untitled

GRATIA SUPPONIT NATURAM (2)

Cabang Meluas karena Akar Mendalam – Kilas Balik (3)

GRATIA SUPPONIT NATURAM (2)

Catatan Pendidikan ala Gymnasium

Di samping pengajaran, ditekankan sekali pembinaan watak. Oleh karena itu kurikulum tidak hanya mencantumkan mata pelajaran-mata pelajaran intelektual. Disediakan juga waktu dan peluang untuk berbagai kegiatan yang bertujuan untuk menanamkan dan menumbuhkan paham, nilai dan sikap hidup di dalam diri para siswa. Ada kegiatan untuk mengembangkan perasaan, merangsang imajinasi, memperlancar komunikasi, interaksi dan hubungan yang baik antar sesama.

Latihan-latihan otoekspresi seperti membuat karangan, berdeklamasi, latihan seni teatrikal, latihan seni suara, olah musik instrumental mendapat tempat pula dalam sistem pendidikan ini. Kegiatan seni musik misalnya, mendapat perhatian yang besar di seminari. P. Karel van Trier, SVD mengajarkan teori dan praktik musik mulai dari kelas satu sampai kelas enam.  Dari beliau, para siswa mendapatkan latihan mengolah seni suara secara intensif. Ada koor dewasa (Mannen-koor) untuk para siswa di kelas-kelas tinggi, ada koor anak-anak (Kinder-koor). Ada latihan intensif dirigen, latihan musik instrumental, pembentukan orkes seminari. Semuanya diarahkan dalam rangka pembinaan watak dan kepribadian.

Bahkan juga kerja tangan dalam rangka kebersihan sekolah, asrama, penataan taman, mendapat porsinya. Kegiatan seperti ini langsung dipelopori pembinanya. P. Yan Smit SVD, misalnya, sangat berjasa dalam penataan taman di halaman tengah kompleks seminari. Beliau memesan bibit-bibit bunga dari negeri Belanda dan bersama siswa menanamnya dalam petak-petak yang artistik. Beliau berpendapat, bunga-bunga yang indah menggairahkan para siswa untuk hidup dan belajar.

Demikian pula kegiatan-kegiatan yang diarahkan untuk menumbuhkan semangat kelompok, kerja sama, solidaritas, tenggang rasa satu sama lain, cinta lingkungan alam dan masyarakat mendapat perhatian serius.

Salah satu bentuk kegiatan itu adalah liburan terpimpin berupa ekskursi ke suatu tempat tertentu, baik secara bersama-sama atau dalam kelompok kecil, di mana para siswa dan Staf Pembina membaur dengan masyarakat, menikmati piknik bersama ke pantai, mendaki gunung dan lain-lain. P. Cornelissen SVD menyimpan banyak kenangan dari kegiatan-kegiatan seperti ini.

Mendaki gunung Ebulobo atau Inerie, beramai-ramai mengunjungi kampung terpencil seperti Warukia di Riung Barat, atau berjalan kaki ke utara untuk berlibur di pulau Pata, Riung, sungguh merupakan pengalaman yang membekas. Di sana ada solidarity making, ada kemenyatuan dengan alam dan masyarakat, ada kemerdekaan dan kegembiraan, ada persahabatan yang tulus.

“Saya sendiri menikmati perjalanan-perjalanan seperti itu, sembari melupakan kesibukan-kesibukan sehari-hari, menghirup udara dalam alam bebas, bersama dengan kelompok pemuda-pemuda sebagai kawan. Ya, mereka benar-benar sahabat!”  kata P. Cornelissen (P.F. Cornelissen, SVD. 50 Tahun Pendidikan Imam di Flores, Timor dan Bali. Ende: Arnoldus, 1978:  28).

Ketika berkisah tentang pendakian gunung api Ebulobo, P. Cornelissen berkata, “Betapa kecil nampak puncak gunung yang tinggi itu dari bawah, tapi setelah berdiri di atasnya orang akan kagum betapa luas di sekitarnya. Jika untuk pertama kalinya mendaki sampai pada puncak sebuah gunung berapi yang tinggi menjulang ke langit itu, barulah terasa suatu pengalaman yang tak pernah akan terlupakan.”

