Homo Proponit, Deus Disponit

HOMO PROPONIT, DEUS DISPONIT

Kenangan bersama Romo Domi Balo, Pr

 

Judul di atas diambil dari kalimat yang terpajang di depan kamar Romo Domi Balo. Kalimat itu sudah tergantung sekian lama hingga sekarang. Bagi orang yang memahaminya, kalimat ini menohok ke dalam relung hatinya, dan ia bermenung, “Manusia boleh merencanakan tetapi Tuhan yang menentukan”.

 Kalimat di atas harus dibaca secara utuh. Jika tidak, maka akan terjadi bencana kemanusiaan, saat manusia terjebak hanya pada dimensi horisontal/humanisme (homo proponit). Dimensi horisontal menyangkut kekinian (hic et nunc). Kekinian mengandung unsur manusia dan dunia yang sedang berkembang. Kekinian yang semakin sekular saat ini, saat manusia semakin percaya diri. Saat manusia berpisah dari Tuhan (Deus). Sejarah evolusi tahap pertama yang ditandai oleh Homo Sapiens (70.000 tahun), yang akan segera diganti dengan tahap kedua yang ditandai dengan  Homo Deus. Manusia bisa menjadi Tuhan atas dirinya dan bisa mengubah lintasan evolusi sejarah masa depan, yang hanya ada di tangannya. Inilah bencana yang paling dasyat, Homo Deus, mau menghancurkan mortalitas dan dunia tak mengenal lagi kematian (immortalitas). Kematian bukan persoalan Tuhan lagi tapi itu adalah masalah teknis yang belum ditemukan solusi teknisnya (Yuval Noah Harari, Homo Deus-A Brief History of Tomorrow,2017,h.24-25)

Di sisi lain, kalimat kedua (Deus disponit) adalah dimensi vertikal, pikiran orang yang berpihak pada Allah. Ini menyangkut masa kini dan masa depan, dunia seberang, harapan akan keabadian. Dengan demikian disimpulkan kehidupan manusia entah kini entah yang akan datang ada pada tangan Tuhan. Dalam kekinian, manusia berencana, membangun dunia, berkembang dalam keilmuan, mencipta segalanya tapi seluruh kehidupan itu tak mencukupi, karena pada akhirnya, dihadapkan pada restu keputusan Tuhan. Kehidupan dan kematian adalah keniscayaan yang ditentukan oleh Tuhan.

Kalimat di depan pintu kamar Romo Domi adalah kalimat utuh sebagai kebijaksanaan dan  proklamasi imannya yang tiada tara pada Tuhan. Pernyataan iman yang tak pernah luntur bahkan semakin mengental sampai di penghujung kehidupan fana ini.

Kalimat ini menjadi faktor pengingat pada diri Romo Domi bahwa sebagai manusia lemah, dengan segala dosa-dosanya, dengan segala concupiscentia, setiap hari dari pagi hingga malam, dalam pekerjaan-pekerjaannya, melayani gereja sebagai seorang imam, melayani para seminaris sebagai pembina dan guru, semuanya dalam nama Tuhan.

Pekerjaan dan panggilan hidupnya adalah evolusi spiritualitas yang dihayati sebagai pewartaan tentang Allah yang Mahakasih, yang nampak dalam diri Yesus Kristus Putera Allah, yang telah bersatu dalam seluruh sejarah homo sapiens. Sejarah manusia yang tak bisa dipotong dan dipisahkan dari kasih Allah.

Sebagai buah dari kebijaksanaan dan imannya ini, pada masa tuanya, Romo Domi masih berbuat banyak hal, memperkaya gereja, seminari dan para seminaris dengan buah-buah pengetahuan dan buah-buah rohani. Tak tahu berapa buku/brosur rohani yang dihasilkan dan dipakai hingga sekarang oleh komunitas ini. Sampai pada saat-saat tenaganya hampir habis, dengan sisa energi kecerdasan berpikirnya, ia masih mempersembahkan buku pegangan bahasa Latin Elementa Linguae Latinae Primus, Secundus,Tertius dan Quartus.

Pada akhir kehidupan saat dia tak bisa berjalan lagi, dari keheningan kursi roda, ia terus memandang generasi baru yang sedang melanjutkan karyanya di seminari ini dengan pekerjaan-pekerjaan rutin, dengan segala rencana-rencana besar ke depan. Dia berdoa dan berserah pada Tuhan, seperti Musa yang memandang Tanah Terjanji dari Gunung Nebo, dan memandang Harun bersama Israel berlangkah ke depan. Ia berdoa semoga seluruh pekerjaan di kebun anggur Tuhan, seminari ini menghasilkan buah-buah imamat dan kader-kader gereja yang berlimpah.

Kita harus tetap percaya seminari ini adalah kebun anggur Tuhan. Pekerja-pekerja di kebun ini datang dan pergi, berganti dari satu generasi ke generasi berikut,  tapi hanya Tuhan yang sama sebagai penentu evolusi sejarahnya sampai keabadian…

Rm. Benediktus Lalo, Pr

Ikan-Ikan Kerinduan

ikan-ikan kerinduan

ada …
ada yang putih
yang itam … yang abu-abu
yang belang … yang kuning

ikan-ikan kerinduan pukul 13.00
ngap-ngap pada bibir sjuta harap
pada kerinduan yang tak pernah sia-sia
nantikan bulir-bulir cinta
dari tangan terulur
yang slalu rindu berbagi tabur

pukul 13
heiii … ikan-ikan kerinduan
membagi telah selesai,
kembali OPA pada tahta segala
tempat smua bertaut harap
‘tuk slalu merindu
pada maha samudra
yang empunya segala

Tak pernah ada yang tahu, semuanya akan berakhir begini. Ada yang datang, ada pula yang pergi. Hidup memang merupakan “suatu datang dan pergi yang terus”. Karena itulah, ia selalu menyambung generasi dan membawa angkatan. Mengalami yang ada, meninggalkannya, lalu merindukan yang akan datang. Bermula dari yang sementara, lalu menuju dan menetap pada yang paripurna dan kekal, Sementara itu fana, sedangkan yang paripurna dan kekal adalah tujuan. Ketika itu menjadi sebuah keyakinan, kekekalan lalu menjadi pilihan untuk senantiasa diper¬juang¬kan dalam menata hidup.

Tidak pernah juga ada yang tahu, pikiran ini singgah di benak dan nurani Opa. Begitulah sapaan akrab setiap anggota komunitas Berkhmawan saat berjumpa Romo Domi Balo. Namun, saya yakin sekali, Opa pasti mengangkat sedikit kacamatanya, mengusap-usap kening, mengelus-elus rambutnya yang memutih, lalu tersenyum tanda setuju. Namun saya tahu, matanya pasti lebih terpaut pada kolam Yobermans di hadapan kami. Pada ikan-ikan kerinduan yang menanti taburan bulir-bulir santap siang dari tangan sang Opa.

Tidak pernah saya duga bahwa kolam Yobermans itu telah menjadi saksi berlangsungnya sebuah keyakinan bahwa “hidup adalah suatu datang dan pergi yang terus … tapak-tapak yang menyambung generasi dan membawa angkatan.” Dari Kolam Yobermans, perisai air tempat pijak St. Yohanes Berkhmans, kita bertolak mengikuti jejak-jejak hidup Opa yang masih tersimpan.

Pukul 13.00
Setelah Opa pensiun melaksanakan tugas regular sebagai guru di kelas bagi para seminaris, pukul 13.00 jadi saat unik. Awalnya, saya anggap biasa karena Opa “Pensiun” selalu mengunjungi penghuni kolam. Saudara-saudara ikan(bahasa St. Fransiskus Asisi” sudah menjadi teman akrab Opa. Memang tidak setiap hari saya mengikuti aktivitas Opa yang satu ini. Suatu saat, pukul 13.00, sambil “seret-seret langkah” dengan segelas penuh makanan ikan, Opa melangkah menuju kolam Yobermans, lalu berhenti tepat di belakang patung Orang Kudus itu. Saya mengikuti Opa dan berdiri di sampingnya. Opa tidak segera memberi makan ikan-ikan kesayangannya. Hal pertama yang Opa lakukan adalah bersiul-siul mendendangkan not “do re do re do re” dengan halus beberapa saat. Sementara saya memperhatikan kolam yang sejak tadi tenang dengan sedikit riak kecil. Awalnya, saya pikir Opa sekadar bersiul karena baru selesai santap siang. Ternyata “doredore” yang unik itu, cara Opa mengundang sobat-sobat ikannya santap siang. Riak-riak kolam semakin besar karena ikan-ikan Opa meluncur berebutan makan siang. Tak lama berselang gelas makanan ikan pun kosong, laris manis santap siang bawaan Opa buat sobat-sobatnya. Cukup banyak kali, Opa tidak langsung kembali. Saya dan Opa masih melanjutkan bincang-bicang kami tentang banyak hal.

Saat Opa sudah tidak bisa lagi menemui sobat-sobatnya karena tidak sanggup melangkah karena sakitnya, saya merasa perlu memasuki waktu uniknya “pukul 13”. Gelas pakan ikan saya isi penuh, melangkah ke kolam, lalu berdiri di belakang patung Orang Kudus itu. Seperti Opa, saya mendendangkan “doredore-nya”. “Lihat! Ikan-ikan sobat Opa bermunculan berebutan santap siang, yang saya taburkan sambil terus ber-doredore.”

