Elpida: Ketika Harapan Tumbuh di Atas Panggung
Naskah ini lahir dari refleksi mendalam terhadap isu yang dekat dengan kehidupan kita sehari-hari, yaitu kecenderungan manusiawi kita untuk mempertanyakan letak keadilan Tuhan terutama ketika kita dihadapkan pada peristiwa-peristiwa pahit. Saya terinspirasi oleh salah satu cerita dalam buku Membongkar Derita karya Mgr. Paulus Budi Kleden. Dikisahkan seorang Yahudi yang dengan berani membacakan dosa-dosa Tuhan pada malam menjelang Yom Kippur (Hari Pengampunan Dosa). Buku yang berisi dosa-dosa Tuhan terlihat lebih besar dari buku yang berisi dosa-dosanya. Dia menyebutkan segala macam penderitaan yang mendera manusia, yang luput dari kemahabaikan Tuhan. Dia bahkan mengatakan bahwa Tuhan lebih banyak berutang kepadanya.
Dalam aktus ini, saya coba memperlihatkan penderiataan yang kita alami sebenarnya tidak terlepas dari kelalaian manusiawi kita. Bahkan manusia pun bisa merenggut nyawa sesama manusia yang tak bersalah. Namun, di balik semua itu, Tuhan tidak pernah berdiam diri. Ia setia mendengar jeritan orang yang tak jemu-jemunya mengharapkan bantuanNya. Di saat kita dilanda kemelut, kita membutuhkan dasar yang kokoh untuk tetap berdiri, dan dasar itu adalah Tuhan. Dalam naskah ini, harapan kepada Tuhan bukan sekadar optimisme kosong, melainkan kepercayaan penuh kepada Dia sang pemegang kendali atas segalanya.
Bertolak dari ini, saya memberi judul aktus Natal tahun ini dengan kata bahasa Yunani: Elpida (Ελπίδα) yang berarti harapan. Kata ini memiliki makna mendalam dalam konteks budaya, agama, dan filsafat Yunani. Elpida mengacu pada perasaan optimisme atau keyakinan akan masa depan yang lebih baik. Dalam Mitologi Yunani, Elpida dikaitkan dengan mitos kotak Pandora. Ketika Pandora membuka kotak berisi semua kejahatan dunia, harapan adalah satu-satunya yang tersisa di dalamnya. Ini melambangkan bahwa bahkan dalam situasi tersulit, manusia masih memiliki harapan. Dalam Kekristenan Ortodoks Yunani, Elpida sering digunakan dalam konteks religius, mengacu pada harapan akan keselamatan dan kepercayaan kepada Tuhan. Kata ini muncul dalam tulisan-tulisan teologi Yunani, terutama dalam Perjanjian Baru yang ditulis dalam bahasa Yunani Koine, di mana harapan adalah tema sentral dalam iman Kristen.
Natal bukan hanya sekedar peristiwa kelahiran Kristus, melainkan juga tanda bahwa Allah tidak tinggal jauh di surga, melainkan hadir di tengah kita, mengambil rupa manusia untuk menyelamatkan dan membimbing kita menuju kehidupan yang penuh pengharapan (Tevin Lory).
