Dinas Lingkungan Hidup Ngada Apresiasi “Berkhmawan on the Road”
Bengkel Teater Kata Seminari St. Yohanes Berkhmans Todabelu Mataloko menggelar “Berkhmawan on the Road” dengan rute Mataloko menuju Kota Bajawa pada Senin, 21 Oktober 2024, pukul 09.30 – 17.00 WITA.
Kegiatan ini mengusung tema “Ketika Sampah Nodai Sumpah”.
Kegiatan tersebut diisi dengan teater berjalan, orasi, monolog, musikalisasi puisi, dan aksi pungut sampah.
Titik pementasan Berkhmawan on the Road berlangsung di Pertigaan Mataloko – Were, Turekisa – Pertigaan Kampus STIPER FB, Pasar Bobou, Terminal Kota Bajawa, dan Taman Kartini.
Kegiatan ini disponsori oleh Polres Ngada, Kampus Bambu Turetogo, PT. Kencana Sakti Nusantara, Antara Prima, Komsos Keuskupan Agung Ende, Rumah Batik Sejoli, MZ Glamour, serta turut bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Ngada, Disperindag Kabupaten Ngada, dan Dinas Perhubungan Kabupaten Ngada.
Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Ngada melalui Kepala Bidang Persampahan dan Bahan Bahaya dan Beracun (B3), Philomena Neko, S. T., menuturkan apresiasi dan terima kasih terhadap penyelenggaraan kegiatan tersebut.
“Kegiatan ini baru pertama kali terjadi di Kabupaten Ngada dan saya anggap luar biasa”, ungkap Philomena Neko yang mewakili Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Ngada untuk hadir dalam kegiatan tersebut.
Menurutnya, selama ini penanganan terhadap masalah sampah di Kabupaten Ngada masih belum maskimal.
“Selama ini dari atas ke bawah, yakni dari pemerintah ke rakyat lewat penetapan Perda dan sosialisasi. Namun, belum berjalan maskimal. Masyarakat hanya datang, duduk, dengar, dan pulang. Tidak ada tindak lanjutnya”, ungkapnya.
Berkhmawan on the Road, baginya, menjadi kegiatan yang mewakili dan sekaligus memotivasi masyarakat Ngada untuk bersama-sama mendukung program pemerintah.
Selain itu, Philomena Neko berterima kasih kepada pihak Seminari yang telah menyelenggarakan Berkhmawan on the Road. Dirinya berharap kegiatan tersebut dapat memantik kesadaran masyarakat Ngada untuk melihat “sampah sebagai persolan serius yang tidak semata-mata ditangani oleh pemerintah”. (Bayu Tonggo).