Persahabatan yang istimewa. Ikan-ikan itu telah menyatu dengan siul – senandung Sang Opa. Taburan kasih sayang Opa telah memberi mereka hidup. Kebiasaan Opa yang indah telah membuat ikan-ikan itu mengenal dan berebutan kasih yang ditaburkan melalui tangan hatinya dengan cinta. Sobat-sobat itu tak akan pernah lagi mendengar senandung “doredore”. Namun, habitus cinta dan persahabatan yang abadi telah menyatu dalam komunitas kolam Yobermans. Riak-riak kecil itu meninggalkan kenangan manis. Pernah terjalin kisah persahabatan Sang Opa dengan ikan-ikannya melalui senandung siul “doredore”-mu dengan tangan yang selalu siap menabur. Selamat jalan OPA. Selamat memasuki kolam abadi bersama Ikan-ikan kerinduanmu akan selalu menanti taburan kasih.

Rm. Alex Dae Laba, Pr

Imam Berbasis Iman

IMAM BERBASIS IMAN

                “…aku percaya, karena itu aku berkata-kata..” (2Kor.4,13), merupakan suatu ungkapan seorang manusia rapuh yang menjadi rasul karena ditangkap oleh Tuhan sendiri. Dalam kerapuhan dan keterbatasannya, kelak kemudian menjadi rasul utusan Tuhan. Ia  menyampaikan  bahwa iman itu adalah harta rohani yang menjadi dasar, kekuatan yang membuat ia mampu mewartakan, menyampaikan kebenaran sejati Tuhan kepada umat Korintus. Dalam kerapuhan dan keterbatasan manusia itu, kekuatan dan kekuasaan Allah menjadi nyata.  Rencana dan kehendak Tuhan yang membuat ia mampu, demikian keyakinan st. Paulus (bdk. Fil, 4,13).

            Mulanya agak sulit mengenal sosok Imam Tuhan yang satu ini: Romo Domi Balo, Pr,  sebatas dibaca dalam daftar Katalogus Alumni Seminari Tinggi st. Petrus Ritapiret atau sebatas ‘kata orang’ tentang beliau. Dalam perjalanan waktu akhirnya tidak cuma mengetahui tetapi lebih dari itu ‘mengenal’ sebagai rekan sekomunitas.

Dalam  putaran pertama,  jilid I  kebersamaan saya dengan Romo Domi Balo, Pr (Agustus 1988 – Maret 1990, masa pelayanan beliau sebagai Praeses Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret, sementara penulis adalah seorang pembina baru di langkah-langkah awalnya)  terlintas kesan bahwa Imam pelayan tertahbis ini, adalah manusia pelayan sedarhana, lugu, tabah, setia dan mencintai tugas. Lebih jauh terlintas juga pelayan tertahbis ini  sedang dengan serius mencari Tuhan dan kehendakNya dalam hidup dan dalam karya pelayanannya. Hidup dan pelayanannya adalah saat untuk mencari Tuhan, seperti yang diungkapkan St. Vincentius a Paolo (Die Zeit Gott zu zuchen, ist dieses Leben). Kehendak Allah terus digali dalam hidup nyatanya, bukan cuma dalam kata-kata pemanis mulut, tetapi dalam tingkah-tindakan hidup, pelayanannya, walau ia harus menghadapi tantangan dari luar diri dan luar komunitas mau pun dari lingkungan komunitas. Semuanya dihadapinya dengan tenang.  Nampaknya beliau sadar bahwa onak dan duri, arus dan gelombang pasti selalu ada di depan mata kita manusia,  namun Tuhan pasti memegang tangannya. Bersama Tuhan dan dengan Tuhan, manusia akan mampu menghadapi segalanya. Tuhan tidak cuma ditemukan dalam situasi serba enak, menyenangkan, tetapi juga dalam situasi batas, keringat dingin, gemetaran dalam tugas karya nyata.

Dalam sebuah permenungan kesempatan rekoleksi komunitas Staf Ritapiret, jelang Prapaskah 1989  ia pernah berujar,  “Allah dapat kita jumpai/kita temukan pada saat kita melaksanakan tugas kita.”  Nafas sesak dalam menghadapi tantangan kesulitan tugas, seorang pelayan tertahbis, tidak boleh membuat kita  melarikan diri dari semuanya itu, tabah dalam tugas, sabar dalam karya (tentu dalam konteks nyata rumah Rita saat itu).  Dalam nada iman  penuh pasrah diri, nyata dalam kata-kata permenungannya itu, ia mengatakan ‘Badai ganas  telah membuat akar pohon semakin kokoh-kuat.’  Akar pohon itu menjadi kuat justru karena Allah yang memberinya kekuatan. Dalam alur pikiran di atas beliau menutup renungan rekoleksi itu dengan kembali menyitir kalimat St. Vincentius a Paolo, “Die Zeit Gott zu besitzen, ist die Ewigkeit,” waktu untuk memiliki Tuhan adalah keabadian/kebangkitan/kebahagiaan abadi.  Hanya lewat Salib dan penderitaan manusia sampai pada kemuliaan kebangkitan. Keringat dan jerih lelah, suka dan duka silih berganti, tidak ada yang ‘gratis’ dalam hidup manusia ini. Lagi-lagi, kalimat ini semua mengungkapkan kedalaman iman seorang imam Allah ini.

            Pada kebersamaan saya dengan beliau – putaran kedua, jilid II,  (di Seminari Menengah St. Yoh. Berkhmans Todabelu-Mataloko: Januari 2006 sampai dengan  Januari 2019,  hari-hari terakhir sebelum ia meninggal), Romo Domi masih tetaplah seperti yang dahulu, masih dalam kemasan warna dasar yang sama. Iman dan keyakinan akan kekuatan kekuasaan Allah tetap menjadi sandaran dan harapan utamanya. Allah adalah akar kekuatan yang menahan terjangan badai hidup.

Romo Dominikus Balo, Pr adalah seorang imam Praja Keuskupan Agung Ende generasi-generasi awal, produk binaan jaman itu yang terbilang sebegitu kuat dan mendalam menanamkan sesuatu dalam hati anak binaan kala itu. Tempaan tangan para misionaris barat rupanya sulit tercabut dari sanubari Romo Domi. Akar iman sebegitu kokoh kuat, walau sayap kebebasan seorang  manusia/pemuda tetap ia menjadi acuan tindaknnya. Beliau, adalah salah satu sosok pribadi imam karena iman, yang  merangkaikan seluruh hidup dan karya pelayanannya sebagai manusia-pelayan tertahbis, yang tekun-setia, mencintai tugasnya karena ia sadar sungguh bahwa ia menjadi imam karena pilihan Allah sendiri.. Dalam rentang waktu jelang emas imamatnya, hidup dan karya sosok imam  yang satu ini telah membenarkan bahwa ia adalah figur pelayan tertahbis yang tekun setia dan manusia dedikatif dan konsisten dalam melaksanakan tugasnya. Imamat yang digapainya bukanlah sebuah usaha manusia pribadinya atau perjuangan sanak-keluarganya tetapi murni karena iman akan  suara panggilan Allah. Imam karena iman.

Justru dalam ziarah pelayanan kepada sesama, ia telah mencari dan menemukan Allah. Dalam  suatu pengabdian tanpa batas kepada Dia yang telah memilih dan memanggilnya. Iman  membara akan apa yang dikehendaki Allah atas dirinya itu membuat selalu terpancar dalam tingkah perbuatannya Romo Domi ‘Homo proponit, Deus disponit’  – Manusia merencanakan tetapi Allah menentukan. Kalimat yang terpampang mantap di depan pintu kamarnya, bukan cuma sekedar tanda bahwa ia adalah seorang guru bahasa Latin yang handal tetapi lebih sebagai ungkapan iman keyakinannya, bahwa manusia merencanakan segalanya tetapi, tapi Allahlah yang menentukan segalanya itu. Suatu ungkapan iman dan pasrah diri kepada taqdir Allah, cuma Allah yang memiliki daya dan kekuatan penentu atas hidup dan karya kita.

