MEMILIH TONTONAN YANG EDUKATIF, BAGIAN DARI IMAN

(Lembaga Sensor Film Kunjungi SMA Seminari Mataloko)

 Film bukan hanya sekadar tontonan, lebih dari pada itu, film menjadi sarana ampuh guna menuntun diri pada kebaikan. Film seharusnya menjadi tuntunan dan bukan hanya sekadar bahan tontonan.

SMA Seminari Mataloko dikunjungi tiga tamu istimewa dari daerah ibu kota, Jakarta, Sabtu (28/7/2018). Mereka adalah Drs. Imam Suhardjo, HM, M.IKom,  Dra. Albina Anggit Anggraini, SH, dan Ana Yugo Prasetya, SH, utusan dari Lembaga sensor Film (LSF) Indonesia, yang datang untuk mensosialisasikan “Budaya Sensor Mandiri di Kalangan Pendidikan”.

RD. Beny Lalo dalam sapaan awalnya mengungkapkan terima kasih kepada tim LSF yang sudi memilih Seminari Mataloko menjadi lembaga pendidikan pertama di Flores yang dikunjungi. “Saya belum pernah mendengar sebelumnya bahwa LSF pernah datang berkunjung ke salah satu tempat di bumi Flores. Karena itu, mewakili pimpinan Seminari Mataloko, saya mengucapkan selamat datang dan terima kasih karena telah memilih Seminari Mataloko menjadi  tempat pertama yang dikunjungi,” ungkapnya. Lebih lanjut, RD Beny Lalo, menjelaskan gambaran umum sekolah Seminari Mataloko dan jumlah seminaris yang ada sekarang.

Mengenai entusiasme seminaris dalam mengikuti kegiatan ini, terpantau bahwa animonya sangat tinggi, terbukti ruangan yang disiapkan sesak dipenuhi seminaris mulai dari KPB Hingga kelas XII. Hadir pula dalam kegiatan ini para frater TOP pendamping dan RD. Nani Songkares

Film: Tontonan atau Tuntunan

Penting bagi Masyarakat Indonesia untuk memilah dan memilih film mana yang layak untuk ditonton sebab pasalnya tidak semua konten dalam film layak dikonsumsi khalayak dari semua kategori usia.

Imam Suhardjo, Ketua Komisi 1 Lembaga Sensor Film, menjelaskan bahwa terdapat beberapa konten dalam film yang tidak layak ditonton dan karenanya harus disensor oleh LSF Indonesia. Konten yang dilarang umumnya sarat akan pornografi, kekerasaan/judi/narkoba, provokasi SARA, pelecehan nilai-nilai agama dan yang merendahkan martabat/harkat manusia.

Ia menambahkan, sebagai tanda layak beredar, semua film yang ada di tanah air, pertama-tama harus mendapat Surat Tanda Lulus Sensor (STLS)  dari Lembaga Sensor Film Indonesia. Karena itu, ia memberi awasan agar hanya menonton film yang telah memperoleh surat izin. Sensor atas film menjadi sangat urgen dengan tujuan agar konten dalam film tidak bertentangan dengan ideologi Pancasila dan UUD 1945, tidak menunjukkan perbuatan yang tercela, tidak melakukan perbuatan melawan hukum dan tidak merusak kerukunan hidup antarumat beragama di tanah air.

Bapak Imam menyadari bahwasannya, pribadi-pribadi yang menangani Sensor Film tidak pernah luput dari kesalahan. “Mengingat kami yang bekerja di LSF bukanlah pribadi yang sempurna, dan karena itu, ada beberapa materi dalam film yang tidak sempurna untuk disensor, maka saya mengajak insan muda sekalian untuk menggalakkan usaha sensor mandiri,” jelasnya.

Adapun kegiatan sensor pribadi amat mengandalkan kedewasaan pridadi dan kelompok dalam memilih film yang layak ditonton. Sensor pribadi menjadi sangat penting mengingat tidak semua film yang tersebar di dunia virtual telah disensor oleh Badan Sensor Film Indonesia. Dengan melakukan sensor pribadi, maka film bukan sekadar menjadi bahan tontonan melainkan materi tuntunan khususnya bagi anak-anak dan remaja.

Sosialisasi yang Komunikatif lagi Inspiratif.

 Imam Suhardjo, sebagai pembicara utama dalam sosialisasi kali ini, mengajak seminaris untuk berpikir dengan menjawabi beberapa pertanyaan yang disodorkan. Ajakan ini ditanggapi dengan antuasiasme yang luar biasa dari para seminaris. Tak sedikit dari mereka mengacungkan tangan dan beberapa kali menjawabi pertanyaan yang disodorkan. Setiap jawaban yang benar diberi hadiah berupa gelas dan payung yang bertuliskan LSF.

 “Saya tertarik untuk menjawabi pertanyaan karena mau mendapatkan hadiah yang menarik. Siapa tahu saya bisa dapat gelas atau payung,” sela Yones, seminaris kelas XI IIS di sela-sela  pertemuan.  Suasana dalam ruangan pertemuan menjadi kian riuh ketika banyak seminaris yang “berebutan” menjawab pertanyaan yang diajukan  Imam. Pada kesempatan yang sama, beberapa seminaris mengajukan pertanyaan perihal LSF dan kiprahnya di tanah air.

Imam, Albina, dan Yugo mengapresiasi semangat yang luar biasa ini. Para seminarispun mengapresiasi materi yang disiapkan dan jalannya sosialisasi. “Bagi saya, kegiatan sosialisasi kali ini begitu menarik selain karena materinya yang bagus, cara penyampaiannya pun  beda sehingga tidak membosankan,” kata Firmus, seminaris kelas XII IIS. Firmus juga menambahkan bahwa pembicara kelihatannya sangat energik dan energi yang sama mengalir kepada audiens sehingga meskipun sudah malam, mereka tidak mengantuk.

Sosialisasi Sensor Film Mandiri pada akhirnya,  menyadarkan seminaris agar lebih selektif lagi dalam memilih tontonan dan memastikan bahwa tontonan (baca: film) sudah mendapat Surat Tanda lulus sensor dari LSF sebab memilih tontonan yang baik adalah bagian dari kedewasaan iman.

 Edukasi Melalui Film

 Film yang baik adalah film yang berdaya edukatif. Tidak semua film memilki daya seperti ini. Karena itu, di akhir pertemuan, kepada audiens,  ditayangkan sebuah film inspiratif yang diangkat dari keutamaan budaya NTT yang amat menjunjung tinggi nilai toleransi agama. Film yang dibintangi oleh aktris ternama Laudya Cintya Bella itu berjudul “Aisya, Biarkan Kami Bicara.”

Film ini berdurasi lebih dari satu jam dan  mengisahkan Aisya, seorang guru Muslim yang berkarya di sebuah daerah terpencil di NTT. Perjuangan Aisya untuk meyakinkan masyarakat setempat akan nilai agama yang memersatukan dan kerelaan masyarakat untuk menerima Aisya yang berbeda sebagai saudara mereka, menjadikan film ini menarik dan sarat emosi, “Aisya adalah gambaran tokoh Muslim yang solider dan sosok yang inspiratif. Dari Aisya saya belajar bagaimana kasih yang tanpa pamrih, mengasihi bukan karena orang lain sama melainkan karena ia berbeda dari saya. Kasih menjadi pesan yang kuat yang saya dapat dari film ini,” aku Bryan, Ketua OSIS SMA Seminari Mataloko.

Film ini mengajarkan bahwasannya keberagaman agama di Indonesia adalah kenyataan yang terberi. Manusia Indonesia entah itu orang Jawa ataupun orang NTT, entah itu Muslim atau Kristiani, tiada bedanya. Semua rakyat Indonesia sama dan bersaudara. Film “Aisya Biarkan Kami Bicara” menjadi prototipe dari film Indonesia yang berdaya edukatif. Masyarakat Indonesia dan siswa seminari Mataloko khususnya harus berani mengambil sikap untuk memilih bahan tontonan yang mendidik seperti ini. Mengingat arus komunikasi dan internet yang semakin tak terkendali, maka sensor mandiri menjadi hal yang mutlak diperlukan insan intelektual lagi beriman dewasa ini.

