PANEN JAGUNG LAMURU DI KEBUN SEMINARI

            Panen jagung komposit berjenis Lamuru dilakukan di kebun seminari Rabu,25/10/2017 silam. Hadir dalam kegiatan ini Yohanes Tay, Kepala Dinas Pertanian Provinsi NTT, Paskalis Wale Bai, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Ngada, Letkol. Czi Arman, Dandim Kabupaten Ngada, dan sejumlah rombongan. Sebanyak 10 ton jagung berhasil dikumpulkan untuk pemenuhan kebutuhan benih jagung bagi para petani sedaratan Flores.

            Kepada Praeses Seminari St. Yoh. Berkhmans Todabelu, Rm. Gabriel Idrus, Pr, Yohanes Tay mengungkapkan kepuasan dan kegembiraannya atas hasil yang dicapai. “Ini adalah wujud kerja keras dan kepedulian yang besar dalam gerakan mewujudkan swasembada pangan”, katanya. Hal senada disampaikan Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Ngada. Atas nama pemerintah mereka berhadap kerja sama seperti ini terus berlanjut di waktu-waktu mendatang demi meningkatkan ketahanan pangan. “Kita butuh kolaborasi membangun ketahanan pangan di wilayah kita. Karena itu kami menunjuk lahan kebun seminari ini sebagai lokasi penangkaran jagung”, ujar Yohanes Tay.

Mengolah Tanah, Merawat Panggilan

            Kegiatan menanam jagung di lahan seluas 5 hektare ini dilakukan siswa SMP/SMA Seminari sebagai salah satu pengejawantahan gerakan Mengolah Tanah, Merawat Panggilan, yang dicanangkan pada pelatihan berkebun bersama Komisi PSE KWI pada 5-7 Oktober 2015. Saat itu Rm. Teguh, Pr, ketua Komisi PSE KWI bersama teman-temannya memfasilitasi pergumulan bersama seluruh anggota komunitas seminari untuk menyadari pentingnya tanah dalam seluruh karya penciptaan Tuhan dan dalam konteks panggilan sebagai imam di wilayah Nusa Tenggara.

 “Allah menghembuskan nafasNya maka tanah menjadi hidup. Kita perlu belajar menundukkan kepala, menghembuskan nafas yang dianugerahkan Tuhan kepada kita agar tanah menjadi hidup dan menghasilkan”, kata Rm. Teguh. Dia melanjutkan, seorang calon imam harus akrab dengan bau tanah sejak awal pendidikannya di seminari, karena tanah adalah konteks pastoral yang paling melekat dalam tubuh gereja di Nusa Tenggara.

            Pada pelatihan tersebut seluruh civitas academica SMP/SMA seminari membersihkan tanah, menata petak-petak lahan, dan membangun bak-bak air sebagai persiapan budi-daya sayur-mayur untuk kepentingan komunitas seminari maupun masyarakat yang membutuhkan.

Refleksi yang dilakukan sehari setelah kerja bakti bersama tersebut menemukan betapa indahnya nilai-nilai seperti kebersamaan, tanggungjawab, pengorbanan, bahkan kasih persaudaraan, yang semuanya menyatu pada substansi yang sama, yakni tanah. “Awalnya saya merasa pesimis karena banyak sekali lahan yang belum dikerjakan. Ternyata pekerjaan itu selesai hanya dalam dua hari. Saya menjadi sadar, bahwa pekerjaan seberat  apapun akan selesai dalam waktu yang singkat jika kita bekerja sama dalam kekompakan”, demikian refleksi Gerald Doa Dawa, siswa kelas VII. Tanah itu sesungguhnya pintu masuk penumbuh-kembangan nilai-nilai.

            Di bawah koordinasi Rm. Daniel Sirilus Edo, Pr, berbagai jenis sayur dibudidayakan dan telah memenuhi kebutuhan seluruh anggota komunitas, bahkan masyarakat sekitar. Pemerintah pun mengulurkan tangan secara konkrit melalui kerja sama seperti pengadaan benih sayur, penyediaan pupuk organik, penanaman jagung komposit jenis Lamuru, penyediaan benih kopi arabika yang ditanam pada lahan seluas 2 hektare, dan bantuan alat pertanian, seperti traktor roda empat.

Para Siswa adalah Pelaku

            Budidaya pertanian sudah lama dikembangkan di Mataloko sejak zaman para misionaris, bahkan sebelum seminari didirikan, yakni tahun 1922,            ketika Br. Gallus v.d. Lith menanganinya. Di tangan para misionaris SVD ini, Mataloko dikenal sebagai daerah penghasil sayur dan ternak. “Peternakan berkembang, sudah ada mentega dan susu, kebun menghasilkan berbagai macam sayur, 2 kali setahun kami panen kentang, juga kami tanam gandum”, tulis P. Ettel, SVD pada tahun 1926 (Sejarah Gereja Katolik Indonesia, 3b, hal. 1180).

            Bedanya saat ini pelaku budi daya pertanian adalah para siswa sendiri. “Setiap kelas atau kelompok mendapat giliran satu jam sehari bekerja di kebun”, tutur Rm. Sil Edo, Pr. Dengan bekerja di kebun para siswa belajar mengembangkan kecintaan pada pertanian dan lingkungan. “Banyak siswa terampil berkebun, bahkan terampil membuat pupuk organik seperti bokasi”, katanya. Rm. Sil yakin, kecintaan pada tanah membantu para siswa merawat panggilannya (Nani).

Comments are closed.