Ziarah karya pelayanannya sebagai imam: dari Lembaga Pendidikan Calon Imam baik di Seminari Menengah (di Lela) pun di Seminari Tinggi, kemudian kembali lagi  ke Seminari Menengah (Mataloko), diselangi dengan tugas pelayanan pastoral parokial, tugas pelayanan di Pendidikan Persekolahan, Pusat Pastoral…semuanya merupakan bentuk pelayanan seorang hamba Tuhan yang taat-setia dan mencintai tugas tanpa memilih-milih lapangan/tempat kerja yang sesuai dengan kemauan, selera diri sendiri, tetapi tunduk-taat total kepada kehendak Allah, taat dan setia kepada putusan Pimpinan, demi kelancaran karya pengabdian kepada Allah dan demi kelancaran karya pelayanan kepada sesama.  Kesetiaan dan cinta akan tugas membuat Romo Domi walau usia semakin uzur, ia tidak mau mundur dalam tugas- tugasnya. Usia uzur tidak menghalangi langkahnya menuju ke kelas, sambil duduk membimbing para calon imam Tuhan. Selain itu, pelayanan karya pastoral: pelayanan sakramen tobat/pengakuan, mendengarkan keluhan dan berbagi dari umat yang datang, pelayanan perayaan Ekaristi bagi  orang yang membutuhkannya, tidak ia lewatkan, tetap dan selalu siap, walau di tempat saja…bukti nyata betapa ia mencintai tugasnya…

Hari-hari jelang  emas imamat yang sudah di mata, dalam  keterbatasan seorang anak manusia, ia tetap berpegang teguh pada apa yang telah terpampang di depan kamarnya itu, ungkapan imannya bahwa manusia merencanakan tetapi akhirnya Allahah yang menentukannya. Kini ia sudah berada di garis finish, sambil mengancungkan tangan tanda kemenangan, ia naik podium untuk dikalungi medali kemenangan: Ia telah menjadi Imam Allah dalam Iman sampai akhir hayatnya, ia telah menjadi sahabat Tuhan untuk selamanya. Saat Kematiannya adalah saat ia menemukan dan memiliki Tuhan yang ia imani (Die Zeit Gott zu besitzen, ist die Ewigkeit). Ia sadar bahwa menghadapi hal satu ini, “Kematian,” manusia tidak mampu  mengajukan  protes terhadap kehendak Allah,  Allah tidak bisa disogok, Tuhan tidak bisa disuap untuk meminta tunda, Allah telah menentukan, menetapkan segalanya Kekuatan dan kekuasaan Allah telah menyata dalam seluruh ziarah hidup dan karya sang imam Allah yang memiliki iman tangguh ini.. Homo proponit, Deus disponit.

Rm. Domi: Imam lansia yang milenial

Dalam kebersamaan hidup selama lebih dari 13 tahun di Lembaga Pendidikan Calon Imam – Mataloko ini, dapat saya katakan bahwa Imam Allah yang lansia ini, jangan dikira ia ketinggalan jaman dan tidak memiliki minat terhadap hal-hal aktual-kontekstual.  Ia adalah imam lansia yang milenial, senior yang berjiwa yunior, imam tua dengan semangat dan berwawasan muda. Ia tetap aktif di depan laptopnya untuk menulis sesuatu, entah artikel, renungan, materi bahan ajar (bahasa Latin, atau bahan apa saja).   Suatu pagi jelang siang (sewaktu saya masih Praeses), dalam nada kelakar saya mengatakan, “Ah…romo sibuk sekali ya? Setiap kali saya lewat di depan kamar, Romo selalu asik duduk di depan laptop, jangan terlalu duduklah,… nanti sakit tu, istirahat-istirahat juga toh!…” Dalam nada kelakar juga beliau mengataka, “Setiap kali saya di depan laptop, Praeses lewat…salah siapa. Sebenarnya saya tidak terlalu sibuk,.. siapa suruh lewat dan lihat ke sini…”

Rm. Domi selalu mengikuti gerak perkembangan dunia politik dengan situasi terbaru, baik lewat TV, malajah, pun sarana-sarana media sosial lainnya.   Minat dan perhatiannya terhadap segala perkembangan terbaru tidak ia abaikan, ia tahu: siapa dari partai apa, dukung pasangan  mana, demonstrasi di mana…ia selalu ikuti, selalu terus  ia belajar dan belajar terusss. Program-program terbaru dalam laptop, dengan pelbagai variasi ia pelajari, obat-obat baik herbal pun generic produk-produk terbaru, ia tahu semua…ketika ditanya selalu ia katakan, “Ada di internet tu, obat itu bagus direkomendasikan dan sangat dianjurkan oleh dokter.”  Obat-obat kebutuhannya didatangkan via internet/on line. Segalanya tentu demi mencoba memperpanjang hidupnya. Rencana dan ketetapan Tuhan telah final, akhirnya Tuhan menjemput sang sahabatNya, untuk duduk di sebelah kananNya… Beliau telah tiada, namun contoh dan teladan seorang imam yang beriman kokoh, imam yang tabah setia dan mencintai tugas,.. nasihat dan petuah kaya makna kiranya tetap terpatri dalam hati kami para warga komunitas, para  anak bina-calon imam, semua  keluarga besar Berkhmawan. Selamat jalan! Doa kami untukmu, doamu kami dambakan selalu.  Requiescat in Pace – R I P.

Mataloko, 05 Februari 2019

Rm. Benediktus Daghi, Pr

Jejakmu Tak Pernah Menyeberang

JEJAKMU TAK PERNAH MENYEBERANG
(Mengenang Figur Romo Dominikus Balo)

Betapa tidak mudahnya ketika saya harus memulai menulis sesuatu tentang ROMO Domi Balo, sebagai senior, kakak, dan sahabat dalam imamat. Bukan karena tidak dekat dengannya dalam jarak tempat, jarak rasa, dan kurang mengenalnya. Tetapi terlebih karena alasan ini: saya harus memulainya dari mana dan tentang apa yang harus saya tulis terhadap figur dengan pengalaman karya yang luas, figur dengan latar belakang hidup dan karya hampir sempurna dalam empat generasi peradaban: generasi Orde Lama, generasi Orde Baru, generasi Reformasi, dan generasi Ledakan Teknologi Informasi atau generasi Milenial saat ini dalam setengah perjalanan Romo Domi.

Oleh karena itu, catatan mengenang figur Romo Domi, saya batasi pada lokus kebersamaan di lembaga pendidikan calon imam Seminari St. Yoh. Berkhmans Todabelu-Mataloko, di mana Romo Domi berkarya terakhir selama kurang lebih 18 tahun. Dalam konteks karya, peran, dan tanggung jawabnya di lembaga ini, saya melihat Romo Domi, sebagai figur yang sungguh memberi warna bagi pendidikan seminari. Karena itu, ketika saat ini ia harus pergi menghadap Sang Khalik, saya memilih judul di atas: Romo Domi, Jejakmu Tak Pernah Menyeberang, untuk mengenang jejak-jejak kehadiran dan karyanya di lembaga ini.

Ada dua alasan mendasar untuk mengatakannya dengan judul dimaksud. Pertama, Romo Domi dengan karya-karyanya yang spektakuler, yang saat ini menjadi referensi lembaga dan para pengelola dalam membangun pendidikan calon imam. Pada poin ini, terdapat sejumlah hal yang bisa disebutkan.

1. Sesudah perayaan Intan, 75 tahun Seminari pada tahun 2004, Romo Domi menjadi ketua tim penyusun buku Pedoman Pembinaan Calon Imam. Buku pedoman ini, termasuk buku yang sangat lengkap dari segi Isi, Metode, dan Aplikasinya. Karena itu buku ini memuat hal-hal khas Seminari St. Yoh. Berkhmans Todabelu – Mataloko seperti : tentang Nama, Pelindung Seminari, arti Logo Seminari, Visi, Misi, Komitmen, Profil para seminaris sebagai calon peserta bina dan profil lulusan, Asas-asas, Prinsip dan Isi Pembinaan, Materi Dasar Pembinaan, Lingkungan Pembinaan, Pelbagai Komponen Pembina, Pelbagai Sarana Penunjang, serta Peraturan dan Tata Tertib Sekolah dan Asrama.

Buku pedoman dengan isi yang sangat lengkap ini, tercatat di lembaga ini sebagai buku pedoman pertama yang disusun dengan mengadopsi dari berbagai sumber semenjak seminari ini didirikan. Karena itu pada awal pengantar buku ini ia menulis, “Baru untuk pertama kali inilah Seminari kita mengeluarkan sebuah Buku Pedoman Pembinaan Para Calon Imam, sebagai perwujudan kenekatan kita bersama dalam rangka merayakan 75 tahun seminari kita, yang berpuncak pada tanggal 15 September 2004 yang lalu.”

2. Sebagai guru dan pendidik para calon imam yang mengasuh mata pelajaran bahasa Latin, Romo Domi, telah menerbitkan beberapa modul pembelajaran Bahasa Latin. Modul-modul ini dihasilkan dari dasar pengalaman mengelola pembelajaran bahasa Latin, di satu pihak; dan pada pihak lain Romo Domi berkeinginan agar bahasa Latin sebagai bahasa liturgi gereja ini, harus mempunyai tempat khusus di dalam sistem kurikulum seminari dan kurikulum nasional. Karena itu, ketika masih aktif mengajar sampai dengan 4 tahun yang lalu, Romo Domi sangat tidak puas dengan alokasi waktu mengajar Bahasa Latin yang sangat terbatas yaitu dua jam seminggu. Padahal, menurutnya, dan hal ini juga diamini oleh banyak orang yang pernah belajar bahasa Latin, bahasa Latin adalah pemicu membentuk nalar untuk berpikir kritis dan teliti, serta sebagai alat pembentuk humaniora dalam konteks ilmu-ilmu bahasa pada umumnya.