Di penghujung pertemuan, pihak LSF memberikan cinderamata berupa buku Bunga Rampai 100 Tahun Sensor Film di Indonesia. Memasuki Abad Kedua, plakat dan sertifikat kepada lembaga seminari sebagai tanda terima kasih atas kerja sama yang baik demi terselenggaranya sosialisasi malam hari ini. Selain itu kepada seminaris diberikan juga buku panduan Sensor Film Mandiri sebagai pedoman literasi film.

Fr. Deni Galus, SVD

SIDANG KOMITE SEMINARI MATALOKO AWALI TAHUN PELAJARAN 2018/2019

Lembaga pendidikan calon imam SMP/SMA Seminari St. Yohanes Berkhmans Todabelu Mataloko membuka tahun pelajaran 2018/2019 dengan menggelar sidang komite yang dilaksanakan pada Sabtu (21/7/18). Sidang yang dihadiri oleh ratusan orang tua/wali seminaris ini membahas beberapa hal di antaranya laporan pertangggungjawaban penyelenggaraan pendidikan  Seminari pada periode yang lama sekaligus membahas Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Seminari.

Praeses Seminari, Rm. Gabriel Idrus, Pr dalam sapaan awalnya menegaskan bahwa pertemuan komite adalah program rutin tahunan yang diselenggarakan Seminari sebagai bentuk tanggung jawab pihak pengelola Seminari dan orangtua pada penyelenggaraan pendidikan calon imam. Pertemuan komite baginya adalah kesempatan emas bagi orang tua untuk merapatkan barisan dan berbagi sukacita di antara mereka. “Bagi saya, Selain sebagai acara rutin tahunan, sidang komite juga menjadi sarana bagi para orang tua untuk merapatkan barisan, tempat berbagi cinta satu sama lain, demi gereja, demi anak-anak kita (baca: seminaris) dan pada akhirnya berkiblat pada tegaknya Kerajaan Allah di dunia ini,” demikian Rm. Gabriel Idrus, Pr memberi penegasan di awal pertemuan.

Lebih lanjut, Praeses yang sekaligus kepala SMA seminari ini menyebutkan bahwasannya, semua yang dikerjakan orang tua dan semua yang diusahakan dalam rahmat Tuhan selama ini dan di masa yang akan datang, turut membantu anak-anak untuk senantiasa selalu bertumbuh dan merawat panggilan mereka.

Merawat Panggilan

Pendidikan Seminari pada hakikatnya mengarahkan calon imam untuk mencintai panggilan dan mengusahakan pertumbuhannya. Keseluruhan proses formasi sebenarnya berjalan ke arah ini. Karena itu, bagi Rm. Beny Lalo, Pr, pembinaan di seminari memberikan kekhasan justru karena ia memperhatikan bukan hanya aspek intelektual melainkan perkembangan kepribadian secara keseluruhan.

Adapun proses pendampingan seorang calon imam di seminari Mataloko berlangsung selama 24 jam dengan memperhatikan beberapa aspek formasi seperti Sanctitas (kerohanian), Sapientia (kebijaksanaan), Scientia (pengetahuan), Sanitas (kesehatan) dan Socialitas (berjiwa Sosial). Seluruh aspek pembinaan yang ada merupakan kontekstualisasi  dari 12 living values yang dibentuk oleh PBB sebagai nilai dasar kehidupan di antara sesama manusia. Melalui lima aspek formasi yang ada, seminaris yang memberikan dirinya untuk dibentuk di Seminari Mataloko ditempa agar kini dan kelak dapat menjadi pribadi yang cinta damai, rendah hati, penuh kasih sayang, berjiwa toleransi dan memiliki spirit penghargaan, Kejujuran, kerja sama, tanggung jawab serta kesederhaan untuk berbagi dalam persahabatan. Pembinaan di seminari pada prinsipnya menekankan asas kebebasan demi sebuah kebahagiaan pribadi dan sesama.

Lima aspek formasi atau yang sering disingkat menjadi 5S ini berjalan seimbang dalam satu hari kehidupan seorang seminaris pada panti pendidikan calon imam Seminari Mataloko mulai dari bangun pagi hingga istirahat malam. Untuk itu, seminaris bukan hanya belajar dalam ruangan melainkan keluar dan mengakrabkan diri pada tanah yang memberikan kehidupan. “Belajar merawat tanah juga menjadi kesempatan bagi seminaris untuk mencintai panggilannya sendiri. Sebagaimana tanah akan subur ketika dijga dan dipelihara, demikianpun halnya dengan panggilan hidup seorang calon imam akan tumbuh dengan subur jika dirawat dan disiram dengan air rohani,” demikian Romo Sil Edo, Pr menambahkan.

Anggaran Pendapatan dan Belanja Seminari

Sidang Komite ditutup dengan pengesahan Rancangan anggaran Pendapatan dan Belanja Seminari. Adapun Penyusunan Rancangan APB seminari mengacu pada Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga Komite Sekolah SMP dan SMA Seminari. AD dan ART tersebut didasarkan pada  Permendikbud No. 75 tahun 2016 tentang Revitalisasi Komite Sekolah dan mempertimbangkan Perpres No. 87 tahun 2016 tentang aturan Pungli.

Rapat pengesahan anggaran dipimpin langsung oleh ketua Komite Seminari Mataloko, Yohanes C.W. Ngebu. Bapak Yohanes menggarisbawahi pentingnya kontribusi komite dalam pembangunan seminari. Setelah dipertimbangkan secara bersama, dan atas izin anggota komite, maka Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Seminari kemudian disahkan dan ditetapkan menjadi APBS untuk digunakan selama satu tahun pelajaran yang akan datang. Sidang komite akhirnya ditutup oleh Praeses seminari.

Dalam kata penutupnya,  Praeses Seminari meminta bantuan doa dan dukungan dari komite sekolah, “Di hari-hari yang akan datang, ada banyak rencana besar yang akan dilakukan oleh Seminari. Karena itu, kami meminta partisipasi dari orangtua untuk masuk dalam irama yang sama dan marilah kita saling membantu dan doakan untuk kerja-kerja besar di hari-hari  yang akan datang,” ungkapnya.

Fr. Deni Galus, SVD

MENULIS: TERAPI YANG DAHSYAT

Pe­­­­­nulis itu i­ba­­­rat se­­­o­rang dokter yang me­nyem­buh­­­kan pa­sien (di­­ri­nya dan o­rang lain) de­ngan o­bat terapi yang ber­na­­ma tu­lisan. Re­sep­­­nya: me­­­­­­­nulis se­tiap saat.

Sekelompok sis­­wa SMA Se­­minari Ma­ta­­lo­ko berbincang dengan ba­­pak Ferdinandus Loke, ketua re­dak­si SA­DHA­NA, majalah bulanan Komisi Pembangunan Sosial Ekonomi Konferensi Wali Gereja Indonesia (PSE-KWI) Jakarta, Ra­bu ­(04/04/18) di English room Seminari. Alum­nus Seminari yang ke­rap disapa Edy ini berbagi pengalaman dan inspirasi bagi sejumlah seminaris tentang dunia tulis-menulis.

Pertemuan sing­kat ter­sebut mence­rah­kan se­mi­naris akan pen­ting­nya menulis. Dikisahkannya, pada mu­lanya karangan yang dibuatnya tidak dimuat dalam majalah-majalah yang dikirimnya. Na­mun, karena sikap pan­tang menyerah serta ke­gigihannya, ia men­jadi sa­lah satu o­rang yang sukses karena menulis. “Awalnya tak sekalipun bakat menulis nampak dalam diri saya. Namun, dengan pem­bia­saan diri, kita menjadi mampu. Ala bisa karena biasa”, papar Edy.

Menyembuhkan

Banyak infor­ma­si dan pengalaman ter­sim­pan da­­lam memori se­­tiap o­rang. Memori ter­­­­­­sebut mem­bentuk kom­­­­­­­plek­si­tas yang kuat se­hing­ga menjadi beban pikiran. “Pikiran kita di­pe­­nuhi de­ngan hal-hal ruwet yang kita terima dari pe­ris­tiwa hidup ki­ta. Se­ca­ra medis, keru­we­­tan ter­sebut bisa membawa beban, seperti frustasi, misalnya, yang pada gilirannya mendatangkan penyakit,”, jelas Edy.

