EAGLE, KERJA SAMA, DAN KEPEMIMPINAN
SMA Seminari Todabelu, Mataloko menyelenggarakan kegiatan EAGLE English Club dengan tagline FIRE (Fun Interaction and Relation with English), Minggu (20/10/2024). Terlibat dalam kegiatan tersebut 120 siswa SMA Seminari bersama sejumlah siswa SMPS Seminari, SMPK Kartini Mataloko, SMAN 2 Bajawa, SMAN 2 Soa, SMAK Klemens Boawae, dan SMAN 1 Boawae.
Kegiatan bahasa Inggris rutin dua atau tiga bulanan yang lazim disebut kegiatan EAGLE diawali perayaan Ekaristi jam 05.45 di English Room, yang dipimpin Rm. Bambang Alfred Sipayung, SJ.
Pembelajaran yang Bermakna
Dalam homilinya, imam yang sedang live in di Seminari Mataloko ini berbicara tentang kecenderungan mendidik kaum muda zaman ini yang menggunakan pendekatan psikologi positif. Kata-kata yang mengungkapkan realitas yang keras diperhalus agar kaum muda tidak berada dalam tekanan. “Anak tidak boleh dikatakan bodoh, karena nanti akan membuatnya tidak berkembang,” katanya.
Anak diajarkan untuk mengenal passion-nya, kata-hatinya. Sementara itu Passion sering disamakan dengan emosi positif, apa yang disenangi, diminati, dan menggembirakan. “Ini seperti kelenjar dopamin yang diinjeksikan kepada anak-anak. Kalau reaksi dopamin sudah tidak ada lagi, anak merasa hampa, kehilangan makna, dan cepat bosan. Itu yang terjadi ketika seseorang kecanduan narkoba, atau games, atau media sosial,” lanjutnya.
Jesuit kelahiran 25 November 1971 di Medan, Sumatra ini mengarahkan perhatian seminaris kepada Sabda Tuhan dalam bacaan Kitab Suci. “Kata-kata Tuhan itu tidak jarang keras. Dalam bacaan pertama dari Kitab Yesaya dikatakan, Tuhan meremukkan hambaNya dengan kesakitan. Untuk memasuki kepenuhan hidup kita harus menerima realitas yang tidak jarang menyakitkan,” tegasnya.
Pendek kata, yang dicari dalam pendidikan sejatinya bukanlah joyful learning atau pembelajaran yang menyenangkan, tapi meaningful learning, yakni pembelajaran yang bermakna. Sering kali agar dapat mengalami makna hidup orang harus rela menderita, bahkan berkorban, seperti Yesus yang datang untuk melayani, bukan dilayani.
Kerja Sama
Kegiatan EAGLE dimulai tepat pukul 9.00 di aula SMA setelah sebagian besar peserta hadir. Rm. Bambang SJ mendapat kesempatan berbicara setelah bersama-sama menyanyikan mars EAGLE dan menikmati ice-breaking.
Dengan bahasa Inggris yang memukau tapi sederhana dan mudah ditangkap, jebolan Development Studies, Institute of Social Studies, Denhaag, Belanda, menyihir kawula muda dengan proses-proses yang menarik.
Sebuah video yang berkisah mengenai perlombaan kelinci dan kura-kura ditampilkan. Kelinci melesat jauh meninggalkan kura-kura dalam sebuah lomba lari. Karena merasa tak mungkin dikalahkan, kelinci beristirahat, lalu tertidur. Kura-kura yang lamban tapi konsisten dan teguh memenangi pertandingan. Pembelajarannya jelas. Jangan menganggap enteng orang lain. Juga betapa pentingnya keteguhan, determinasi, dan konsistensi.
Namun cerita belum berakhir. Kelinci dan kura-kura bersepakat untuk berlomba lagi. Kali ini kelinci berlari kencang dari awal sampai akhir. Jelas, dia memenangi pertandingan. Kura-kura tidak hilang akal. Dia minta diadakan lomba lagi, tapi jalur perlombaan berbeda, harus melewati sungai yang lebar sebelum sampai garis akhir. Keduanya bersepakat, dan perlombaan dimulai. Seperti biasa, kelinci melesat jauh, tapi di tepi sungai dia bingung, tidak tahu bagaimana berenang. Kura-kura yang terlambat tiba segera terjun ke sungai dan berenang. Kura-kura pun memenangi pertandingan. Pembelajarannya menarik. Kenalilah kompetensi intimu, kekuatanmu, dan manfaatkan itu sebaik-baiknya, niscaya akan sukses!