3. Pada Januari 2013, kami menggelar satu kegiatan yang kami sebut “Reorientasi Sekolah”. Disebut demikian karena sepuluh tahun sebelumnya, yakni pada tahun 2003, kami sudah melaksanakan Orientasi Sekolah. Reorientasi sekolah itu pada prinsipnya ingin kembali meninjau sejauh mana kami menghidupi Visi, Misi, dan Komitmen serta bergumul meramu Materi Dasar Pembinaan sesuai dengan dokumen gereja, “Optatam Totius” dan “Presbyterorum Ordinis,” tentang Pembinaan Calon Imam di lembaga pendidikan ini, yang sudah kami bahas dan temukan sepuluh tahun sebelumnya. Kami merasa bahwa setelah sepuluh tahun berada dalam bingkai pendidikan seminari, ada banyak hal yang menguap hilang dalam rutinitas kami mengelola pendidikan. Selain itu, perubahan zaman pada umumnya, dan tuntutan kurikulum nasional pada khususnya, memang menuntut kami untuk menyesuaikan diri demi menjawab kebutuhan subjek bina dan subjek didik.

Berhadapan dengan tuntutan yang demikian, kami mencoba menjawab dalam bentuk dialog tanya jawab di antara kami para formator. Ada yang bertanya tentang tantangan riil yang dialami dan perlu dirumuskan secara konkret sehingga bisa mencari solusi. Ada yang meminta resep manjur apa yang bisa ditawarkan agar pendidikan calon imam tetap aktual, kontekstual, dan selaras zaman. Banyak pendapat yang diajukan saat itu dengan narasi argumentasi yang kuat dan masuk akal. Tetapi ketika tiba saatnya berbicara, Romo Domi merangkum semua pendapat dan berdiri pada jalan tengah untuk menjembatani arus pikiran yang berkembang serta menjaga keseimbangan antara hal-hal baru yang harus diperhatikan dalam pendampingan siswa dengan ketentuan-ketentuan umum pedoman pembinaan calon imam. Untuk tidak mengurangi pendapat asli yang terekam dalam dokumen Reorientasi Sekolah yang dilaksanakan pda tanggal 25-27 Januari 2013, di sini saya mengutipnya apa adanya:

Dua tahun lalu, redaktur majalah Seminari, Florete, datang pada saya dengan sepuluh pertanyaan. Judul umum Florete saat itu adalah “Pendidikan Calon Imam Dalam Arus Globalisasi”. Saya betul heran bahwa anak-anak itu punya pemikiran yang kritis. Mereka kelihatan cemas dengan globalisasi, tetapi di pihak lain mereka ingin agar pendidikan disesuaikan dengan arus globalisasi itu. Saya bergerak dari pemikiran mengenai globalisasi dan menempatkan pendidikan calon imam dalam era globalisasi. Globalisasi adalah arus yang tidak kita ketahui ujung pangkalnya, tetapi menyerbu masuk dan menyerang segala prinsip yang kita pegang. Kelihatan anak-anak itu ingin supaya pendidikan seminari menjawabi arus globalisasi itu. Intinya ialah: kalau kita menginginkan agar pendidikan calon imam itu harus kontekstual, apa konsekwensinya? Apakah kita mengalah dan membiarkan arus globalisasi itu masuk? Saya kira kita harus membedakan yang harus diperhatikan dan dipegang teguh, dan upaya-upaya untuk menjawab globalisasi tanpa mengorbankan prinsip. Untuk pendidikan calon imam, prinsip-prinsip itu adalah berpegang pada Kitab Suci, Pedoman Gereja, dan Ajaran Para Paus. Kalau prinsip-prinsip ini kita lepaskan, kita akan jadi korban dari globalisasi. Apa kontektualisasinya? Pertama, bergegang teguh pada prinsip-prinsip itu. Kedua, kita tidak boleh memenuhi seluruh keinginan anak-anak, misalnya bebas keluar dari seminari, nonton video sebebasnya, bermain play station, dan lain-lain. Ini justru salah. Dikaitlan dengan pertanyaan ROMO Selly mengenai tuntutan dari pemerintah kita: tantangan untuk seminari kita adalah bahwa pendidikan nasional diwarnai gerakan politik pendidikan tertentu, dan banyak kali kita dituntut mengikuti gerakan politik pendidikan itu. Sering peraturan seminari jadi korban karena hal-hal seperti itu. Di banyak seminari lain, anak-anak mengikuti pendidikan umum di sekolah lain, lalu baru ketika pulang ke asrama mereka mengikuti pendidikan seminari. Kita beruntung mempunyai sekolah dan asrama di satu tempat, sehingga pendidikan itu bisa berjalan bersama. Dan karena itu kita masih bisa mendamaikan kedua tuntutan itu, yakni tuntutan pemerintah dan prinsip-prinsip pendidikan di seminari. Semua kita adalah formator. Kita harus betul menjaga agar tidak ada perpecahan antara sekolah dan asrama. Kita harus betul bekerja sama. Di sekolah kita bukan hanya mengajar, tetapi mendidik. Di asrama ada hal-hal praktis yang diperlukan untuk pendidikan para calon imam”.

4. Tidak hanya pada batas memberi pendapat dalam pertemuan yang kami gelar saat itu. Tetapi Romo Domi pun konsekuen, ketika solusi konkret kerja sama, kedisipilinan, tanggung jawab, sebagai nilai yang turut ditemukan untuk membangun kohesi para formator dengan media doa bersama sebelum dan sesudah proses pembelajaran, ia pun siap mengerjakan sebuah Buku Doa dengan tema dan masa liturginya untuk digunakan sehari-hari di lembaga pendidikan ini. Buku doa inipun harus dicatat sebagai yang pertama dihasilkannya selama seminari ini ada dan hidup.

Tentu hal yang harus dimengerti lebih jauh adalah kehendak Romo Domi yang tersembunyi di balik lahirnya buku doa ini, yaitu agar pembiasaan hidup rohani, pembiasaan memberi bobot spiritual dalam setiap kegiatan, harus mendapat tempat pertama dalam setiap aktivitas. Dan persis di situlah suasana ke-seminari-an, tradisi-tradisi lembaga pendidikan calon imam dijaga dan dirawat bersama seluruh komponen.

Pengalaman saat ini, rasanya menarik ketika para guru dan pegawai mengawali dan mengakhiri proses pembelajaran dengan doa di ruang guru, dan para siswa di masing-masing kelas. Terdengar di setiap sudut ruang tempat dan ruang hati bergema lagu pujian dan doa hormat bakti kepada Allah di tempatNya yang tinggi seperti yang dilantunkan dalam Kitab Mazmur ini, “Pujilah Tuhan di surga, pujilah Dia di tempat yang tinggi. Pujilah Dia, hai segala malaekatNya, pujilah Dia hai segala tentaraNya. Pujilah Dia hai matahari dan bulan, pujilah Dia hai segala bintang terang! Pujilah Dia hai langit yang mengatasi segala langit, hai air yang di atas langit. Baiklah semuanya memuji nama Tuhan, sebab Dia memberi perintah, maka semuanya tercipta”(Mzr 148 : 2- 5).

Kedua, Romo Domi adalah figur teladan pemimpin, tempat saya belajar. Sebagai orang yang saat ini diberi kepercayaan memimpin lembaga ini, terkadang saya mengalami kebuntuan berpikir dan bertindak untuk sesuatu yang butuh kecepatan beraksi. Biasanya saya menggunakan forum pertemuan staf Pembina untuk urung rembuk. Tetapi untuk memastikan cara beraksi yang tidak berdampak negatif, saya berkonsultasi kepada sang sepuh dengan segudang pengalaman dan wawasan yang luas. Dengan itu saya bisa katakan bahwa kehadiran figur sepuh seperti Romo Domi, adalah kehadiran yang meneguhkan dan memberi kepastian untuk mengurai benang kusut permasalahan.
Selain pengalaman dan wawasan yang luas, Romo Domi juga, menjadi tempat saya bercermin tentang ketekunan dan kesetiaan dalam membina imamat. Seandainya Tuhan berkenan memberinya umur yang panjang lebih dari sekarang, di tahun 2020 nanti, bersamanya kita merayakan pesta emas 50 tahun imamatnya. Emas imamat dalam hitungan waktu memang tidak tercapai. Tetapi kebertahanan dalam imamat sampai maut menjemput, itulah nilai emas dalam kesetiaan.

Ketekunan dan kesetiaan yang lain ialah dengan membina disiplin belajar terus menerus, belajar yang tidak pernah berhenti. Ia sangat disiplin mengembangkan diri dengan wawasan yang luas sehingga tidak pernah terasa ia ketinggalan zaman dalam perspektif pastoral sosial politik, ekonomi, dan budaya. Dalam hal ini, Romo Domi, bisa menjadi “narasumber” tersendiri ketika kami berkomunikasi dan berdialog di meja makan. Ia sepertinya sungguh menghayati aksioma Latin yang menjadi bidang kompetensinya, “Ama disciplinam, et disciplina tibi qualitatem praebet” (Cintailah kedisiplinan, maka kedisiplinan akan memberikan anda suatu mutu).

Selamat jalan sang sepuh, guru, dan sahabatku dalam imamat. Kini kau berdiri di tepian waktu untuk menegaskan bahwa kau memang pergi, tapi jejakmu tak pernah menyeberang. Di sini geliat karya dan pelayananmu menyatu dalam harumnya “mawar putih,” lagu kebanggaan laskar Berkhmawan.

Rm. Gabriel Idrus

MEMILIH TONTONAN YANG EDUKATIF, BAGIAN DARI IMAN

(Lembaga Sensor Film Kunjungi SMA Seminari Mataloko)

 Film bukan hanya sekadar tontonan, lebih dari pada itu, film menjadi sarana ampuh guna menuntun diri pada kebaikan. Film seharusnya menjadi tuntunan dan bukan hanya sekadar bahan tontonan.