Ia melanjutkan, “salah satu cara mengurai pikiran yang bertumpuk adalah me­­­­­­­­­­­nu­lis. Saat me­nu­lis, ki­ta me­­ra­pikan pi­ki­ran ruwet kita, membuatnya jadi teratur.”  Hal tersebut diakui Rm. Nani Songkares, Pr, teman kelas Edy di seminari, yang turut hadir dalam bincang-bincang tersebut. “Menulis itu menyembuhkan. Itu salah satu kesimpulan yang bisa ditarik dari pembicaraan pak Edy. Kita be­run­­tung didatangi oleh o­rang seperti pak Edy yang berpengalaman da­lam bidang tu­lis­-me­nu­lis, dan beliau sendiri sudah merasakan daya penyembuhan sebuah tulisan”, ujarnya.

Inspirasi Kehidupan

“Penulis hebat adalah mereka yang bisa me­manfaatkan apa dan siapa pun sebagai inspirasi  bagi tulisan me­reka”, kata Edy. Menurutnya, orang yang men­jadi inspirasi tulisan disebut nara­sum­ber ke­hi­dupan, se­ka­lipun itu adalah se­o­rang nenek tua mis­kin yang bekerja keras a­tau anak kecil yang be­gitu naif. Banyak hal yang sederhana berubah menjadi sesuatu yang luar biasa di ujung pena seorang penulis.

Ia mencontohkan, seorang pe­nu­­­lis hebat seperti An­drea Hirata me­mu­lai tulisannya dari pe­nga­laman sederhana semasa kecil te­tapi berilham bagi ba­­nyak orang. Dia mengolah pengalamannya menjadi novel berjudul Laskar Pelangi yang mentransformasi kehidupan orang lain.

Laskar Pelangi adalah novel pertama dari tetralogi buah pena Andrea Hirata. Dalam novel tersebut, pengalaman belajar di sebuah sekolah sederhana di Belitung disajikan sebagai tulisan yang banyak mengubah orang. Ada mahasiswa yang terlibat narkoba disembuhkan setelah membaca novel ini. Ada dokter gigi yang tak mau berputus asa, walaupun belum mendapat pekerjaan. Semangat pantang menyerah itu ditimbanya dari novel Laskar Pelangi.

 “Kita me­nulis  un­tuk orang lain. Jadi, apa yang ki­ta tulis harus di­pa­hami dan berdam­pak bagi orang lain. Kita tak per­lu meru­mit­kan tu­li­san kita dengan ka­ta-kata yang tinggi, me­­lainkan cukup de­­ngan tulisan sederhana, tetapi menarik dan menggugah pembaca. Keterampilan tersebut tidak datang begitu saja, tetapi melalui latihan yang tekun disertai semangat membaca yang tinggi,” ujarnya memotivasi siswa.

Edy melanjutkan, dengan menulis, kita dikenali banyak orang, sekalipun kita tidak mengenal mereka. “Saya banyak berjumpa dengan orang-orang yang tidak saya kenal, yang merasa tergugah oleh tulisan saya. Ada kebahagiaan tersendiri ketika mereka telah mengetahui saya melalui tulisan, saat saya menyebutkan nama. Menulis itu menembus batas ruang dan waktu.”

Kalimat te­ra­khir­­nya membangkit­kan se­ma­ngat para se­minaris yang hadir un­tuk se­gera terjun ke dalam dunia tulis menulis. Ti­dak sia-sia me­mang kedatangan so­sok asal Je­rebu’u ini. Ka­ta­-ka­tanya membuat se­mi­na­ris saat itu terpikat dan tergerak untuk terjun menulis.  “Luar biasa. Sung­­guh memberi banyak dorongan bagi saya untuk menulis”, tu­tur Jordy Mu­ga (17), siswa kelas XI, salah satu peserta pertemuan itu.



Peserta Pelatihan Menulis Membludak

Usai perbincangan yang inspiratif itu, OSIS SMP dan SMA Seminari menyelenggarakan pelatihan menulis, yakni Senin-Jumat (9-13/4/2018) untuk siswa SMP, dan Jumat-Minggu (13-15/4/2018) untuk siswa SMA. Pelatihan ini dibuat berkenaan dengan kegiatan Ujian Sekolah Bersandar Nasional (USBN) di SMP dan Ujian Nasional (UN) di SMA, di mana banyak ruang kelas di SMP dimanfaatkan untuk USBN, dan beberapa guru SMA menjadi pengawas ujian sehingga tidak bisa memroses pembelajaran.

Pelatihan yang sedianya diberikan hanya kepada 25 siswa peminat dari masing-masing jenjang dihadiri lebih dari seratus siswa, masing-masing 55 siswa SMP dan 50 siswa SMA. Kegiatan tersebut dipandu para guru bahasa di Seminari, yakni Rm. Nani Songkares, Pr, P. Anton Waget, SVD (guru bahasa Inggris), Rm. Alex Dae Laba, Pr (guru bahasa Indonesia), dan Rm. Sil Edo, Pr, selaku prefek/pamong SMP. Para formator itu dibantu para guru SMP dan para frater yang menjalani praktik pastoral di Seminari.

Hasil pelatihan tersebut adalah penerbitan “Koran” majalah dinding bercorak rubrik yang diperkenalkan sejumlah wartawan senior Kompas pada pelatihan menulis 2011 silam. Koran Kompas, demikian para siswa biasa menyebutnya, menghiasi sejumlah besar majalah dinding di emperan kamar makan SMP dan SMA, dengan ragam tulisan berupa berita, kisah inspiratif, dongeng dan cerpen. Berbagai topik seputar seminari dan kehidupan para seminaris disajikan.

Pelatihan berikutnya direncanakan Rabu-Minggu (9-13/5/2018) untuk para peminat yang belum sempat mengikuti kegiatan pelatihan April silam.

Kehadiran para penulis seperti Maria Matildis Banda beberapa waktu lalu berdampak amat besar. Para penulis alumni seminari juga menyulut api menulis yang luar biasa. Frans Padak Demon, dan Edy Loke adalah dua penulis alumni seminari yang baru-baru ini berbagi pengalamannya kepada para siswa. “Kita sangat mengharapkan para alumni, para penulis lain singgah dan memberi pencerahan bagi para siswa kita”, kata Rm. Beni Lalo, Pr, prefek/pamong SMA (Penulis: Piere Ralph, Doni Mere – siswa SMA kelas XI. Editor: Nani).

PRAMUKA: “BANGUN KEMAH, BANGUN KADER ZAMAN NOW”

Pramuka (Praja Muda Karana) adalah kegiatan ekstrakurikuler rutin yang diterapkan di Seminari Mataloko. Kegiatan Pramuka siswa SMPS Seminari Mataloko selalu dijalankan setiap hari Jumat pukul 15:00-16:45 yang diisi dengan kegiatan-kegiatan yang telah terprogram. Kegiatan Pramuka pada hari Jumat (16/03) yaitu: latihan membangun kemah secara kreatif dengan menggunakan terpal dan tali Pramuka.

Cuaca panas dan rasa “kantuk” tidak menyurut semangat para siswa untuk berlatih. Kegiatan Pramuka hari ini adalah membangun kemah dari terpal. Kegiatan itu bertujuan supaya seminaris tetap bisa berkreasi di tengah zaman yang disebut “zaman now” ini. “Latihan membangun kemah menggunakan terpal ini melatih kreasi teman-teman agar tidak hanya menggunakan kemah jadi, melainkan kita pun bisa membangun kemah dari terpal,” ujar Gusto Nanga salah satu anggota Pramuka SMPS Seminari.

Latihan itu dihadiri oleh Pelatih Pramuka andalan Seminari yaitu Kak Anton. Beliau selalu memberi semangat bak “bumbu pedas” supaya seminaris tidak putus asa. Di sela-sela kegiatan itu Kak Anton menjelaskan proses dan cara kerja. Beliau katakan bahwa latihannya sangat mudah dengan cara membuat simpul pada setiap lubang di terpal lalu ikatkan tali sisa pada kayu tonggak lalu membentuk segi tiga.