Ternyata, masih ada kelanjutan ceritanya, dan bagian ini menarik sekali. Kelinci dan kura-kura sepakat berlari lagi melalui route yang sama, dengan sungai sebagai rintangannya. Namun, bukan persaingan yang dikedepankan, tapi kolaborasi, teamwork. Mereka sepakat, kura-kura menunggangi kelinci di jalur darat, sedangkan di sungai kelincilah yang menunggangi kura-kura. Hasilnya sangat memuaskan keduanya.
Memang tidak ada yang salah kalau orang mau pintar atau hebat sendiri. Namun, kalau dia tidak mampu bekerja sama dan saling berbagi kekuatan masing-masing, hasilnya kurang memuaskan, dan orang lain selalu akan lebih baik. Sebaliknya, kalau ada kerja sama, kalau ada penghargaan satu sama lain dan kerelaan berbagi, hasilnya akan jauh lebih memuaskan. Itulah nilai-nilai kepemimpinan.
Setelah cerita dari video itu, mula-mula ada pertanyaan yang menantang siswa secara individu. Berapa banyak kata yang bisa ditangkap. Setelah siswa yang satu menjawab, siswa kedua harus lebih banyak jumlah katanya. Begitu seterusnya. Saat mereka bekerja di dalam kelompok, jumlah kata yang mereka tangkap dan moral yang mereka pelajari dari kisah yang mereka tonton itu berlipat-ganda dan menarik.
Dalam berbagai kegiatan selanjutnya, siswa bekerja di dalam kelompok yang merupakan leburan dari berbagai sekolah. Ada nuansa persaingan di sana, karena persaingan membuat games menjadi seru, kegiatan lebih dinamis. Namun, yang lebih ditonjolkan ialah kerja sama, saling berbagi peran untuk mendapatkan tiket dan kartu-kartu, dan mengatasi tantangan. Hasilnya tidak ada yang merasa direndahkan, kalah, tidak ada yang merasa menang sendiri. Yang dirasakan adalah pembelajaran bersama yang memuaskan dan menginspirasi.
Kepemimpinan
Kegiatan EAGLE adalah salah satu ajang latihan kepemimpinan para siswa. Ada puluhan siswa yang sejak sebulan sebelumnya menyiapkan segala sesuatu bagi kelancaran EAGLE. Mereka membuat pertemuan secara teratur. Dalam pertemuan-pertemuan tersebut mereka menggunakan bahasa Inggris untuk berkomunikasi.
Mereka menentukan tagline yang dirasa menarik dan akan mewarnai seluruh kegiatan mereka. Kali ini mereka memilih Fun Interaction and Relation with English (FIRE) sebagai tagline.. Mereka berkonsultasi dengan Teresa Wynne Taylor, seorang ibu dari Australia yang pernah tinggal di Seminari selama 7 bulan.
Mereka membentuk seksi-seksi dan tanggung jawab kerja masing-masing. Mereka merancang kegiatan dan games dan berbagai hal yang diperlukan. Mereka membuat jadwal latihan dan pertemuan evaluasi.
Mereka membahas bersama sekolah-sekolah yang akan diundang. Mereka memperhitungkan jumlah peserta, mengkalkulasi budget untuk konsumsi dan berbagai kebutuhan lainnya. Mereka memikirkan sumber dana, mengajukan proposal, dan melakukan fund-raising. Semua keterampilan literasi dan numerasi mereka manfaatkan agar harapan tercapai, mimpi terwujud.
Dari waktu ke waktu mereka merajut dan merasakan kesatuan di antara mereka. Ada tanggung jawab dan integritas bersama. Yang sudah diputuskan, dilaksanakan, walaupun untuk itu mereka harus berkorban: waktu, tenaga, pikiran. Mereka saling mendukung, tapi juga saling mengoreksi. Mereka memikirkan segala hal, bahkan sampai detil, untuk kenyamanan para peserta. Mereka siap tempur bersama, siap memberikan yang terbaik.
Setelah semua kegiatan berakhir, para peserta kembali dengan kisah dan kepuasan masing-masing, anggota panitia EAGLE, masih harus membereskan segala hal. Mereka memastikan aula, ruang-ruang kelas ditata normal, peralatan musik, elektronik, sound-system dikembalikan dalam keadaan baik. Mereka duduk lagi bersama mengevaluasi, mengapresiasi keunggulan, mencatat kekurangan, dan membicarakan rencana tindak lanjut untuk urusan pelaporan dan pertanggungjawaban, dan jadwal kegiatan berikutnya.
Itulah pembelajaran kepemimpinan yang bisa mereka timba melalui kegiatan EAGLE. Kepemimpinan yang melayani teman-temannya dengan sepenuh hati, yang membuat perbedaan, sekaligus membuat hidup mereka berarti. A meaningful learning (Nani Songkares)