SMA Seminari Mataloko dikunjungi tiga tamu istimewa dari daerah ibu kota, Jakarta, Sabtu (28/7/2018). Mereka adalah Drs. Imam Suhardjo, HM, M.IKom,  Dra. Albina Anggit Anggraini, SH, dan Ana Yugo Prasetya, SH, utusan dari Lembaga sensor Film (LSF) Indonesia, yang datang untuk mensosialisasikan “Budaya Sensor Mandiri di Kalangan Pendidikan”.

RD. Beny Lalo dalam sapaan awalnya mengungkapkan terima kasih kepada tim LSF yang sudi memilih Seminari Mataloko menjadi lembaga pendidikan pertama di Flores yang dikunjungi. “Saya belum pernah mendengar sebelumnya bahwa LSF pernah datang berkunjung ke salah satu tempat di bumi Flores. Karena itu, mewakili pimpinan Seminari Mataloko, saya mengucapkan selamat datang dan terima kasih karena telah memilih Seminari Mataloko menjadi  tempat pertama yang dikunjungi,” ungkapnya. Lebih lanjut, RD Beny Lalo, menjelaskan gambaran umum sekolah Seminari Mataloko dan jumlah seminaris yang ada sekarang.

Mengenai entusiasme seminaris dalam mengikuti kegiatan ini, terpantau bahwa animonya sangat tinggi, terbukti ruangan yang disiapkan sesak dipenuhi seminaris mulai dari KPB Hingga kelas XII. Hadir pula dalam kegiatan ini para frater TOP pendamping dan RD. Nani Songkares

Film: Tontonan atau Tuntunan

Penting bagi Masyarakat Indonesia untuk memilah dan memilih film mana yang layak untuk ditonton sebab pasalnya tidak semua konten dalam film layak dikonsumsi khalayak dari semua kategori usia.

Imam Suhardjo, Ketua Komisi 1 Lembaga Sensor Film, menjelaskan bahwa terdapat beberapa konten dalam film yang tidak layak ditonton dan karenanya harus disensor oleh LSF Indonesia. Konten yang dilarang umumnya sarat akan pornografi, kekerasaan/judi/narkoba, provokasi SARA, pelecehan nilai-nilai agama dan yang merendahkan martabat/harkat manusia.

Ia menambahkan, sebagai tanda layak beredar, semua film yang ada di tanah air, pertama-tama harus mendapat Surat Tanda Lulus Sensor (STLS)  dari Lembaga Sensor Film Indonesia. Karena itu, ia memberi awasan agar hanya menonton film yang telah memperoleh surat izin. Sensor atas film menjadi sangat urgen dengan tujuan agar konten dalam film tidak bertentangan dengan ideologi Pancasila dan UUD 1945, tidak menunjukkan perbuatan yang tercela, tidak melakukan perbuatan melawan hukum dan tidak merusak kerukunan hidup antarumat beragama di tanah air.

Bapak Imam menyadari bahwasannya, pribadi-pribadi yang menangani Sensor Film tidak pernah luput dari kesalahan. “Mengingat kami yang bekerja di LSF bukanlah pribadi yang sempurna, dan karena itu, ada beberapa materi dalam film yang tidak sempurna untuk disensor, maka saya mengajak insan muda sekalian untuk menggalakkan usaha sensor mandiri,” jelasnya.

Adapun kegiatan sensor pribadi amat mengandalkan kedewasaan pridadi dan kelompok dalam memilih film yang layak ditonton. Sensor pribadi menjadi sangat penting mengingat tidak semua film yang tersebar di dunia virtual telah disensor oleh Badan Sensor Film Indonesia. Dengan melakukan sensor pribadi, maka film bukan sekadar menjadi bahan tontonan melainkan materi tuntunan khususnya bagi anak-anak dan remaja.

Sosialisasi yang Komunikatif lagi Inspiratif.

 Imam Suhardjo, sebagai pembicara utama dalam sosialisasi kali ini, mengajak seminaris untuk berpikir dengan menjawabi beberapa pertanyaan yang disodorkan. Ajakan ini ditanggapi dengan antuasiasme yang luar biasa dari para seminaris. Tak sedikit dari mereka mengacungkan tangan dan beberapa kali menjawabi pertanyaan yang disodorkan. Setiap jawaban yang benar diberi hadiah berupa gelas dan payung yang bertuliskan LSF.

 “Saya tertarik untuk menjawabi pertanyaan karena mau mendapatkan hadiah yang menarik. Siapa tahu saya bisa dapat gelas atau payung,” sela Yones, seminaris kelas XI IIS di sela-sela  pertemuan.  Suasana dalam ruangan pertemuan menjadi kian riuh ketika banyak seminaris yang “berebutan” menjawab pertanyaan yang diajukan  Imam. Pada kesempatan yang sama, beberapa seminaris mengajukan pertanyaan perihal LSF dan kiprahnya di tanah air.

Imam, Albina, dan Yugo mengapresiasi semangat yang luar biasa ini. Para seminarispun mengapresiasi materi yang disiapkan dan jalannya sosialisasi. “Bagi saya, kegiatan sosialisasi kali ini begitu menarik selain karena materinya yang bagus, cara penyampaiannya pun  beda sehingga tidak membosankan,” kata Firmus, seminaris kelas XII IIS. Firmus juga menambahkan bahwa pembicara kelihatannya sangat energik dan energi yang sama mengalir kepada audiens sehingga meskipun sudah malam, mereka tidak mengantuk.

Sosialisasi Sensor Film Mandiri pada akhirnya,  menyadarkan seminaris agar lebih selektif lagi dalam memilih tontonan dan memastikan bahwa tontonan (baca: film) sudah mendapat Surat Tanda lulus sensor dari LSF sebab memilih tontonan yang baik adalah bagian dari kedewasaan iman.

 Edukasi Melalui Film

 Film yang baik adalah film yang berdaya edukatif. Tidak semua film memilki daya seperti ini. Karena itu, di akhir pertemuan, kepada audiens,  ditayangkan sebuah film inspiratif yang diangkat dari keutamaan budaya NTT yang amat menjunjung tinggi nilai toleransi agama. Film yang dibintangi oleh aktris ternama Laudya Cintya Bella itu berjudul “Aisya, Biarkan Kami Bicara.”

Film ini berdurasi lebih dari satu jam dan  mengisahkan Aisya, seorang guru Muslim yang berkarya di sebuah daerah terpencil di NTT. Perjuangan Aisya untuk meyakinkan masyarakat setempat akan nilai agama yang memersatukan dan kerelaan masyarakat untuk menerima Aisya yang berbeda sebagai saudara mereka, menjadikan film ini menarik dan sarat emosi, “Aisya adalah gambaran tokoh Muslim yang solider dan sosok yang inspiratif. Dari Aisya saya belajar bagaimana kasih yang tanpa pamrih, mengasihi bukan karena orang lain sama melainkan karena ia berbeda dari saya. Kasih menjadi pesan yang kuat yang saya dapat dari film ini,” aku Bryan, Ketua OSIS SMA Seminari Mataloko.

Film ini mengajarkan bahwasannya keberagaman agama di Indonesia adalah kenyataan yang terberi. Manusia Indonesia entah itu orang Jawa ataupun orang NTT, entah itu Muslim atau Kristiani, tiada bedanya. Semua rakyat Indonesia sama dan bersaudara. Film “Aisya Biarkan Kami Bicara” menjadi prototipe dari film Indonesia yang berdaya edukatif. Masyarakat Indonesia dan siswa seminari Mataloko khususnya harus berani mengambil sikap untuk memilih bahan tontonan yang mendidik seperti ini. Mengingat arus komunikasi dan internet yang semakin tak terkendali, maka sensor mandiri menjadi hal yang mutlak diperlukan insan intelektual lagi beriman dewasa ini.

Di penghujung pertemuan, pihak LSF memberikan cinderamata berupa buku Bunga Rampai 100 Tahun Sensor Film di Indonesia. Memasuki Abad Kedua, plakat dan sertifikat kepada lembaga seminari sebagai tanda terima kasih atas kerja sama yang baik demi terselenggaranya sosialisasi malam hari ini. Selain itu kepada seminaris diberikan juga buku panduan Sensor Film Mandiri sebagai pedoman literasi film.

Fr. Deni Galus, SVD

SIDANG KOMITE SEMINARI MATALOKO AWALI TAHUN PELAJARAN 2018/2019

Lembaga pendidikan calon imam SMP/SMA Seminari St. Yohanes Berkhmans Todabelu Mataloko membuka tahun pelajaran 2018/2019 dengan menggelar sidang komite yang dilaksanakan pada Sabtu (21/7/18). Sidang yang dihadiri oleh ratusan orang tua/wali seminaris ini membahas beberapa hal di antaranya laporan pertangggungjawaban penyelenggaraan pendidikan  Seminari pada periode yang lama sekaligus membahas Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Seminari.