SPORTIF DAN KERJA KERAS 

Pembangunan kemah dari terpal ini tidak hanya melatih adik-adik dan teman-teman untuk membangun kemah secara kreatif. Tetapi kegiatan seperti ini dapat membentuk seminaris menjadi seorang pekerja keras. Selain itu, pembangunan kemah dalam kegiatan Pramuka ini juga dapat menumbuhkan semangat sportifitas di antara mereka. Setiap regu dipacu untuk membangun kemah secara baik, cermat, dan cekatan. Oleh karena itu, kekompakan dan kerja sama merupakan hal yang harus ada dalam diri setiap peserta (anggota regu). “Mereka harus tetap sportif dan memiliki jiwa kerja keras. Dan masing-masing anggota di setiap regu tentunya memiliki barang bawaan masing-masing (yang diperlukan) sehingga tidak repot dalam kelompok!” ujar Kak Anton Ndiwa.

PENERAPAN DI ASRAMA

Kerapian, kerja keras dan kecekatan seminaris dalam setiap kegiatan Pramuka itu membantu mereka dalam menjalani hari-harinya di asrama. Di asrama mereka dibentuk dan membentuk diri lebih lanjut supaya menjadi pribadi yang disiplin, tanggung jawab, dan sportif. Sikap-sikap tersebut nyata dalam keseharian hidup mereka, mulai dari bangun tidur pagi pukul 04:30 sampai tidur malam pukul 21:15. Misalnya, mereka harus disiplin dan cekatan ketika harus bangun pagi, cuci muka-mandi, rapikan tempat tidur, dan kemudian menuju Kapela untuk berdoa dan merayakan Ekaristi. Beberapa kegiatan rutin pagi itu dijalani dengan disiplin yang tinggi dalam waktu 45 menit. Inilah buah-buah sederhana yang bisa langsung dirasakan oleh para seminaris SMP. Oleh karena itu, jelas bahwa kegiatan Pramuka itu penting dan harus diteruskan. (Yoga Kedang (IX A)/ Editor: Fr. Louis Watungadha).

MEDIA: WHY MATTERS?

MEDIA: WHY MATTERS?
Bincang-Bincang bersama Frans Padak Demon

Siswa SMA Seminari Mataloko mengadakan bincang-bincang bersama Frans Padak Demon, Independent Consultant Voice of America (VOA), di Ruang Musik SMA, Rabu (4/4). Kegiatan 2 jam yang berlangsung seusai makan malam tersebut menjadi nostalgia tersendiri buat alumnus yang terdaftar sebagai siswa seminari tahun 1969 itu. “Saya terakhir kali berada di sini tahun 1975”, kenangnya. “Di SMP Seminari dulu, saya memulai Mading BIAS (Bimbingan Aspirasi Siswa)”.

Pertemuan tersebut menarik perhatian para seminaris, terutama ketika Frans berbagi pengalaman malang melintang di dunia jurnalistik dalam maupun luar negeri seperti, antara lain, di Harian Merdeka, Jurnal Ekuin, Harian Prioritas, The Mainichi Shinbun, Metro TV, NHK Radio & TV dan VOA.

“Reporter dan seorang imam terpanggil menjadi pembawa berita”, ujar penerima beberapa beasiswa luar negeri seperti di Jepang, Swedia dan Amerika tersebut. Sebagaimana seorang imam mewartakan kebenaran, “kewajiban pertama jurnalisme adalah memberitakan kebenaran”, tandasnya.

Itu sebabnya, jurnalisme yang baik cover both sides, seimbang, tidak berat sebelah. Demi menjamin kebenaran dalam pemberitaan, “seorang jurnalis perlu memiliki disiplin dalam melakukan verifikasi, mengecek dan terus mengecek kebenaran informasi”, lanjutnya, seraya menyebutkan 10 elemen utama jurnalisme, mengutip pendapat Bill Kovack dan Tom Rosentiel.

Frans banyak berbagi pengalamannya menahkodai VOA. Berbagai video tentang VOA ditayangkan. Video-video tersebut mengungkapkan kreativitas pemberitaan VOA, juga kecintaan masyarakat terhadap stasiun TV dan Radio itu. “VOA dicintai masyarakat karena kedalaman isi, dan integritas pemberitaan”. Frans adalah satu-satunya Direktur VOA penerima Gold Medal Award dari pemerintah Amerika Serikat, karena keberhasilannya memimpin stasiun TV dan Radio yang berpangkal di Amerika.

Media Penting

Di tengah banjir informasi yang dahsyat, di mana setiap warga bebas memberitakan apa saja lewat media-media sosial termasuk kebohongan, Frans menegaskan pentingnya media yang berintegritas dan berlandaskan kebenaran.

Media yang berintegritas itu “seperti cahaya di antara banjir berita, cahaya yang menerangi masyarakat. Masyarakat membutuhkan informasi yang benar. Informasi yang salah dapat menimbulkan pengambilan keputusan yang salah di tengah masyarakat”, tegasnya.

Frans mengutip tujuan pemberitaan seperti dikatakan Bill Kovack dan Tom Rosentiel, yakni menyediakan informasi yang diperlukan agar orang bebas dan bisa mengatur diri sendiri. Untuk itu berita harus berlandaskan kebenaran. “Bayangkan kalau berita itu salah atau menyesatkan, masyarakat jadi kacau. Yang sama kan, kalau imamnya memberitakan yang salah, ya umatnya masuk neraka”, candanya memicu gelak tawa.

Lebih jauh dikatakan, berita yang baik dan benar menimbulkan kepercayaan, trust, di tengah masyarakat. Kepercayaan amat penting dalam pewartaan. “Karena itu kita harus menghindari laporan tidak berdasar yang hanya mencari sensasi. Kalau content-nya bagus dan benar, kita tidak perlu membuat iklan, tidak perlu mencari pembelaan, masyarakatlah yang membela kita”, bebernya.

Selanjutnya, Frans menegaskan pentingnya memanfaatkan media digital bagi pewartaan. Dibeberkannya, pengguna HP saat ini mencapai 91 persen penduduk dewasa Indonesia, dan dari jumlah itu, 60 persen menggunakan Smartphone. Selain itu, 79 persen penduduk memanfaatkan internet setiap hari. Mengenai sikap terhadap media digital, 71 persen pengguna memandangnya positip. Ini peluang yang patut digunakan untuk pewartaan. Gereja perlu memanfaatkannya.

“Saya kira penting sekali kita masuk ke dalam media digital. Pewartaan saat ini tidak cukup dilakukan melalui mimbar. Paus Fransiskus saja aktif setiap hari melalui Twitter”, ungkapnya, sambil menampilkan cuitan terkini dari Paus Fransiskus mengenai Paskah. “Setiap hari saya mengikuti cuitan Paus”.

Frans menegaskan, pewartaan melalui media digital menjangkau sejumlah besar umat, dan mereka dapat mengaksesnya kapan dan di manapun. “Pewartaan melalui kertas tetap penting, tapi kertas entah dalam bentuk Harian, Majalah atau buku itu mahal, sedangkan pewartaan media digital dilakukan melalui udara, karena itu murah dan menjangkau banyak orang”, katanya.

Frans mengapresiasi peluncuran website seminari. “Itu keputusan yang tepat. Saya berharap siswa dilibatkan. Tadi saya membaca tulisan mereka di Mading. Content-nya bagus. Sayang kalau tidak dibaca banyak orang. Dengan melibatkan banyak siswa, setiap waktu kita dapat meng-update informasi melalui website”. Frans menganjurkan, website dilengkapi content bercorak audio, berupa renungan, misalnya, yang dapat diperbaharui setiap waktu (Penulis: Mario Degho. Editor: Nani).

WhatsApp Image 2018-03-03 at 00.08.55

VISITASI: RUTINITAS PENUH MAKNA

Begitu lonceng berakhirnya waktu sekolah berbunyi, para siswa seminari berbondong menuju kapel sebelah utara kompleks SMA.  Keheningan menyeruak dalam setiap dinding kapel. Masing-masing seminaris berlutut di bangku yang sudah diperuntukan bagi mereka. Inilah kegiatan visitasi yang rutin dijalankan seminaris setiap hari: berdoa dalam keheningan.

Visitasi berasal dari bahasa Latin visitare yang artinya mengunjungi. Visitasi adalah kegiatan rutin harian yang dilakukan seminaris berupa kunjungan kepada Sakramen Maha Kudus, guna mengucapkan terima kasih kepada Tuhan atas setengah hari yang telah lewat, dan meminta berkat untuk setengah hari yang akan dihadapi. Visitasi diadakan setiap hari pukul 13.10 pada hari sekolah dan pukul 12.00 pada hari Minggu atau hari libur.