Pulang dari liburan-liburan seperti itu terasa ada energi baru yang menyuburkan jiwa dan menyegarkan panggilan; terasa terpulihkan kekuatan untuk melayani dengan totalitas yang tinggi, untuk mengeksplorasi pertumbuhkembangan diri dan sesama.

Karena itulah pendidikan dengan sistem seperti ini telah sangat besar dirasakan manfaatnya. Tentang hal ini J. Riberu menulis, “Pengaruh seminari bukan saja dirasakan lewat mereka yang ditahbiskan. Kebanyakan mereka yang menikmati jamahan pendidikan seminari mampu membina kepribadiannya sedemikian rupa, sehingga dapat berjasa bagi masyarakat sekitarnya” (Riberu Dr. J.Setengah Abad Lalu: Jasa Pendidikan dan Para Pendidik Flores” dalam Dungkal.A. Jejak Langkah Pendidikan dan Para Pendidik Flores.Jakarta: Yayasan Padi Jagung 1999: 16-17).

Yang Perlu Kita Pelajari

Catatan Bapak John Riberu pantas kita cermati. Di situ tersimpan arti dari judul karangan ini: Gratia supponit naturam. Rahmat bekerja melalui pengembangan diri yang maksimal. Dengan mengembangkan diri secara maksimal baik secara intelektual maupun personal, orang menjadi manusia yang baik, dan dengan menjadi manusia yang baik, orang mampu menjadi berkat bagi banyak orang.

Sudah sepantasnya seluruh proses pembelajaran, baik yang dilakukan guru maupun siswa, menjadi suatu proses yang menumbuh-kembangkan. Itulah salah satu ilham yang bisa ditarik dari praksis pendidikan para pendahulu kita.

Orang belajar bukan untuk menghafal, karena otak bukan alat perekam semata. Orang belajar untuk dapat mengembangkan kegemaran berdaya cipta, kebiasaan dan keberanian berpikir, agar kualitas intelektual benar-benar bertumbuh.

Orang mengapresiasi seni dan musik bukan demi selera dan panggung semata, atau pertunjukkan, atau perlombaan, tapi demi penghalusan kepribadian, dan pada gilirannya, penghalusan peradaban.

Orang melakukan kerja tangan bukan karena terpaksa, tetapi untuk mengembangkan disponibilitas: kerelaan dan kemurahan hati seorang manusia yang baik untuk melayani sesamanya, kendatipun harus berkotor-tangan, berkorban dan bahkan menjadi kuli.

Orang mencintai doa dan berbagai latihan rohani lainnya bukan sekedar sebagai dekorasi dan ekshibisi, tetapi sebagai sarana untuk merasakan kehangatan KasihNya, dan sarana untuk memurnikan motivasi hidupnya untuk berkarya, pertama-tama dan di atas segalanya Ad Maiorem Dei Gloriam – demi kemuliaan nama Tuhan. (Nani Songkares, PrBagian II, habis).

GRATIA SUPPONIT NATURAM (1)

Cabang Meluas karena Akar Mendalam – Kilas Balik (3)

GRATIA SUPPONIT NATURAM (1)
Catatan Pendidikan ala Gymnasium

Gratia supponit naturam. Rahmat mendukung kodrat. Itu terjemahan harafiahnya. Maksudnya, rahmat bekerja maksimal melalui pengembangan bakat-bakat secara maksimal. Secara negatif berarti rahmat tidak akan bekerja dengan maksimal apabila kita menyia-nyiakan kesempatan dan kemungkinan untuk mengembangkan bakat dan kemampuan yang ada pada kita secara sungguh-sungguh. Rahmat tidak akan bekerja maksimal apabila kita menjadi setengah-setengah dan minimalis. Artinya juga, kita mengembangkan bakat dan kemampuan yang ada pada kita bukan pertama-tama demi kepentingan diri kita sendiri, tetapi demi penyaluran rahmat itu bagi pelayanan kepada orang lain melalui bakat dan kemampuan kita.

Pertanyaannya adalah, bagaimana bakat-bakat itu dapat dikembangkan secara maksimal? Pertanyaan inilah yang sebetulnya mau dijawab melalui pendidikan. Kata bahasa Inggris untuk pendidikan adalah education. Kata tersebut berasal dari bahasa Latin educare, yang merupakan bentuk yang disederhanakan dari ex-ducere, yang berarti menarik keluar segala sesuatu yang tersembunyi dalam diri seseorang. Pendidikan berarti menarik keluar bakat dan kemampuan yang masih terpendam, dan mungkin tidak disadari, dalam diri seseorang untuk dipersemaikan dan ditumbuh-kembangkan. Melalui proses pendidikan bakat seseorang terlihat, bertumbuh dan berkembang.