Praeses Seminari, Rm. Gabriel Idrus, Pr dalam sapaan awalnya menegaskan bahwa pertemuan komite adalah program rutin tahunan yang diselenggarakan Seminari sebagai bentuk tanggung jawab pihak pengelola Seminari dan orangtua pada penyelenggaraan pendidikan calon imam. Pertemuan komite baginya adalah kesempatan emas bagi orang tua untuk merapatkan barisan dan berbagi sukacita di antara mereka. “Bagi saya, Selain sebagai acara rutin tahunan, sidang komite juga menjadi sarana bagi para orang tua untuk merapatkan barisan, tempat berbagi cinta satu sama lain, demi gereja, demi anak-anak kita (baca: seminaris) dan pada akhirnya berkiblat pada tegaknya Kerajaan Allah di dunia ini,” demikian Rm. Gabriel Idrus, Pr memberi penegasan di awal pertemuan.

Lebih lanjut, Praeses yang sekaligus kepala SMA seminari ini menyebutkan bahwasannya, semua yang dikerjakan orang tua dan semua yang diusahakan dalam rahmat Tuhan selama ini dan di masa yang akan datang, turut membantu anak-anak untuk senantiasa selalu bertumbuh dan merawat panggilan mereka.

Merawat Panggilan

Pendidikan Seminari pada hakikatnya mengarahkan calon imam untuk mencintai panggilan dan mengusahakan pertumbuhannya. Keseluruhan proses formasi sebenarnya berjalan ke arah ini. Karena itu, bagi Rm. Beny Lalo, Pr, pembinaan di seminari memberikan kekhasan justru karena ia memperhatikan bukan hanya aspek intelektual melainkan perkembangan kepribadian secara keseluruhan.

Adapun proses pendampingan seorang calon imam di seminari Mataloko berlangsung selama 24 jam dengan memperhatikan beberapa aspek formasi seperti Sanctitas (kerohanian), Sapientia (kebijaksanaan), Scientia (pengetahuan), Sanitas (kesehatan) dan Socialitas (berjiwa Sosial). Seluruh aspek pembinaan yang ada merupakan kontekstualisasi  dari 12 living values yang dibentuk oleh PBB sebagai nilai dasar kehidupan di antara sesama manusia. Melalui lima aspek formasi yang ada, seminaris yang memberikan dirinya untuk dibentuk di Seminari Mataloko ditempa agar kini dan kelak dapat menjadi pribadi yang cinta damai, rendah hati, penuh kasih sayang, berjiwa toleransi dan memiliki spirit penghargaan, Kejujuran, kerja sama, tanggung jawab serta kesederhaan untuk berbagi dalam persahabatan. Pembinaan di seminari pada prinsipnya menekankan asas kebebasan demi sebuah kebahagiaan pribadi dan sesama.

Lima aspek formasi atau yang sering disingkat menjadi 5S ini berjalan seimbang dalam satu hari kehidupan seorang seminaris pada panti pendidikan calon imam Seminari Mataloko mulai dari bangun pagi hingga istirahat malam. Untuk itu, seminaris bukan hanya belajar dalam ruangan melainkan keluar dan mengakrabkan diri pada tanah yang memberikan kehidupan. “Belajar merawat tanah juga menjadi kesempatan bagi seminaris untuk mencintai panggilannya sendiri. Sebagaimana tanah akan subur ketika dijga dan dipelihara, demikianpun halnya dengan panggilan hidup seorang calon imam akan tumbuh dengan subur jika dirawat dan disiram dengan air rohani,” demikian Romo Sil Edo, Pr menambahkan.

Anggaran Pendapatan dan Belanja Seminari

Sidang Komite ditutup dengan pengesahan Rancangan anggaran Pendapatan dan Belanja Seminari. Adapun Penyusunan Rancangan APB seminari mengacu pada Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga Komite Sekolah SMP dan SMA Seminari. AD dan ART tersebut didasarkan pada  Permendikbud No. 75 tahun 2016 tentang Revitalisasi Komite Sekolah dan mempertimbangkan Perpres No. 87 tahun 2016 tentang aturan Pungli.

Rapat pengesahan anggaran dipimpin langsung oleh ketua Komite Seminari Mataloko, Yohanes C.W. Ngebu. Bapak Yohanes menggarisbawahi pentingnya kontribusi komite dalam pembangunan seminari. Setelah dipertimbangkan secara bersama, dan atas izin anggota komite, maka Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Seminari kemudian disahkan dan ditetapkan menjadi APBS untuk digunakan selama satu tahun pelajaran yang akan datang. Sidang komite akhirnya ditutup oleh Praeses seminari.

Dalam kata penutupnya,  Praeses Seminari meminta bantuan doa dan dukungan dari komite sekolah, “Di hari-hari yang akan datang, ada banyak rencana besar yang akan dilakukan oleh Seminari. Karena itu, kami meminta partisipasi dari orangtua untuk masuk dalam irama yang sama dan marilah kita saling membantu dan doakan untuk kerja-kerja besar di hari-hari  yang akan datang,” ungkapnya.

Fr. Deni Galus, SVD

DOA TAIZE DI SEMINARI

Ratusan siswa SMP dan SMA Seminari Mataloko, membanjiri kapela Santo Alfonsus Maria De Liguori, guna mengikuti doa Taize, Jumat (30/3/2018). Kendati berjumlah besar, Kapela di sisi barat SMA tersebut terasa hening. Para siswa khusuk berdoa diterangi cahaya lilin di altar dan sisi luar barisan bangku kapela itu.

Doa dalam suasana syahdu ini dipimpin oleh Fr. Stefanus F. Tangi, O’Carm, yang sedang menjalani Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di seminari. Lantunan lagu-lagu pendek dengan syair dari penggalan Kitab Suci yang dinyanyikan berulang-ulang, diiringi petikan gitar, terasa bergema lembut, dan membawa para seminaris masuk ke dalam perjumpaan batin dengan Tuhan.

Alunan Musik dan Kitab Suci

Inti doa bercorak Taize adalah penggalan Kitab Suci yang dilantunkan berulang-ulang dalam bentuk lagu dengan iringan musik, dan dinyanyikan dengan hati, sehingga terasa lembut. Sabda Tuhan mengalir ke dalam batin, bergema di seluruh tubuh.

Jesus remember me, when You come into Your Kingdom – Yesus ingatlah akan daku, ketika Engkau masuk ke dalam KerajaanMu” (Lk.23:42). Ini salah satu contoh penggalan Kitab Suci yang dilantunkan. Sabda Tuhan ini dinyanyikan berulang-ulang di Kapela, dengan alunan musik yang lembut. Setelah itu ada saat hening, untuk meresapkan Sabda Tuhan. Indah sekali!

Di luar Kapela, Sabda itu diingat, didengungkan terus, dibawa ke dalam kehidupan. “Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak,” kata Yesus (Yoh.15:5). Doa bercorak Taize terasa membantu para seminaris tinggal di dalam Tuhan, di dalam SabdaNya yang membawa kekuatan bagi kehidupannya.

Dari sejarahnya, doa ini dikembangkan Br. Roger Schütz saat pecah perang dunia II. Dia mendirikan sebuah komunitas di Taize, sebuah desa kecil di timur Perancis. Komunitas ini hidup bernapaskan doa dan karya. Doa yang dikembangkan adalah penggalan Kitab Suci, yang dilantunkan dengan lembut. Ini dilakukan tiga kali sehari, yakni pagi, siang dan malam. Doa seperti ini menggelorakan cinta yang mempersatukan. “Cintailah, dan ungkapkanlah cinta itu dengan hidupmu”, itulah motto hidup Br. Roger. Komunitas itu menyatukan segenap umat kristiani (Katolik, Ortodox, Protestan).

Dahaga akan kasih yang mempersatukan di kalangan umat kristiani seakan terpenuhi di dalam komunitas ini, dan yang paling merasakannya adalah kaum muda. Mereka berdondong-bondong datang dari berbagai belahan dunia, dari berbagai gereja, termasuk dari Indonesia, untuk berziarah ke Taize.

“Seseorang yang singgah ke Taize bagaikan mendekati sumber mata air. Di sini seorang peziarah berhenti, melepaskan dahaganya sebentar, sebelum melanjutkan perjalanannya,” ujar Paus Yohanes Paulus II dalam kunjungannya ke Taize, 5 Oktober 1986.

Berakar pada Tuhan

Doa itu membuat kita berakar pada Tuhan, kata Paus Fransiskus, di hadapan ribuan jemaat yang memadati lapangan St. Petrus di Vatikan, 21 Maret 2018 lalu. “Tanpa akar, dapatkah sebuah pohon bertumbuh dengan baik, dapatkah tanaman berbunga? Tidak!” Hidup kristiani harus berbuah dalam kasih dan perbuatan baik, lanjut Paus. Untuk itu seorang Kristen harus berakar pada Tuhannya. “Jangan pernah hidupmu terpotong dari Yesus,” tegasnya.

Doa bercorak Taize bertujuan mengakarkan hidup pada Tuhan. Tentu, ini bukan corak doa satu-satunya, tetapi salah satu bentuk yang bisa membantu para seminaris bertekun dalam doa.

Sebetulnya, doa ini telah lama diperkenalkan di seminari. Namun, saban tahun kegiatan ini meredup. Fr. Even menghidupkannya kembali. “Kami sering melantunkan doa bergaya Taize di biara Karmel”, katanya.

Pengajar bahasa Jerman di SMA Seminari itu mengatakan, doa Taize mempunyai corak kontemplatif. Kekuatannya bukan pada perasaan atau pikiran, tetapi pada Sabda Tuhan yang dilantunkan berulang-ulang, dan membawa suasana hening.