Kadang-kadang sebagai ganti visitasi, siswa memanfaatkannya untuk berdoa di depan gua Maria yang berjarak 30 m ke arah selatan kapela. 

Penuh Makna

 “Visitasi itu sangat bermanfaat bagi saya. Setelah memeras otak di jam-jam pembelajaran di kelas, kita bisa menjernihkan otak kita dengan berdoa dalam keheningan. Kita mempersembahkan segala yang kita lakukan, dan menyerahkan apa yang akan terjadi pada Tuhan”, kata Bryan Beka, ketua OSIS SMA Seminari, saat ditemui pada Minggu (18/03/2018) usai kegiatan visitasi.

“Dalam visitasi kita merenungkan kegiatan yang telah dilakukan, agar kita tidak melakukan kesalahan yang sama di hari-hari ke depan”, ujar Martino Djong, siswa kelas X dari Maumere.

Visitasi memang berguna bagi seminaris. Banyak dari mereka terbawa suasana keheningan, yang sangat membantu perkembangan hidup rohani. Tanpa keheningan, orang tak dapat merenung dan berefleksi dengan baik, orang tak dapat menyampaikan keluh kesah di hadapan Tuhan. Padahal dengan menyampaikan keluh kesah, hati kita menjadi lega.

Dengan kemudahan teknologi saat ini, orang dapat mencari hiburan dengan berselancar dalam dunia maya dan tenggelam dalam media-media sosial. Hal tersebut tidak dilakukan oleh para seminaris. Sebagai gantinya, mereka melakukan visitasi.

“Visitasi adalah saat jeda, saat beristirahat dalam Tuhan”, tandas Rm. Benediktus Lalo, Pr, Prefek SMA, saat dimintai komentarnya mengenai kegiatan tersebut. “Di saat kita merasa lelah dan tak berdaya, Tuhan hadir dan membantu. Kalau para siswa terbiasa melakukan hal ini setiap hari, mereka pasti akan merasakan manfaatnya di dalam hidup. Mereka akan menjadi kuat saat mengalami tantangan dan krisis”, lanjutnya.

Visitasi adalah saat kita mendengarkan panggilan Tuhan yang berseru, “Marilah kepadaKu kamu semua yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan memberikan kelegaan kepadamu” (Mat.11:28).

Sebagai kegiatan rohani yang dilakukan setiap hari, visitasi dapat menjadi rutinitas. Tapi kalau dijalankan dengan sungguh, visitasi menjadi rutinitas penuh makna (Penulis: Carlos Feto. Editor: Nani).

RATUSAN SISWA IKUTI TESTING MASUK SEMINARI

Ratusan siswa SD di Kabupaten Ngada dan Nagekeo mengikuti testing masuk seminari hari Jumat-Sabtu (16-17/3/2018) di SMP seminari. Kegiatan rutin tahunan tersebut terbagi dalam dua sesi, yakni tes wawancara dan tes tertulis, masing-masingnya berlangsung sehari.

“Kita patut bersyukur pada Tuhan karena dari tahun ke tahun banyak anak terpanggil untuk menjadi imam. Motivasi panggilan akan terus dimurnikan melalui proses pendidikan di seminari. Terima kasih karena orangtua masih mempercayakan anak-anak kepada kami untuk dididik di sini”, kata Rm. Benediktus Lalo, Pr, ketua Panitia Penyelenggara Testing, ketika memberikan pengarahan awal hari pertama.

Kurikulum Seminari

Dalam pengarahan tersebut Rm. Beny menggambarkan secara umum kurikulum seminari yang berintikan lima S (sanctitas, scientia, sapientia, sanitas, socialitas) yang telah dikembangkan sejak awal berdirinya, dan karena itu tahan uji. “Di tengah kekacauan orientasi moral yang melanda masyarakat kita, di seminari kita tetap menjalankan pendidikan hati nurani. Itulah sapientia”, ujarnya, menjelaskan salah satu dari lima S tersebut.

Kurikulum tersebut terejawantah dalam aturan harian yang menata kehidupan seminaris dari waktu ke waktu, mulai bangun pagi pukul 4.30 sampai tidur malam jam 21.30.  “Setiap detik dimanfaatkan untuk proses pendidikan”, katanya. Dengan demikian masing-masing kegiatan ada waktunya. “Termasuk ada waktu untuk keheningan. Pagi hari setelah Misa, kalian harus melakukan berbagai aktivitas dalam keheningan. Bisa?”, tanyanya kepada peserta testing, yang segera dijawab lengkingan penuh semangat, “Bisaaa!” “Juga ada waktu untuk kerja tangan, untuk  bekerja di kebun. Bisa?” “Bisaaa!!”

Opus Manuale

Sehubungan dengan kerja tangan, di Englishroom seminari, Rm. Beny lebih jauh menjelaskan, tanah adalah salah satu unsur penting pendidikan. “Anak harus bersentuhan dengan tanah, karena dari tanah anak belajar nilai-nilai”, katanya, sambil menyebutkan ungkapan opus manuale – kerja tangan – , sebuah konsep tua, yang terasa makin redup dalam proses pendidikan kita. “Bukan kerja tangannya yang menjadi fokus, tetapi semangat yang bisa ditimba dari situ, yakni pengorbanan, kerendahan hati, kerja keras, tanggungjawab, yang bisa siswa dapatkan saat berkontak dengan tanah”.

Pendidikan Karakter yang Kental

Dari beberapa wawancara yang dilakukan bersama orangtua siswa di hari kedua, terungkap kepercayaan terhadap seminari Mataloko bukan tanpa alasan. Pembentukan karakter menjadi salah satu penggerak utama mereka. “Orang pintar banyak, tetapi orang pintar dengan karakter yang bagus jarang. Karena itu pendidikan karakter sangatlah dibutuhkan,” kata Benediktus Naru, orangtua salah seorang siswa peserta testing. Dia mengapresiasi pendidikan karakter yang berlandaskan lima S di seminari. “Mudah-mudahan anak saya berkembang dengan matang di sini”, harapnya. Hal senada disampaikan Dius Taso, orangtua siswa asal Mbay. ”Sebagai orangtua saya bertanggungjawab terhadap perkembangan kepribadian anak. Saya berharap pilihan menyekolahkan anak di sini tepat”, katanya.

Ditemui di sela-sela testing, Rm. Beny mengucapkan terima kasih kepada para orang tua siswa dan para pastor paroki. “Sentuhan motivasi sudah dilakukan di keluarga-keluarga dan juga oleh para imam. Banyak siswa tertarik masuk seminari karena dorongan dan keteladanan para imam di lapangan” tandasnya.

Pada hari pertama peserta dibagi dalam beberapa kelompok untuk sesi wawancara. Pada hari kedua dilaksanakan tes tertulis dengan 3 mata uji yakni berpikir verbal, baris bilangan, dan kosa-kata. Untuk peserta SMP calon KPB (Kelas Persiapan Bawah) ditambahkan bahasa Inggris (Kontributor: Mario Degho. Editor: Nani).

MERIAH PENCANANGAN HARI ALUMNI DAN PELUNCURAN WEBSITE SEMINARI

            Pencanangan Hari Alumni dan peluncuran website resmi Seminari oleh Praeses Seminari Menengah Santo Yohanes Berkhmans Todabelu Mataloko, Rm. Gabriel Idrus, Pr,  di aula rekreasi, pada Minggu (11/3/2018) berlangsung meriah. Diapiti puluhan alumni perwakilan berbagai angkatan, dengan iringan bunyi sirene, Rm. Idrus menabuh gong pencanangan Hari Alumni dan peluncuran website tersebut. Tepuk tangan dan sorak sorai seluruh civitas academica Seminari menggemuruh di aula yang dahulu digunakan sebagai kamar tidur siswa itu.

Hadir pada kegiatan tersebut para alumni senior seperti Soter Parera, Frans Mola, Gius Pello, Bas Wea, Johny Watu, Sensi Sengga, Rm. Daniel Aka, Pr, dan sejumlah alumni medior dan junior lainnya, yang membaur bersama para formator, guru dan siswa.  Mans Mari yang membantu design dan pengerjaan website hadir bersama istri dan kedua buah hatinya.

