DSC_6433

DOA TAIZE DI SEMINARI

Ratusan siswa SMP dan SMA Seminari Mataloko, membanjiri kapela Santo Alfonsus Maria De Liguori, guna mengikuti doa Taize, Jumat (30/3/2018). Kendati berjumlah besar, Kapela di sisi barat SMA tersebut terasa hening. Para siswa khusuk berdoa diterangi cahaya lilin di altar dan sisi luar barisan bangku kapela itu.

Doa dalam suasana syahdu ini dipimpin oleh Fr. Stefanus F. Tangi, O’Carm, yang sedang menjalani Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di seminari. Lantunan lagu-lagu pendek dengan syair dari penggalan Kitab Suci yang dinyanyikan berulang-ulang, diiringi petikan gitar, terasa bergema lembut, dan membawa para seminaris masuk ke dalam perjumpaan batin dengan Tuhan.

Alunan Musik dan Kitab Suci

Inti doa bercorak Taize adalah penggalan Kitab Suci yang dilantunkan berulang-ulang dalam bentuk lagu dengan iringan musik, dan dinyanyikan dengan hati, sehingga terasa lembut. Sabda Tuhan mengalir ke dalam batin, bergema di seluruh tubuh.

Jesus remember me, when You come into Your Kingdom – Yesus ingatlah akan daku, ketika Engkau masuk ke dalam KerajaanMu” (Lk.23:42). Ini salah satu contoh penggalan Kitab Suci yang dilantunkan. Sabda Tuhan ini dinyanyikan berulang-ulang di Kapela, dengan alunan musik yang lembut. Setelah itu ada saat hening, untuk meresapkan Sabda Tuhan. Indah sekali!

Di luar Kapela, Sabda itu diingat, didengungkan terus, dibawa ke dalam kehidupan. “Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak,” kata Yesus (Yoh.15:5). Doa bercorak Taize terasa membantu para seminaris tinggal di dalam Tuhan, di dalam SabdaNya yang membawa kekuatan bagi kehidupannya.

Dari sejarahnya, doa ini dikembangkan Br. Roger Schütz saat pecah perang dunia II. Dia mendirikan sebuah komunitas di Taize, sebuah desa kecil di timur Perancis. Komunitas ini hidup bernapaskan doa dan karya. Doa yang dikembangkan adalah penggalan Kitab Suci, yang dilantunkan dengan lembut. Ini dilakukan tiga kali sehari, yakni pagi, siang dan malam. Doa seperti ini menggelorakan cinta yang mempersatukan. “Cintailah, dan ungkapkanlah cinta itu dengan hidupmu”, itulah motto hidup Br. Roger. Komunitas itu menyatukan segenap umat kristiani (Katolik, Ortodox, Protestan).

Dahaga akan kasih yang mempersatukan di kalangan umat kristiani seakan terpenuhi di dalam komunitas ini, dan yang paling merasakannya adalah kaum muda. Mereka berdondong-bondong datang dari berbagai belahan dunia, dari berbagai gereja, termasuk dari Indonesia, untuk berziarah ke Taize.

“Seseorang yang singgah ke Taize bagaikan mendekati sumber mata air. Di sini seorang peziarah berhenti, melepaskan dahaganya sebentar, sebelum melanjutkan perjalanannya,” ujar Paus Yohanes Paulus II dalam kunjungannya ke Taize, 5 Oktober 1986.

Berakar pada Tuhan

Doa itu membuat kita berakar pada Tuhan, kata Paus Fransiskus, di hadapan ribuan jemaat yang memadati lapangan St. Petrus di Vatikan, 21 Maret 2018 lalu. “Tanpa akar, dapatkah sebuah pohon bertumbuh dengan baik, dapatkah tanaman berbunga? Tidak!” Hidup kristiani harus berbuah dalam kasih dan perbuatan baik, lanjut Paus. Untuk itu seorang Kristen harus berakar pada Tuhannya. “Jangan pernah hidupmu terpotong dari Yesus,” tegasnya.

Doa bercorak Taize bertujuan mengakarkan hidup pada Tuhan. Tentu, ini bukan corak doa satu-satunya, tetapi salah satu bentuk yang bisa membantu para seminaris bertekun dalam doa.

Sebetulnya, doa ini telah lama diperkenalkan di seminari. Namun, saban tahun kegiatan ini meredup. Fr. Even menghidupkannya kembali. “Kami sering melantunkan doa bergaya Taize di biara Karmel”, katanya.

Pengajar bahasa Jerman di SMA Seminari itu mengatakan, doa Taize mempunyai corak kontemplatif. Kekuatannya bukan pada perasaan atau pikiran, tetapi pada Sabda Tuhan yang dilantunkan berulang-ulang, dan membawa suasana hening.

Sabda Tuhan itu memperkaya khasanah batin. Gema Sabda Tuhan yang terus bergaung itu mengundang orang untuk datang menjumpai Tuhan dalam liturgi kudus dan doa-doa pribadi. Taize membantu orang beriman membangun doa-doa batin, berupa perulangan penggalan Sabda Tuhan. Pada gilirannya, doa-doa batin itu menjadi napas hidupnya. Itulah yang telah lama dipraktikkan para rahib dari Gereja Timur sejak abad pertengahan.

Para seminaris berharap doa bercorak Taize ini dijalankan secara teratur dan tetap di lembaga pendidikan calon imam ini. (Kontributor: Ari Djone, Naldy Muga, siswa kelas X. Editor: Nani).

Comments are closed.