Sabda Tuhan itu memperkaya khasanah batin. Gema Sabda Tuhan yang terus bergaung itu mengundang orang untuk datang menjumpai Tuhan dalam liturgi kudus dan doa-doa pribadi. Taize membantu orang beriman membangun doa-doa batin, berupa perulangan penggalan Sabda Tuhan. Pada gilirannya, doa-doa batin itu menjadi napas hidupnya. Itulah yang telah lama dipraktikkan para rahib dari Gereja Timur sejak abad pertengahan.

Para seminaris berharap doa bercorak Taize ini dijalankan secara teratur dan tetap di lembaga pendidikan calon imam ini. (Kontributor: Ari Djone, Naldy Muga, siswa kelas X. Editor: Nani).

MENULIS: TERAPI YANG DAHSYAT

Pe­­­­­nulis itu i­ba­­­rat se­­­o­rang dokter yang me­nyem­buh­­­kan pa­sien (di­­ri­nya dan o­rang lain) de­ngan o­bat terapi yang ber­na­­ma tu­lisan. Re­sep­­­nya: me­­­­­­­nulis se­tiap saat.

Sekelompok sis­­wa SMA Se­­minari Ma­ta­­lo­ko berbincang dengan ba­­pak Ferdinandus Loke, ketua re­dak­si SA­DHA­NA, majalah bulanan Komisi Pembangunan Sosial Ekonomi Konferensi Wali Gereja Indonesia (PSE-KWI) Jakarta, Ra­bu ­(04/04/18) di English room Seminari. Alum­nus Seminari yang ke­rap disapa Edy ini berbagi pengalaman dan inspirasi bagi sejumlah seminaris tentang dunia tulis-menulis.

Pertemuan sing­kat ter­sebut mence­rah­kan se­mi­naris akan pen­ting­nya menulis. Dikisahkannya, pada mu­lanya karangan yang dibuatnya tidak dimuat dalam majalah-majalah yang dikirimnya. Na­mun, karena sikap pan­tang menyerah serta ke­gigihannya, ia men­jadi sa­lah satu o­rang yang sukses karena menulis. “Awalnya tak sekalipun bakat menulis nampak dalam diri saya. Namun, dengan pem­bia­saan diri, kita menjadi mampu. Ala bisa karena biasa”, papar Edy.

Menyembuhkan

Banyak infor­ma­si dan pengalaman ter­sim­pan da­­lam memori se­­tiap o­rang. Memori ter­­­­­­sebut mem­bentuk kom­­­­­­­plek­si­tas yang kuat se­hing­ga menjadi beban pikiran. “Pikiran kita di­pe­­nuhi de­ngan hal-hal ruwet yang kita terima dari pe­ris­tiwa hidup ki­ta. Se­ca­ra medis, keru­we­­tan ter­sebut bisa membawa beban, seperti frustasi, misalnya, yang pada gilirannya mendatangkan penyakit,”, jelas Edy.

Ia melanjutkan, “salah satu cara mengurai pikiran yang bertumpuk adalah me­­­­­­­­­­­nu­lis. Saat me­nu­lis, ki­ta me­­ra­pikan pi­ki­ran ruwet kita, membuatnya jadi teratur.”  Hal tersebut diakui Rm. Nani Songkares, Pr, teman kelas Edy di seminari, yang turut hadir dalam bincang-bincang tersebut. “Menulis itu menyembuhkan. Itu salah satu kesimpulan yang bisa ditarik dari pembicaraan pak Edy. Kita be­run­­tung didatangi oleh o­rang seperti pak Edy yang berpengalaman da­lam bidang tu­lis­-me­nu­lis, dan beliau sendiri sudah merasakan daya penyembuhan sebuah tulisan”, ujarnya.

Inspirasi Kehidupan

“Penulis hebat adalah mereka yang bisa me­manfaatkan apa dan siapa pun sebagai inspirasi  bagi tulisan me­reka”, kata Edy. Menurutnya, orang yang men­jadi inspirasi tulisan disebut nara­sum­ber ke­hi­dupan, se­ka­lipun itu adalah se­o­rang nenek tua mis­kin yang bekerja keras a­tau anak kecil yang be­gitu naif. Banyak hal yang sederhana berubah menjadi sesuatu yang luar biasa di ujung pena seorang penulis.

Ia mencontohkan, seorang pe­nu­­­lis hebat seperti An­drea Hirata me­mu­lai tulisannya dari pe­nga­laman sederhana semasa kecil te­tapi berilham bagi ba­­nyak orang. Dia mengolah pengalamannya menjadi novel berjudul Laskar Pelangi yang mentransformasi kehidupan orang lain.

Laskar Pelangi adalah novel pertama dari tetralogi buah pena Andrea Hirata. Dalam novel tersebut, pengalaman belajar di sebuah sekolah sederhana di Belitung disajikan sebagai tulisan yang banyak mengubah orang. Ada mahasiswa yang terlibat narkoba disembuhkan setelah membaca novel ini. Ada dokter gigi yang tak mau berputus asa, walaupun belum mendapat pekerjaan. Semangat pantang menyerah itu ditimbanya dari novel Laskar Pelangi.

 “Kita me­nulis  un­tuk orang lain. Jadi, apa yang ki­ta tulis harus di­pa­hami dan berdam­pak bagi orang lain. Kita tak per­lu meru­mit­kan tu­li­san kita dengan ka­ta-kata yang tinggi, me­­lainkan cukup de­­ngan tulisan sederhana, tetapi menarik dan menggugah pembaca. Keterampilan tersebut tidak datang begitu saja, tetapi melalui latihan yang tekun disertai semangat membaca yang tinggi,” ujarnya memotivasi siswa.

Edy melanjutkan, dengan menulis, kita dikenali banyak orang, sekalipun kita tidak mengenal mereka. “Saya banyak berjumpa dengan orang-orang yang tidak saya kenal, yang merasa tergugah oleh tulisan saya. Ada kebahagiaan tersendiri ketika mereka telah mengetahui saya melalui tulisan, saat saya menyebutkan nama. Menulis itu menembus batas ruang dan waktu.”

Kalimat te­ra­khir­­nya membangkit­kan se­ma­ngat para se­minaris yang hadir un­tuk se­gera terjun ke dalam dunia tulis menulis. Ti­dak sia-sia me­mang kedatangan so­sok asal Je­rebu’u ini. Ka­ta­-ka­tanya membuat se­mi­na­ris saat itu terpikat dan tergerak untuk terjun menulis.  “Luar biasa. Sung­­guh memberi banyak dorongan bagi saya untuk menulis”, tu­tur Jordy Mu­ga (17), siswa kelas XI, salah satu peserta pertemuan itu.



Peserta Pelatihan Menulis Membludak

Usai perbincangan yang inspiratif itu, OSIS SMP dan SMA Seminari menyelenggarakan pelatihan menulis, yakni Senin-Jumat (9-13/4/2018) untuk siswa SMP, dan Jumat-Minggu (13-15/4/2018) untuk siswa SMA. Pelatihan ini dibuat berkenaan dengan kegiatan Ujian Sekolah Bersandar Nasional (USBN) di SMP dan Ujian Nasional (UN) di SMA, di mana banyak ruang kelas di SMP dimanfaatkan untuk USBN, dan beberapa guru SMA menjadi pengawas ujian sehingga tidak bisa memroses pembelajaran.

Pelatihan yang sedianya diberikan hanya kepada 25 siswa peminat dari masing-masing jenjang dihadiri lebih dari seratus siswa, masing-masing 55 siswa SMP dan 50 siswa SMA. Kegiatan tersebut dipandu para guru bahasa di Seminari, yakni Rm. Nani Songkares, Pr, P. Anton Waget, SVD (guru bahasa Inggris), Rm. Alex Dae Laba, Pr (guru bahasa Indonesia), dan Rm. Sil Edo, Pr, selaku prefek/pamong SMP. Para formator itu dibantu para guru SMP dan para frater yang menjalani praktik pastoral di Seminari.

Hasil pelatihan tersebut adalah penerbitan “Koran” majalah dinding bercorak rubrik yang diperkenalkan sejumlah wartawan senior Kompas pada pelatihan menulis 2011 silam. Koran Kompas, demikian para siswa biasa menyebutnya, menghiasi sejumlah besar majalah dinding di emperan kamar makan SMP dan SMA, dengan ragam tulisan berupa berita, kisah inspiratif, dongeng dan cerpen. Berbagai topik seputar seminari dan kehidupan para seminaris disajikan.

Pelatihan berikutnya direncanakan Rabu-Minggu (9-13/5/2018) untuk para peminat yang belum sempat mengikuti kegiatan pelatihan April silam.

Kehadiran para penulis seperti Maria Matildis Banda beberapa waktu lalu berdampak amat besar. Para penulis alumni seminari juga menyulut api menulis yang luar biasa. Frans Padak Demon, dan Edy Loke adalah dua penulis alumni seminari yang baru-baru ini berbagi pengalamannya kepada para siswa. “Kita sangat mengharapkan para alumni, para penulis lain singgah dan memberi pencerahan bagi para siswa kita”, kata Rm. Beni Lalo, Pr, prefek/pamong SMA (Penulis: Piere Ralph, Doni Mere – siswa SMA kelas XI. Editor: Nani).