Bangun Kekuatan Bersama Menuju Satu Abad Seminari

Dalam sambutannya Rm. Idrus menjelaskan, penetapan Hari Alumni jatuh pada tanggal 13 Maret, hari lahir santo Yohanes Berchmans, pelindung seminari. “Pencanangannya hari ini, 11 Maret, karena merupakan hari Minggu. Namun ke depan, Hari Alumni dilakukan setiap tanggal 13 Maret, apapun harinya”, tegasnya.

Penetapan Hari Alumni mempunyai narasinya. Bermula dari bisik-bisik di kalangan alumni dari waktu ke waktu, lalu menggema semakin kuat ketika kapela SMP yang menjadi ikon seminari direnovasi dan diresmikan 13 Maret 2017 lalu. Gagasan itu ditanggapi serius oleh para formator, yang memutuskan pencanangan Hari Alumni 11 Maret ini.

Rm. Idrus melanjutkan, Hari Alumni dirasa perlu karena berbagai alasan. Selain kesempatan bernostalgia dan membaca realitas seminari saat ini, “Hari Alumni adalah kesempatan kita membangun mimpi bersama ke depan, dalam kerangka Grand Design Menuju Satu Abad Seminari, yang dipetakan dalam lima bidang sekaligus, yakni: bidang Manajemen Mutu Pendidikan, bidang Sarana dan Prasarana, bidang Pengolahan Aset dan Usaha Produktif, bidang Penataan Lingkungan, dan bidang Penggalangan Dana. Kalau kekuatan itu kita bangun bersama, kita yakin pasti bisa mewujudkan mimpi-mimpi kita”.

Keyakinan tersebut, lanjut alumnus seminari 1982/1983 -1984/1985 itu, bukan tanpa dasar. “Sudah muncul berbagai gerakan alumni, mulai dari alumni se-Jabodetabek, komunitas-komunitas alumni dari masing-masing angkatan yang menyumbang dengan masing-masing cara melalui komunikasi dalam media-media sosial, sampai gerakan perorangan, seperti yang dilakukan Bapak Agus Dhae yang membantu olah musik vokal, dan, hari ini, Bapak Mans Mari yang membantu design website kita”.

Tentang peluncuran website seminari, imam kelahiran 24 Maret 1965 itu menyebutkan, hadirnya website memenuhi kerinduan seminari akan adanya dokumentasi yang bisa disimpan dan diakses kembali, seraya mengisahkan pengalaman getirnya  berkenaan dengan dokumentasi perayaan 75 tahun seminari tahun 2004 lalu yang nyaris tak berbekas.

Ia mengucapkan terima kasih atas pengorbanan dan kerja keras Mans Mari dan  teman-teman untuk menyiapkan website seminari. Ia menyebutkan beberapa karakter khas website tersebut, seperti kemudahan mengakses melalui aplikasi android, keterkaitan utuh lembaga sekolah dan seminari, adanya terjemahan dalam bahasa-bahasa dunia, termasuk bahasa Latin, kemudahan pendaftaran alumni dan lamaran siswa baru. “Tahun ini kita merayakan Hari Alumni dengan peluncuran website sebagai kegiatan unggulan. Setiap tahun kita harus bisa menentukan kegiatan unggulan dalam perayaan Hari Alumni”, tegasnya, sebelum menyampaikan terima kasih pada alumni yang hadir.

Berbagi Pengalaman

Pada kesempatan tersebut beberapa alumni berkenan berbagi pengalamannya selama dididik di seminari. “Saya bahagia sekali seminari telah membekali saya sekian sehingga saya banyak mengalami kemudahan belajar dan bekerja”, ujar Soter Parera, yang menyelesaikan masternya di Amerika. “Seminari membekali orang dengan basis ilmu dan moral yang kuat”, kata Frans Mola di akhir syeringnya. “Kalau Obama mengatakan Together we can dan disambut rakyat Amerika, Yes, we can, kita pun sangat mampu menggalang kekuatan bersama”, kata Gius Pello, bintang sepakbola seminari tahun 1960-an. “Kita sangat bisa bersaing”, ungkap Armin Dhae, alumnus angkatan 1992-1998. “Berbagai keterampilan yang saya dapatkan adalah hasil didikan seminari”, tegas Agus Dhae.

Alumni lainnya seperti Sensi Sengga, Stanis Kesu, dan Rm. Daniel Aka, Pr, menyajikan kisah-kisah yang tak kalah menarik, juga konyol dan lucu: tentang sandal lili yang lebih berharga dari sandal jepit, tentang bolos yang “kudus” dan pertanyaan berapa banyak tikungan di jalan, atau tentang naik traktor kebanggaan. “Why not the best? Itu pertanyaan yang membangun suasana penuh persaingan saat ini. Kita berfokus pada proses pendidikan yang membuat semua siswa kita bertumbuh”, kata Rm. Dani di akhir syeringnya.

Mans Mari membingkai syeringnya dengan sebuah refleksi menarik tentang berbagai pembatasan yang dialaminya di seminari. “Ketika banyak orang di luar diberi kebebasan melakukan dan mengakses berbagai hal, pembatasan di seminari sering dianggap kemunduran. Tapi bagi saya, kalau kita hendak melompat sejauh mungkin, kita harus mundur jauh sekali. Kalau kita ingin membangun gedung yang tinggi, kita harus menanam dasar sedalam-dalamnya. Kalau kita ingin berkembang tanpa batas, kita harus tahu batas. Pembatasan itu penting sekali, karena punya daya dobrak yang luas”, katanya seraya berbagi pengalaman mengembangkan diri dan melayani dalam dunia digital yang tak terbatas.

Rm. Praeses menutup seluruh perbincangan dengan penyampaian mengenai pembangunan asrama SMP. “Pertengahan Juni 2018 ini gedung utama asrama akan dibongkar, lalu dibangun baru berlantai dua. Kita berharap dalam satu tahun bangunan itu selesai”, ujarnya (Nani).

SISWA SEMINARI LIVE IN DI TIGA LOKASI

 Siswa seminari St. Yohanes Berkhmans Todabelu Mataloko melaksanakan live in di tiga lokasi, yakni Jerebuu untuk para siswa yang tergabung dalam kelompok etnis PERSIBA (Persatuan Seminaris Asal Bajawa), Moni untuk kelompok etnis GASSELI (Gabungan Seminaris Asal Ende-Lio), dan Boawae untuk kelompok etnis TARSANTO (Tergabungnya Seminaris Asal Nagekeo-Toto), pada Kamis-Minggu (15-17/06/2017).

            Kegiatan di awal liburan musim panas yang adalah program tahunan tersebut  wajib diikuti semua seminaris, tak terkecuali para siswa dari luar kelompok-kelompok  etnis tersebut, seperti dari Manggarai, Larantuka, Lembata, Kupang, ataupun  dari luar NTT. Mereka diberi kebebasan memilih bergabung di dalam salah satu dari ketiga kelompok etnis itu.

            Dalam kegiatan tersebut para siswa disebar ke dalam KUB-KUB di paroki tujuan, tinggal di tengah keluarga, untuk sejenak merasakan denyut riil kehidupan keluarga dari umat yang menjadi konteks pendidikan mereka, dan kelak pelayanan mereka di masa mendatang.

            Para siswa dari kelompok etnis GASSELI, misalnya, pada Kamis 17/06/2017, disebarkan dalam 32 KUB di paroki Moni. Keesokan harinya, mereka mengadakan kerja bakti membersihkan lingkungan bersama umat di KUB masing-masing. Kegiatan sore hari adalah pertandingan sepak-bola persahabatan dengan OMK (Orang Muda Katolik) paroki Moni.

            Kegiatan serupa dilakukan para siswa kelompok etnis PERSIBA di Jerebuu dan TARSANTO di Boawae. Kegiatan malam adalah katekese umat di KUB masing-masing dengan tema Meneladani Keluarga Kudus Nasareth. Perayaan Ekaristi hari Minggu diadakan di pusat paroki, dengan koor yang ditanggung para siswa. Seluruh kegiatan live in diakhiri dengan Malam Hiburan berupa pentasan acara seperti drama, tarian atau pun nyanyian untuk menghibur umat setempat.

