HEBOH RAZIA RAMBUT, NELSON TEKU: “SAYA SIAP MELAYANI”
Feature – Edgar Sebo
“Wee, Senin nanti ada razia rambut.”
“Mati eee, main razia semua ni. Gunting rambut su.”
“Eee, aman sa….Pak Enso doang kok.”
Begitulah isi gosip yang sering saya dengar setiap kali Pak Enso Feto, Guru Geografi SMA Seminari St. Yohanes Berkhmans Todabelu mencanangkan razia rambut. Ada siswa yang segera memangkas rambutnya. Ada juga yang malah tidur-tiduran tanpa beban. Adalah sebuah kemunafikan, jika saya menganggap enteng “program” guru saya yang satu ini.
Siang itu, saya dan empat teman saya sedang belajar Fisika bersama Guru Fisika kami, Ibu Themi Woghe di Lab Fisika. Atmosfer pelajaran yang membosankan seketika pecah, ketika seorang siswa masuk lab dengan sopan, hendak menyampaikan sesuatu.
“Saya ingin bicara dengan Ibu Themi”, ujar siswa yang ternyata adalah Gilang By, siswa kelas XII C. Setelah cukup lama berproses bersama Ibu Themi, Gilang tidak langsung meninggalkan ruangan. Malah dia berdiri tegak bagai orang yang lupa cara berjalan.
“Hee By, kenapa tidak keluar?”, tanya Ibu Themi dengan nada yang agak tinggi. “Ibu”, mulainya pelan. “Pak Enso sedang razia rambut.”
Kami panik. Rambut kami panjang. Sayang sekali jika rambut yang kami rawat, basuh dengan shampoo, dan minyaki setiap hari dipotong begitu saja. Benar, Pak Enso sedang menjalankan “ritualnya” di kelas XII C.
Para siswa yang tak dapat melarikan diri lagi dipaksa untuk duduk di kursi mereka masing-masing. Mereka pasrah. Sementara itu, Pak Enso asyik memangkas rambut mereka. Rambut mereka ditarik-tarik, lalu dipangkas dengan clipper.
Sadisnya, rambut mereka tidak dipangkas secara rapi. Ada yang nyaris botak, setengah botak, boteng (botak tengah), dan model-model absurd lainnya. Sembilan siswa menjadi korban kelaliman Pak Enso siang itu.
Satu per satu siswa kelas XII C meninggalkan ruangan kelasnya sambil memegang-megang dan menutupi kepala mereka, karena malu dilihat orang.
Grand Tuwa hanya bisa pasrah saat Pak Enso memangkas rambutnya hingga berlubang-lubang. “Molo su, pasrah saja”, kata lelaki kelahiran Rendu, Nagekeo itu.
Sementara itu, Dolin Nggano, putra Worhonio, Ende justru mengaku stres karena aksi Pak Enso yang dinilai tidak manusiawi. “Stres ngeri la”, ujarnya dengan nada membentak. Sekadar informasi, rambut Dolin siang itu bagaikan Bukit Sasa yang setengah longsor.
“Saya kecewa sekali”, keluh Aldo Bheo, siswa asal Mauponggo, Nagekeo. Dirinya mengaku sudah memangkas rambutnya sejak satu hari sebelumnya, tetapi tetap digunting oleh Pak Enso. “Saya juga jadi malas untuk mengikuti les Geografi siang itu”, tambahnya.
Namun, Aldo tidak menyalahkan Pak Enso. Memang rambutnya sudah dipangkas, tetapi tidak memenuhi standar panjang rambut maksimum. “Saya yang salah”, katanya.
Hari itu, bukan hanya kelas XII C saja yang “dieksekusi”. Setiap kelas yang tidak ada pelajaran dirazia oleh Pak Enso. Bahkan, para siswa yang ia jumpai di luar kelas bernasib sama. Untungnya, saya dapat menghindari razia dengan alasan “mau ikut ujian Bahasa Inggris.”
Saya Siap Melayani
Semesta seakan turut berduka atas perginya rambut para seminaris. Mendung. Suasana kamar tidur kelas XII yang biasanya berisik kini sunyi.
Ternyata setelah ditelusuri lebih jauh, para seminaris sedang berada di kamar jemur, mengantri untuk mendapatkan pelayanan pangkas rambut.
“Eja, gunting rambut ja’o ro”, kata saya kepada Nelson Teku yang sedang memangkas rambut temannya.
“Sabar”, jawabnya datar. Setelah menunggu selama 30 menit, tibalah giliran saya.
Nelson – begitulah ia biasa disapa – adalah seminaris kelas XII B. Ia lahir di Ende, 16 Juli 2007. Sejak masih kelas X, Nelson aktif sebagai pemangkas rambut para siswa SMA Seminari Todabelu.
“Saya menjadi pemangkas rambut, karena saya ingin membantu teman baik saya, Kristian Riwu”, jawab Nelson ketika ditanyai tentang motifnya.
Lebih lanjut, Nelson menuturkan bahwa dirinya tidak tega menyaksikan Kristian memangkas rambut seorang diri. Oleh karena itu, ia belajar memangkas rambut. Namun, kala itu, hanya tersedia sedikit kesempatan baginya untuk membantu.
“Awalnya hanya satu atau dua orang saja. Tapi, lama-kelamaan makin banyak. Bisa empat sampai tujuh orang per minggu”, jelasnya.
Perjalanan Nelson sebagai seorang pemangkas rambut tidak mulus-mulus saja. Kendala utamanya terletak pada isu sarana. Nelson mengaku tidak memiliki peralatan pangkas rambut sendiri. Ia mesti meminjam dari teman-temannya. Menurutnya, hal tersebut hanya menguras waktu dan memperlambat pelayanannya.
“Kalau customer bawa alat yang lengkap kan bagus. Tapi, akan merepotkan kalau harus buang-buang waktu untuk sekedar cari alat. Saya merasa terhambat untuk melayani teman-teman”, kata pemuda yang suka melukis itu.
Akan tetapi, terlepas dari itu semua, Nelson selalu siap melayani kapanpun dibutuhkan, apalagi pada masa pasca-razia seperti ini. Ia sadar bahwa momen seperti ini adalah kesempatan yang bagus untuk belajar melayani dengan tulus.
“Saya selalu siap melayani. Panggil saya kalau mau gunting rambut. Tengah malam pun jadi”, katanya sekaligus menutup obrolan kami sore itu, Senin, 23 September 2024 (Edgar Sebo).