MEDIA: WHY MATTERS?

MEDIA: WHY MATTERS?
Bincang-Bincang bersama Frans Padak Demon

Siswa SMA Seminari Mataloko mengadakan bincang-bincang bersama Frans Padak Demon, Independent Consultant Voice of America (VOA), di Ruang Musik SMA, Rabu (4/4). Kegiatan 2 jam yang berlangsung seusai makan malam tersebut menjadi nostalgia tersendiri buat alumnus yang terdaftar sebagai siswa seminari tahun 1969 itu. “Saya terakhir kali berada di sini tahun 1975”, kenangnya. “Di SMP Seminari dulu, saya memulai Mading BIAS (Bimbingan Aspirasi Siswa)”.

Pertemuan tersebut menarik perhatian para seminaris, terutama ketika Frans berbagi pengalaman malang melintang di dunia jurnalistik dalam maupun luar negeri seperti, antara lain, di Harian Merdeka, Jurnal Ekuin, Harian Prioritas, The Mainichi Shinbun, Metro TV, NHK Radio & TV dan VOA.

“Reporter dan seorang imam terpanggil menjadi pembawa berita”, ujar penerima beberapa beasiswa luar negeri seperti di Jepang, Swedia dan Amerika tersebut. Sebagaimana seorang imam mewartakan kebenaran, “kewajiban pertama jurnalisme adalah memberitakan kebenaran”, tandasnya.

Itu sebabnya, jurnalisme yang baik cover both sides, seimbang, tidak berat sebelah. Demi menjamin kebenaran dalam pemberitaan, “seorang jurnalis perlu memiliki disiplin dalam melakukan verifikasi, mengecek dan terus mengecek kebenaran informasi”, lanjutnya, seraya menyebutkan 10 elemen utama jurnalisme, mengutip pendapat Bill Kovack dan Tom Rosentiel.

Frans banyak berbagi pengalamannya menahkodai VOA. Berbagai video tentang VOA ditayangkan. Video-video tersebut mengungkapkan kreativitas pemberitaan VOA, juga kecintaan masyarakat terhadap stasiun TV dan Radio itu. “VOA dicintai masyarakat karena kedalaman isi, dan integritas pemberitaan”. Frans adalah satu-satunya Direktur VOA penerima Gold Medal Award dari pemerintah Amerika Serikat, karena keberhasilannya memimpin stasiun TV dan Radio yang berpangkal di Amerika.

Media Penting

Di tengah banjir informasi yang dahsyat, di mana setiap warga bebas memberitakan apa saja lewat media-media sosial termasuk kebohongan, Frans menegaskan pentingnya media yang berintegritas dan berlandaskan kebenaran.

Media yang berintegritas itu “seperti cahaya di antara banjir berita, cahaya yang menerangi masyarakat. Masyarakat membutuhkan informasi yang benar. Informasi yang salah dapat menimbulkan pengambilan keputusan yang salah di tengah masyarakat”, tegasnya.

Frans mengutip tujuan pemberitaan seperti dikatakan Bill Kovack dan Tom Rosentiel, yakni menyediakan informasi yang diperlukan agar orang bebas dan bisa mengatur diri sendiri. Untuk itu berita harus berlandaskan kebenaran. “Bayangkan kalau berita itu salah atau menyesatkan, masyarakat jadi kacau. Yang sama kan, kalau imamnya memberitakan yang salah, ya umatnya masuk neraka”, candanya memicu gelak tawa.

Lebih jauh dikatakan, berita yang baik dan benar menimbulkan kepercayaan, trust, di tengah masyarakat. Kepercayaan amat penting dalam pewartaan. “Karena itu kita harus menghindari laporan tidak berdasar yang hanya mencari sensasi. Kalau content-nya bagus dan benar, kita tidak perlu membuat iklan, tidak perlu mencari pembelaan, masyarakatlah yang membela kita”, bebernya.

Selanjutnya, Frans menegaskan pentingnya memanfaatkan media digital bagi pewartaan. Dibeberkannya, pengguna HP saat ini mencapai 91 persen penduduk dewasa Indonesia, dan dari jumlah itu, 60 persen menggunakan Smartphone. Selain itu, 79 persen penduduk memanfaatkan internet setiap hari. Mengenai sikap terhadap media digital, 71 persen pengguna memandangnya positip. Ini peluang yang patut digunakan untuk pewartaan. Gereja perlu memanfaatkannya.

“Saya kira penting sekali kita masuk ke dalam media digital. Pewartaan saat ini tidak cukup dilakukan melalui mimbar. Paus Fransiskus saja aktif setiap hari melalui Twitter”, ungkapnya, sambil menampilkan cuitan terkini dari Paus Fransiskus mengenai Paskah. “Setiap hari saya mengikuti cuitan Paus”.

Frans menegaskan, pewartaan melalui media digital menjangkau sejumlah besar umat, dan mereka dapat mengaksesnya kapan dan di manapun. “Pewartaan melalui kertas tetap penting, tapi kertas entah dalam bentuk Harian, Majalah atau buku itu mahal, sedangkan pewartaan media digital dilakukan melalui udara, karena itu murah dan menjangkau banyak orang”, katanya.

Frans mengapresiasi peluncuran website seminari. “Itu keputusan yang tepat. Saya berharap siswa dilibatkan. Tadi saya membaca tulisan mereka di Mading. Content-nya bagus. Sayang kalau tidak dibaca banyak orang. Dengan melibatkan banyak siswa, setiap waktu kita dapat meng-update informasi melalui website”. Frans menganjurkan, website dilengkapi content bercorak audio, berupa renungan, misalnya, yang dapat diperbaharui setiap waktu (Penulis: Mario Degho. Editor: Nani).

WhatsApp Image 2018-03-03 at 00.08.55

VISITASI: RUTINITAS PENUH MAKNA

Begitu lonceng berakhirnya waktu sekolah berbunyi, para siswa seminari berbondong menuju kapel sebelah utara kompleks SMA.  Keheningan menyeruak dalam setiap dinding kapel. Masing-masing seminaris berlutut di bangku yang sudah diperuntukan bagi mereka. Inilah kegiatan visitasi yang rutin dijalankan seminaris setiap hari: berdoa dalam keheningan.

Visitasi berasal dari bahasa Latin visitare yang artinya mengunjungi. Visitasi adalah kegiatan rutin harian yang dilakukan seminaris berupa kunjungan kepada Sakramen Maha Kudus, guna mengucapkan terima kasih kepada Tuhan atas setengah hari yang telah lewat, dan meminta berkat untuk setengah hari yang akan dihadapi. Visitasi diadakan setiap hari pukul 13.10 pada hari sekolah dan pukul 12.00 pada hari Minggu atau hari libur.

Kadang-kadang sebagai ganti visitasi, siswa memanfaatkannya untuk berdoa di depan gua Maria yang berjarak 30 m ke arah selatan kapela. 

Penuh Makna

 “Visitasi itu sangat bermanfaat bagi saya. Setelah memeras otak di jam-jam pembelajaran di kelas, kita bisa menjernihkan otak kita dengan berdoa dalam keheningan. Kita mempersembahkan segala yang kita lakukan, dan menyerahkan apa yang akan terjadi pada Tuhan”, kata Bryan Beka, ketua OSIS SMA Seminari, saat ditemui pada Minggu (18/03/2018) usai kegiatan visitasi.

“Dalam visitasi kita merenungkan kegiatan yang telah dilakukan, agar kita tidak melakukan kesalahan yang sama di hari-hari ke depan”, ujar Martino Djong, siswa kelas X dari Maumere.

Visitasi memang berguna bagi seminaris. Banyak dari mereka terbawa suasana keheningan, yang sangat membantu perkembangan hidup rohani. Tanpa keheningan, orang tak dapat merenung dan berefleksi dengan baik, orang tak dapat menyampaikan keluh kesah di hadapan Tuhan. Padahal dengan menyampaikan keluh kesah, hati kita menjadi lega.

Dengan kemudahan teknologi saat ini, orang dapat mencari hiburan dengan berselancar dalam dunia maya dan tenggelam dalam media-media sosial. Hal tersebut tidak dilakukan oleh para seminaris. Sebagai gantinya, mereka melakukan visitasi.

“Visitasi adalah saat jeda, saat beristirahat dalam Tuhan”, tandas Rm. Benediktus Lalo, Pr, Prefek SMA, saat dimintai komentarnya mengenai kegiatan tersebut. “Di saat kita merasa lelah dan tak berdaya, Tuhan hadir dan membantu. Kalau para siswa terbiasa melakukan hal ini setiap hari, mereka pasti akan merasakan manfaatnya di dalam hidup. Mereka akan menjadi kuat saat mengalami tantangan dan krisis”, lanjutnya.

Visitasi adalah saat kita mendengarkan panggilan Tuhan yang berseru, “Marilah kepadaKu kamu semua yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan memberikan kelegaan kepadamu” (Mat.11:28).

Sebagai kegiatan rohani yang dilakukan setiap hari, visitasi dapat menjadi rutinitas. Tapi kalau dijalankan dengan sungguh, visitasi menjadi rutinitas penuh makna (Penulis: Carlos Feto. Editor: Nani).