Pengalaman Berharga

            Kegiatan live in menyediakan banyak pengalaman berharga bagi para siswa. “Saya ditempatkan di KUB yang cukup jauh dari pusat paroki. Kami harus berjalan menurun cukup dalam, kemudian mendaki lagi”, ujar Mario Degho (17), siswa kelahiran kota Semarang, yang memilih live in di Jerebuu, sebuah paroki dengan perbukitan serba menjulang dan jalan yang curam.  Perjalanan turun naik bukit dengan tangga yang curam harus dilewatinya setiap kali pulang-pergi dari KUB ke paroki atau sebaliknya. Dia merasakan sendiri kerasnya perjuangan hidup yang tidak dialaminya di seminari. “Namun saya bahagia merasakan kehangatan keluarga di sana. Saya merasa diteguhkan”, lanjutnya.

            Hal serupa dialami Ito Funan Pineul (16), siswa asal Kefa, Timor, yang memilih live in di Moni. “Tempat saya jauh dari pusat paroki. Saat pertama saya ke tempat penginapan, saya diantar dengan motor. Hari-hari berikutnya waktu saya pergi ke pusat paroki untuk merayakan Ekaristi, baru saya sadar, ternyata lokasinya jauh. Umat kalau pergi ke pusat paroki harus berjalan jauh sekali. Saya sadar, saya tidak boleh cepat menyerah atau putus asa kalau mengalami kesulitan di seminari”, kisahnya.

            “Keluarga tempat saya tinggal adalah petani. Saya pergi bersama mereka ke kebun. Saya ingin sekali bekerja bersama mereka, tetapi mereka melarangnya. Saya sedih sekali”, kata Nando Magho (16), siswa asal Kalimantan yang memilih live in di Moni. “Tapi saya tahu, ini bentuk penghargaan mereka terhadap saya”.

            “Kampung tempat kami diinapkan jauh sekali dari pusat paroki. Kami diantar dengan satu motor. Belakangan saya tahu, itulah satu-satunya kendaraan ke kampung itu. Saat ke paroki hari-hari selanjutnya, motor digunakan untuk adik-adik siswa SMP, sedangkan saya dan teman-teman dari SMA memilih jalan kaki, kadang-kadang sambil berlari, karena jauh. Kami pernah berangkat dari paroki dan tiba kembali di kampung jam 9 malam. Yang mengharukan, umat masih setia menunggu”, syering Erik Senda (20), dan Stanley Novendra (18), keduanya siswa XII SMA.

            Manfaat lain dari kegiatan live in adalah pengalaman berorganisasi dan kolaborasi yang nyata. “Kami sendiri harus berkomunikasi dengan pastor paroki dan umat dari paroki tujuan, mempersiapkan seluruh acara, mengatur jadwal kegiatan, dan menghubungi kendaraan”, kata Andi A. Lowa, salah seorang pengurus kelompok etnis PERSIBA. Ada kegembiraan tapi juga tantangan yang tak jarang getir. Ada sukacita, tapi tak kurang kecemasan: tentang keselamatan, tentang jalannya acara, tentang ketepatan waktu, dan lain-lain.

Para siswa umumnya merasa amat diteguhkan dalam panggilan mereka. Kepolosan, keramahan umat, penghargaan mereka, kerendahan hati mereka, perjuangan tak kenal lelah, pengorbanan mereka untuk mengembangkan hidup, kerinduan mereka untuk mendapatkan kunjungan lanjutan, keterampilan berorganisasi, berkomunikasi dan berkolaborasi, tanggungjawab untuk menyelesaikan seluruh kegiatan secara tuntas adalah sedikit dari sekian banyak bekal rohani yang dinikmati para siswa dan meneguhkan mereka.

Live in adalah salah satu kegiatan yang selalu dinantikan para siswa (Nani. Kontributor: Mario, San Sera, Alfian).

MOANA DAN KISAH ANAK YANG HILANG

Ia maju ke depan kelas dengan langkah canggung. Beberapa orang teman bertepuk tangan untuknya tetapi ia menampilkan ekspresi datar. Seluruh perhatian anggota kelas terarah kepadanya tetapi ia hanya terpaku memandangi lantai. Ia menyembunyikan tangan dan bukunya di belakang pinggang. Suasana kelas seketika hening. Semua menanti rangkaian kalimat yang akan keluar dari mulutnya. Ia membuka buku, melirik singkat ke arahku dan menarik napas. Aku mengangguk pelan, memberinya kesempatan untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya kepada seluruh anggota kelas.

Ia mulai membaca hasil diskusi kelompok dari buku catatannya. Suaranya bergetar, seirama dengan getaran jari tangan yang memegang buku. Gugup. Beberapa kata salah diucapkan tapi cepat diperbaiki. Seluruh anggota kelas diam menyimak penjelasannya. Aku sendiri mulai meraba-raba alur gagasan kelompok yang sedang dipresentasikannya.

Pada semester ini, aku dipercayakan untuk mengampu mata pelajaran ekstrakulikuler Pendidikan Nilai bagi seminaris kelas delapan. Pendidikan Nilai merupakan pelajaran khas Seminari St. Yohanes Berkhmans, Mataloko. Melalui pelajaran ini siswa diperkenalkan dengan nilai-nilai khas seminari yang dikenal dengan nama 5S (Sanctus, Scientia, Sapientia, Sanitas, Sosialitas) beserta penjabaran yang relevan dengan kehidupan mereka sehari-hari di asrama. Tujuan pelajaran ini adalah agar para seminaris menghayati kelima nilai tersebut dalam kehidupan mereka sehari-hari sehingga mereka dapat menjadi pribadi-pribadi calon imam yang berkembang secara holistik.

Saya mengawali pertemuan pertama bersama para seminaris kelas delapan dengan tema sosialitas. Secara sederhana sosialitas berkaitan dengan kenyataan bahwa para seminaris hidup bersama dalam satu asrama. Mereka hidup bersama dalam asrama dengan aturan yang ketat lantaran satu visi yang sama: membina diri untuk menjadi pekerja di kebun anggur Tuhan. Oleh karena itu, mereka mesti memiliki suatu cara pandang dan kebiasaan yang khas di mana aturan hidup harian menjadi penuntun bagi mereka. Setiap seminaris tidak dapat hidup untuk dirinya sendiri saja, tetapi ia juga hadir dan ada bagi seminaris yang lain. Segala tindakan yang dilakukannya, entah baik atau kurang berkenan, pasti memiliki dampak bagi seminaris lain. Proses pembentukan diri juga terjadi berkat bantuan dan dukungan di antara mereka.

Pertemuan pertama kami awali dengan menonton film animasi Moana. Film keluaranWalt Disney Animation Studiotahun 2016 dan disutradarai oleh Ron Clements dan John Musker ini mengangkat cerita rakyat dari wilayah Polinesia. Film Moana berkisah tentang perjuangan Moana, anak kepala suku Motunoui bersama Maui, manusia setengah dewa dalam mengarungi latuan luas. Mereka berlayar untuk mengembalikan jantung Te Fiti (The Heart of Te Fiti), Ibu Bumi, yang sebelumnya dicuri oleh Maui dari Te Fiti. Jantung Te Fiti mesti dikembalikan untuk meredam amarah Te Fiti dan mengakhiri bencana global termasuk gagal panen yang dialami penduduk Motunoui. Moana menjalani tugas ini karena satu alasan utama. Ia telah dipilih oleh lautan (the ocean) sejak ia masih kecil untuk menjadi penyelamat.Singkat cerita, Moana dan Maui berhasil menjalankan tugas mereka dengan baik. Bencana berakhir dan masyarakat Motunoui mengetahui takdir mereka adalah bangsa penjelajah samudera.

     Setelah menonton film para seminaris mulai berdiskusi dalam kelompok. Diskusi dilakukan dengan bantuan pertanyaan penuntun untuk membahas tentang tokoh-tokoh dalam film Moana beserta karakter baik dan buruk yang mereka miliki berdasarkan pengamatan atas film. Saya juga meminta mereka untuk memilih tokoh yang disukai dan tidak disukai beserta alasan mereka menyukai atau tidak menyukai tokoh tersebut. Hasil diskusi dalam kelompok akan dipresentasikan kepada seluruh anggota kelas.