Pendidikan yang menumbuh-kembangkan berbagai bakat dalam diri seseorang itulah yang dikembangkan semaksimal mungkin dalam tradisi pendidikan di Seminari-Seminari, terutama ketika Seminari-Seminari, termasuk Alma Mater kita, menggunakan kurikulum Gymnasium ala Eropa pada saat-saat awal berdirinya, sampai beberapa waktu kemudian setelah kemerdekaan.

Beberapa hal sangat menonjol dalam kurikulum itu, yakni pengembangan bakat-bakat dan kemampuan intelektual terutama melalui bahasa (di mana otak diperlakukan sungguh sebagai alat untuk berpikir, sehingga kegemaran berpikir, kebiasaan berpikir bahkan keberanian berpikir sungguh dikembangkan), pengembangan bakat-bakat dan kemampuan artistik terutama melalui kesenian dan musik, pengembangan bakat-bakat dan kemampuan jasmani melalui olahraga, dan pengembangan kemampuan rohani melalui pendidikan dan latihan-latihan rohani.

Dengan demikian melalui kurikulum pendidikan seperti ini diupayakan agar sebagian besar bakat yang terpendam dalam diri manusia diberi ruang untuk bertumbuh, sehingga ia dapat menjadi manusia yang baik.

Melihat kurikulum pendidikan seperti ini, manusia seperti apakah yang mau dihasilkan? Manusia yang baik, manusia tipe ideal, yang bertumbuh-kembang secara seimbang dalam hampir semua bakat-bakatnya. Kita lalu tergoda untuk bersikap skeptis: dapatkah manusia tipe ideal itu terwujud?

Dalam hal ini, menurut hemat saya, sebaiknya kita tidak berandai-andai. Kita perlu memasang telinga untuk mendengar kembali suara dari kedalaman sejarah, khususnya sejarah pendidikan di Seminari kita kurun waktu 25 tahun yang pertama (1926-1950).

Mendengar Suara Sejarah

Dari catatan sejarah pendidikan di Seminari kita terlihat betapa penumbuh-kembangan bakat-bakat diwujud-nyatakan dalam pendidikan humaniora yang kokoh. Dua hal mau dicapai sekaligus, yakni kualitas pengetahuan dan kualitas watak yang kokoh.

Para pendidik di Seminari adalah pengajar-pengajar yang profesional. Mereka menyiapkan materi dan metode pengajaran secara baik. Mereka menerapkan disiplin yang ketat, bukan untuk membelenggu dan memasung kreativitas siswa, tetapi untuk memacu siswa berkembang secara maksimal baik intelek maupun kepribadiannya.

Karena itu, dalam pandangan J. Riberu, mereka, para pendidik itu, bukan hanya pengajar, tetapi sekaligus benar-benar pendidik. Bagi pendidik tipe ini, kegiatan mengajar yang berarti pengembangan pengetahuan dan keterampilan dalam diri siswa memang penting. Akan tetapi tujuan utama adalah pembinaan watak (Riberu Dr. J.”Setengah Abad Lalu: Jasa Pendidikan dan Para Pendidik Flores” dalam Dungkal.A. Jejak Langkah Pendidikan dan Para Pendidik Flores.Jakarta: Yayasan Padi Jagung 1999).

Mereka merasa tidak puas kalau peserta didik hanya pandai karena menguasai pengetahuan dan keterampilan. Mereka berusaha agar anak asuhannya memiliki peringai dan sikap hidup yang menyebabkan dia dianggap manusia yang baik. Cita-cita mereka adalah menjadikan anak asuhannya manusia yang baik dalam arti yang seasli-aslinya. Itulah pendidikan humaniora yang mereka kembangkan melalui sistem ini.

Berbagai mata pelajaran yang diberikan pun menampakkan cita-cita ini: manusia berpengetahuan dan manusia berwatak. Ada mata pelajaran, tapi tidak banyak dan bertumpuk-tumpuk. Yang penting adalah penguasaan tiga kompetensi dasar: membaca, menulis, berhitung, yang mengarah pada pengembangan kemampuan berpikir (Nani Songkares, Pr – Bagian I).

