanam telah bertumbuh dengan baik. Bibit yang mati telah diganti lagi. Direncanakan 22 jenis bambu endemik NTT akan ditanam di hutan bambu Seminari. “Dalam master plan Seminari, hutan bambu itu akan ditata menjadi taman bambu,” kata RD. Silvinus Fe yang menangani bidang penataan lingkungan Seminari yang turut hadir.
Wujudkan Impian Paus
Monica Tanuhandaru, Ketua YBLL menegaskan, kemitraan dengan Seminari adalah upaya kongkret untuk mengimplementasikan impian Paus yang dituangkan sekurang-kurangnya dalam dua ensiklik, Laudato Si (2015) dan Fratelli Tuti (2020).
Dalam kedua ensiklik itu Paus berbicara tentang perlunya kita merawat bumi sebagai rumah bersama. Ini adalah tindakan persaudaraan dan kemanusiaan yang kongkret. “Bambu itu salah satu tanaman yang kita pilih. Kita bisa mengupayakan berbagai tanaman endemik NTT seperti porang misalnya. Kita perlu mengupayakan pertanian yang organik. Saya berkeinginan kita bersama-sama dapat mewujudkan NTT sebagai provinsi net zero, sedapat mungkin mengurangi emisi karbon dan emisi gas rumah kaca, karena kita mempunyai sumber alam yang kaya,” tandasnya.
Dilansir dalam unair news (unair.ac.id) 16 Mei 2024, Indonesia termasuk penyumbang emisi karbon dan emisi gas rumah kaca terbesar ke-6 di dunia, dan menempati posisi pertama sebagai negara penghasil emisi karbon terbesar di Asia Tenggara.
Butuh Kolaborasi
Upaya mewujudkan impian Paus ini tidak bisa dikerjakan sendiri-sendiri. Butuh kolaborasi dengan berbagai pihak. “Semoga kemitraan dengan Seminari ini adalah awalan untuk sebuah kolaborasi yang lebih besar di tingkat Keuskupan,” kata Monica penuh harap.
Monica berkisah, sebelum tiba di Seminari Mataloko untuk penandatanganan Nota Kesepahaman, bersama sejumlah staf, dia melakukan perjalanan panjang menjumpai para Uskup Labuan Bajo dan Ruteng, dan pemerintah kabupaten setempat untuk berdiskusi mengenai kerja sama yang lebih kongkret. “Semoga ke depannya ada kesempatan beraudiensi dengan Bapak Uskup Agung Ende,” harapnya.
Monica sangat berharap, dengan penandatanganan ini ada kegiatan-kegiatan bersama yang berkelanjutan. “Tolong terus digalakkan kegiatan-kegiatannya, bila perlu setiap minggu,” pesannya kepada Paskalis Lalu dan Yopi Nanga dari Kampus Bambu, Turetogo, Ratogesa, Ngada.
Dudukan HP dari Bambu
Sebelum meninggalkan Seminari, Monica menyerahkan sejumlah dudukan bambu slot ganda, produk terbaru perusahan Mosedia di Labuan Bajo. Dudukan bambu ini terbuat dari limbah bambu yang dikemas menarik. Pada salah satu sisinya terdapat barcode yang terhubung dengan website Mosedia.
Mosedia adalah perusahaan bambu berbasis komunitas dan kolaboratif, Rumah Produksi Bersama (RPB), yang berkedudukan di Labuan Bajo, Manggarai Barat. Produk-produknya dikerjakan dari limbah bambu yang dikemas secara kreatif dan menarik sehingga menjadi produk berkualitas.
Telah ada banyak produk yang dihasilkan sebagai bagian dari kerajinan bambu yang tentu memberikan nilai tambah. Produk-produk tersebut merentang mulai dari souvenir yang bisa dihasilkan Mama-Mama Bambu, sampai produk berkualitas tinggi seperti aneka kursi dan meja untuk berbagai keperluan, bahkan sepeda bambu.
Produk bambu Mosedia menekankan kualitas. “We have made quality our habit. It’s not something that we just strive for – we live by this principle every day – Kami telah menjadikan kualitas kebiasaan kami. Kami tidak hanya sekadar memperjuangkannya, kami menghayatinya setiap hari,” demikian salah satu pernyataan yang kuat yang ditemukan dalam website Mosedia.
Mosedia menjadi corong depan yang mengungkapkan bahwa bambu NTT dapat menghasilkan produk kerajinan tangan yang berkualitas dan ramah lingkungan. Bambu juga dapat menjadi alternatif bahan bangunan yang kuat yang bisa menggantikan kayu. Kecuali itu, bambu dapat menjadi rumah bersama tempat kita merawat bumi dan meningkatkan kesejahteraan. Subyeknya tidak hanya pelaku bisnis, tapi masyarakat biasa, seperti Mama-Mama Bambu. Inilah bentuk pemberdayaan melalui bambu.
Penandatanganan Nota Kesepahaman adalah bagian dari kerja bersama untuk mewujudkan impian dan kerja besar merawat bumi dan cinta lingkungan, sekaligus pemberdayaan ekonomi kerakyatan (Nani Songkares).
