SI RAMBUT PUTIH

Catatan Kenangan bersama Romo Bene Daghi, Pr

“Kamu sudah lewat 5 menit. Saya tunggu kamu di lapangan tapi kamu tidak datang. Tidak perlu lagi ke lapangan!” tegur Romo Bene, sapaan khas untuk Romo Benediktus Daghi, Pr, saat beliau baru menjadi Praeses Seminari Mataloko. Kami janjian bermain badminton di aula rekreasi SMP pukul 15.30. Namun, karena saya masih harus bekerja bersama siswa pada hari Rabu (Rabu dan Sabtu adalah hari kerja di pos kerja masing-masing selama 1 jam sesudah istirahat siang), saya tidak bisa datang ke aula rekreasi pada waktunya. Tanpa tedeng aling-aling, Romo Bene menegur saya di depan para siswa.

Salah satu kekhasan Romo Bene adalah penghargaan yang luar biasa besar terhadap waktu. “Kalau kita tidak disiplin, kita akan menunda banyak pekerjaan, kita mengganggu banyak orang, dan ini merepotkan,” katanya suatu waktu. “Time is what we want most but, but what we use worst, ” kata William Penn. Untuk Romo Bene, waktu harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Begitu lonceng tanda selesai jam pelajaran, Romo Bene mengakhiri pelajarannya dan meninggalkan ruangan kelas. Satu atau dua menit sebelum pelajaran dimulai Romo Bene sudah berada di depan kelas. Bahkan saat memberikan ceramah, diminta bicara sekian menit, sekian menit itulah yang dimanfaatkannya sungguh-sungguh.

Karena penghargaan yang besar pada waktu inilah, Romo Bene selalu ada waktu untuk menyiapkan segala sesuatu: kotbah, pelajaran, ceramah. Ada waktu untuk menyiapkan modul pelajaran. Ada waktu untuk memeriksa pekerjaan siswa. Dan, ada waktu untuk melayani sesamanya.  Asal telah disampaikan sebelumnya, dia tidak akan pernah melalaikan permintaan orang. Dia adalah tempat para Romo, frater, guru, dan pegawai mencurahkan isi hatinya, melalui Sakramen Pengakuan, atau konsultasi pribadi. Dia adalah orang tua yang rapuh secara fisik, tapi menjadi sandaran kokoh secara rohani.

Saat para Romo atau para guru mengalami kesulitan kendaraan, Romo Bene selalu menawarkan panther-nya. “Saya gedor kamar Romo Bene tengah malam, karena ibu mau melahirkan,” kisah Pak Yus Tae, guru biologi di Seminari, yang telah menjadi Kepala Sekolah di SMA Negeri di Were. “Saya nekat saja, Romo. Saya yakin, beliau pasti mau bantu. Benar. Beliau langsung bangun, ambil panther di gudang, dan bantu antar ibu saya ke Bajawa”, kenang Pak Yus.

Suatu waktu dalam sebuah sidang sekolah, para guru diimbau membelikan laptop. Para guru terdiam. Saat itu harga sebuah laptop dengan spesifikasi biasa saja mencekik. Romo Bene dengan sukarela menawarkan uang yang disimpannya di bank untuk dipinjamkan. Dia hidup sederhana. Uang tidak dia belanjakan sembarangan. Sebesar apa pun yang dia peroleh, dia tabung. Pada waktunya, dia mengulurkan tangan untuk membantu. Pastor bonus – gembala, imam yang baik, yang rela berkorban, asal orang lain tertolong, dan merasa berarti dalam hidupnya.

Saat Indonesia bergulat dengan kebhinekaan, topik tentang Islamologi menjadi salah satu pembicaraan hangat di kamar makan. Ada-ada saja pertanyaan yang dilontarkan. Islamolog ini pasti akan meladeni dengan ketenangannya, dengan guyon-guyonnya yang membuka cakrawala penghargaan terhadap kebhinekaan. Sesewaktu dia menyisipkan bahasa Arab yang mengundang ingin tahu. Semua mata pasti tertuju kepada Si Rambut Putih – julukan para siswa seminari kepadanya. Si rambut putih penuh kasih dan inspirasi.

Orang tua yang penuh kasih itu kehangatan di musim dingin. Kepergian Romo Bene pukulan besar untuk Seminari. Kami – para Romo, frater, suster, guru, pegawai, anak-anak kehilangan sosok orang tua. “Aduh, orang tua sudah tidak ada lagi.” Kata-kata ini membuat hati sangat pilu. Pilu sekali. Sebuah sandaran telah hilang.

Biasanya anak-anak seminari akan pergi berdoa dan bermain-main, bercanda di pusara Pater Engels, SVD, Romo Domi Balo, Pr, Romo Nadus Sebho, Pr, dan para Romo lainnya di kuburan. Mereka membersihkan kuburan, pasang lilin. Berdoa, omong-omong. Mereka juga pasti rindu bercanda dengan kae, Romo Bene Daghi, di pusaramu. Hanya saat ini, pusaramu jauh di sana, di Wolobaja.

Semoga Romo Bene selalu bisa omong-omong dengan anak-anak, di hati mereka. “Cuma dalam Dia yang menguatkan aku, aku mampu” (Fil 4:13). Kami mencintaimu kae. Selamat jalan.

Nani Songkares

Comments are closed.