KECEMASAN, TOTALITAS, DAN HARAPAN

Cabang Meluas, karena Akar Mendalam – Kilas-Balik (2)

KECEMASAN, TOTALITAS, DAN HARAPAN

Berpindah ke tempat baru dengan fasilitas lebih memadai tidak serta merta membuat hidup dan pergulatan pendidikan mudah. Ada berbagai tantangan baru yang mesti dihadapi.

Butuh Keberanian dan Tekad Baja

Ketika masih di Sikka, seminari berada di tengah kampung, dengan atmosfir Katolik yang kental, karena semua penduduk beragama Katolik. Di Mataloko seminari berada di tempat yang sunyi. Beberapa perkampungan sekitar, seperti Dolu, Wogo atau pun Belu tersembunyi di rerumpunan bambu.

Kalau di Sikka, sejak sebelum tahun 1600 orang sudah mengenal agama Katolik, di Ngada umumnya, dan Mataloko khususnya, agama Katolik baru diperkenalkan tahun 1920 dengan kedatangan P. Ettel, SVD. Jadi ketika seminari didirikan di Mataloko, baru 9 tahun agama Katolik diperkenalkan di wilayah itu. Sebagian besar umat belum beragama Katolik. Para misionaris lebih dilihat sebagai orang “kulit putih” daripada sebagai imam atau biarawan.

Bahwa seminari diletakkan di tengah bangsa yang sebagian besar belum mengenal agama Katolik, rasanya itu sebuah pertaruhan besar. Lagi-lagi di sini keyakinan kedua tokoh, Mgr. Vestraelen, SVD, dan P. Frans Cornelissen, SVD, bahwa bangsa Flores itu gens naturaliter christiana serta mempunyai cita-rasa religius dan moral yang tinggi, dan tekad baja yang total untuk menyelenggarakan pendidikan calon imam yang bermutu berperan besar di balik keberanian ini.

Belakangan, P. Cornelissen, SVD tegas menulis, “Orang sangat keliru kalau menganggap bahwa seminari harus berada di tengah-tengah masyarakat Katolik” (50 Tahun Pendidikan Imam di Flores, Timor dan Bali, hal. 33).

Menjaga Kesehatan Siswa

Tantangan lain yang dihadapi adalah kesehatan siswa. Kala itu Flores dibagi dalam 5 wilayah administratif kepemerintahan (Onderafdeling), dan di setiap Onderafdeling ditempatkan seorang dokter. Namun tak jarang dokternya kurang dari lima, bahkan sering hanya dua. Di Bajawa sendiri dokter sering tidak ada. Kunjungan dokter setiap bulan datang dari Ende. Tidak selalu seminari mendapat pelayanan medis dari seorang dokter yang kebetulan berkunjung ke Bajawa itu.

Karena itu banyak hal diupayakan sendiri, agar kesehatan para siswa bisa ditangani. Biasanya seorang imam atau suster yang sedikit banyak mengenal obat-obatan ditugaskan untuk menangani kesehatan siswa.

Masalahnya adalah kalau para siswa menderita penyakit berbahaya, seperti radang paru-paru, atau pun TBC. Sering kali mereka tidak ditangani semestinya, atau terlambat penanggulangannya. Akibatnya, beberapa siswa tidak tertolong. Ada yang meninggal di seminari, yang lain meninggal di rumah. Itu beberapa catatan pedih P. Frans Cornelissen, SVD.

Bukan Mendidik Imam Kelas Dua

Namun semua tantangan itu tidak menyurutkan semangat untuk terus mendidik para calon imam. Dari tahun ke tahun jumlah siswa makin bertambah, begitupun jumlah pendidiknya.

Seluruh proses pendidikan dijalankan dengan kesungguhan dan totalitas yang amat besar. Pendidikan Gymnasium ala Eropa diterapkan, dengan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantarnya. Ini merupakan sistim pendidikan seminari menengah di Belanda (Klein Seminarie) untuk mempersiapkan para pemuda melanjutkan studi di seminari tinggi (Groot Seminarie).

Mengapa proses pendidikan seperti ini yang dipilih dan dijalankan dengan segenap totalitas, padahal yang dididik adalah calon imam pribumi? Catatan P. Frans Cornelissen, SVD membantu memahami pergumulannya.