Selama diskusi berlangsung, para seminaris menaati empat aturan yang disepakati bersama. Pertama, selama diskusi berlangsung mereka tidak diperbolehkan untuk mengeluarkan argumen yang bermaksud menghina atau mengolok anggota kelompok. Kedua, siswa yang maju untuk memberikan presentasi adalah siswa yang jarang atau bahkan tidak pernah tampil di hadapan teman-temannya. Ketiga, orang yang ditunjuk tersebut tidak boleh menolak. Menolak berarti membuang kesempatan untuk menjadi orang hebat dan tidak menghargai dukungan dari teman-teman dalam kelompok. Keempat, siapapun yang tampil untuk berbicara harus didengarkan oleh seluruh anggota kelas.

Setelah diskusi, tiga orang pertama maju ke depan kelas mewakili kelompok masing-masing. Ketiganya memberikan presentasi yang menarik. Film Moana diulas dalam tiga perspektif yang berbeda. Elaborasi kelompok mengenai film tidak sekadar menjawab pertanyaan penuntun. Mereka juga mengkonfrontasikan dan mengaitkan film tersebut dengan kehidupan sehari-hari di asrama dalam berbagai sudut pandang. Ada yang mengidolakan Moana karena komitmennya menjawabi panggilan Ocean untuk mengembalikan The Heart of Te Fiti. Ada juga yang megidolakan Maui karena sikapgentleman mengakui kesalahandan bersedia menebus kesalahan dengan cara menemani Moana mengembalikan The Heart of Te Fiti. Ada juga yang mengidolakan Heihei, ayam konyol teman setia Moana sepanjang perjalanan bertemu Te Fiti. Alasan mereka sederhana, dalam kehidupan bersama di asrama dibutuhkan komitmen seperti Moana. Jika melakukan kesalahan mereka dapat bertindak seperti Maui Mereka juga dapat menjadi penghibur seperti Heihei bagi teman-teman yang mengalami kesulitan, meskipun mereka harus terlihat konyol.

Setelah tiga perwakilan kelompok tersebut, saya menunjuk ke kelompok selanjutnya. Kelompok ini berdiskusi di pojok kelas. Berbeda dengan kelompok lain yang terlihat sibuk ketika berdiskusi bahkan sampai beradu argumen, kelompok ini tidak menunjukkan sesuatu yang istimewa. Suara mereka  tertutup oleh suara kelompok lain. Aktivitas diskusi yang mereka lakukan terlihat biasa saja. Lalu mereka mengutus dia yang duduk di pojok untuk memberikan presentasi.

Ia masih berbicara dengan suara bergetar. Saya terus mendengarkan presentasinya sambil mencoba meraba alur pemikiran yang ditawarkan. Sekali lagi, kelompok ini hadir dengan cara pandang yang berbeda dengan tiga kelompok sebelumnya. Pada pertengahan presentasinya aku terkesiap. Sudut pandang yang ditawarkan oleh kelompok ini istimewa. Mereka bukan hanya membahas film Moana. Film fantasi yang diadaptasi dari cerita rakyat Polinesia itu juga dikaitkan dengan perikop kitab suci yang dibacakan pada perayaan Ekaristi pagi hari itu, Perumpamaan tentang Anak yang Hilang (Luk. 15: 1-3, 11-32). Perumpamaan ini khas pengarang Lukas. Pada injil sinoptik lain tidak ditemukan kisah serupa. Lukas menggambarkan dinamika relasi antara Allah dengan manusia dalam injilnya dengan begitu menarik. Allah hadir dalam pribadi Bapa dengan sifat maharahimNya yang tidak terbatas dan karakter manusia dengan segala dinamika keterbatasan dan kesadarannya terwakili pada diri anak bungsu dan anak sulung. Ia membacakan hasil diskusi dalam kelompok.

Injil pada hari ini berkisah tentang Yesus yang menceritakan perumpamaan tentang anak yang hilang kepada para ahli Taurat dan orang Farisi. Kisah ini berbicara tentang relasi Ayah dan Anak. Ayah dalam Injil sama dengan Te Fiti dalam Film. Mereka adalah sumber kehidupan bagi anak-anaknya. Maui dalam film seperti anak bungsu dalam Injil. Maui mencuri hati Te Fiti. Ia mengkhianati Te Fiti yang memberikan kehidupan bagi dunia. Anak bungsu meminta warisan ketika ayahnya masih hidup. Akhir kisah anak Bungsu dan Maui sama. Keduanya berlumur penyesalan dan rasa malu.

Moana adalah harapan untuk kembali. Ia menjadi jalan bagi Maui untuk kembali berdamai dengan Te Fiti, Sang Pemilik kehidupan. Ia menjadi jalan bagi Maui untuk secara gentleman mengakui kesalahan yang telah dibuat. Satu hal yang membuat anak bungsu dalam injil kembali adalah harapan akan pengampunan. Reaksi Te Fiti serupa dengan reaksi Bapa dalam Injil. Ia tidak menghukum anaknya yang berbuat salah tetapi mengampuninya. Bahkan bagi anak bungsu dibuatkan pesta yang besar. Maui mendapatkan pancing ajaib baru dari Te Fiti setelah pancing ajaibnya yang lama rusak ketika bertempur melawan Te Ka.

     Selalu ada jalan untuk memperbaiki kesalahan. Selalu ada kesempatan untuk bertobat dari kesalahan dan memperbaiki diri menjadi lebih baik. Kelemahan manusia adalah selalu jatuh dalam dosa dan kesalahan. Akan tetapi, Allah menganugerahkan kepadanya budi baru sehingga ia dapat selalu bertobat dan menyadari kesalahannya. Masa prapaskah ini adalah jalan bagi kita sebagai seminaris untuk kembali kepada Allah. Memperbaiki hubungan yang telah rusak karena kesalahan yang telah kita perbuat”

Ruangan kelas diliputi keheningan. Suara-suara cibiran ketika ia mengaitkan film Moana, perumpamaan tentanganak yang hilang, masa prapaskah, dan hidup sebagai seminaris lenyap. Presentasinya telah membius kami semua. Aku terkesima mendengar presentasinya. Ide yang ditawarkan luar biasa. Kelompok ini mampu melihat adanya kesamaan dalam empat situasi yang berbeda dan mengaitkannya dengan apik. Film bukan sekadar hiburan bagi mereka tetapi mengandung nilai-nilai yang dapat menyentuh aspek personal kehidupan mereka. Sekarang, giliran dirinya menatap seluruh penghuni kelas. Setelah sepersekian detik takjub kami mengapresiasi presentasi itu dengan tepuk tangan keras. Ia kembali ke tempat duduk sambil tersipu malu.

Aku keluar ruangan kelas sambil tersenyum kecil. Proses pembelajaran yang baru saja kami lakukan mengungkap banyak hal. Para seminaris cilik ini telah memahami makna pengalaman. Pada setiap pengalaman yang mereka dapatkan di seminari terpendam nilai-nilai kehidupan. Mereka sendiri yang menemukan nilai-nilai itu dan saling berbagi satu dengan yang lain, dimulai dalam ruang kelas. Film hanyastimulan, membantu mereka untuk berimajinasi, berpikir, dan merenungkan kehidupan mereka sendiri, menemukan nilai-nilai kehidupan, menyadarinya, dan perlahan-lahan menghayatinya. Para seminaris cilik ini menunjukkan potensi diri yang luar biasa dibalik kesahajaan hidup sehari-hari.

Mereka belajar saling mendukung satu sama lain dengan berbagi pikiran dan refleksi. Mereka mendukung temannya yang jarang tampil untuk presentasi dengan cara memberi kepercayaan kepadanya. Ia diberi kepercayaan untuk tampil dan seluruh anggota kelas setia mendengarkan presentasinya. Setelah presentasi teman-teman mengapresiasinya dengan tepukan tangan. Sebuah tindakan kecil tetapi sangat berharga bagi orang yang diberi kepercayaan karena dirinya merasa dihargai dan didukung.

Aku keluar dari ruang kelas dengan suatu niat. Para seminaris cilik ini memendam harta berharga pada dirinya. Harta itu harus ditemukan dan dikembangkan agar berguna bagi banyak orang. Agar mereka dapat bertumbuh dan berkembang secara utuh serta bahagia menjadi manusia dan ketika dipanggil menjadi pekerja di kebun anggur Tuhan.

Sdr. Rio Edison, OFM

TOPER