Dalam kata sambutannya pada Upacara Peresmian Seminari 15 September 1929, P. Frans Cornelissen, SVD, mengutip Paus Benediktus XV dalam ensiklik Maximum Illud yang mengatakan bahwa para rohaniwan pribumi harus dididik sebaik-baiknya, tidak hanya sekedar diberi pengetahuan elementer. Pendidikan yang diberikan haruslah “lengkap sempurna dan utuh dalam semua seginya sebagaimana lazimnya diberikan dalam pendidikan imam-imam dari bangsa-bangsa yang sudah maju” (50 Tahun Pendidikan di Flores, Timor dan Bali, 35).

Ini merupakan sikap yang dipilih untuk mengembangkan proses pendidikan di seminari, sebuah sikap yang sangat maju karena beberapa hal. Pertama, cukup banyak seminari yang dikembangkan di Asia dan Amerika Latin memilih mendidik imam-imam pribumi sebagai imam kelas dua. Ada banyak contoh yang dikemukakan. Kedua, masa penjajahan Belanda saat itu menganggap wajar perlakuan kelas dua bagi pendidikan kaum pribumi. Tapi P. Cornelissen memilih menerapkan proses pendidikan yang sama kualitasnya dengan proses pendidikan calon imam di negara maju.

Itu sebabnya pilihan ini mewarnai atmosfir pendidikan di seminari sejak awal. Karena itu imam yang akan dihasilkan adalah imam dengan proses pendidikan, hak, kedudukan dan kualitas yang sama, imam sebagai sesama saudara.

Buah-Buah Pertama

Pertengahan tahun 1932 para siswa angkatan pertama yang berawal dari Sikka menamatkan pendidikannya di seminari menengah. Itulah buah-buah pertama hasil pendidikan di seminari ini.

Dengan pemikiran bahwa pendidikan calon imam pribumi haruslah pendidikan yang “lengkap sempurna dan utuh dalam semua seginya”, maka tanggal 8 Januari 1932, diputuskan untuk mendirikan sebuah seminari tinggi, agar para calon imam dapat melanjutkan studi filsafat dan teologi. Seminari tinggi itu didirikan di Mataloko. Sebuah rumah bertingkat dua bagi seminari tinggi itu dikerjakan tahun 1932 dan selesai tahun 1933 dengan nama rumah Arnoldus, atau lebih dikenal di kalangan masyarakat sebagai Rumah Tinggi (Kemah Tabor saat ini). Mereka yang melanjutkan pendidikan ke seminari tinggi itu diterima sebagai anggota novisiat SVD, sesama saudara sederajat dengan para anggota serikat dari Eropa.

Dari angkatan pertama novisiat SVD yang berjumlah 7 orang itu (yang merupakan penggabungan angkatan 1926 dan 1927 di Sikka), 4 orang menjadi imam, yakni Lukas Lusi dan Marsel Seran dari angkatan 1926, dan Gabriel Manek serta Karel Kale Bale dari angkatan 1927. Dari ke-4 orang itu, seorang menjadi Uskup, yakni Mgr. Gabriel Manek, SVD, sebuah pembuktian nyata bahwa seminari yang pada awal mula dibangun dengan sederhana menghasilkan buah yang matang dengan  mencapai pucuk pimpinan tertinggi gereja lokal (Nani).

DARI SIKKA KE MATALOKO

Cabang Meluas, karena Akar Mendalam – Kilas-Balik (1)
DARI SIKKA KE MATALOKO

Berdirinya Seminari Menengah St. Yohanes Berkhmans Todabelu Mataloko tidak terpisahkan dari dua tokoh besar, yakni Mgr. Arnold Vestraelen, SVD, Vikaris Apostolik Kepulauan Sunda Kecil (1922-1932) dan P. Frans Cornelissen, SVD.

Mgr. Vestraelen, SVD mendapat tantangan luar biasa dari para Vikaris Apostolik dan Perfek Apostolik se Indonesia ketika ia mengutarakan maksudnya untuk mendirikan sebuah seminari di Flores, dalam sebuah konferensi di Batavia.

Penolakan yang jauh lebih besar datang dari para misionaris di Kepulauan Sunda Kecil. Baru sebagian kecil masyarakat Flores dipermandikan, sebagian besar masih kafir. Karena itu mendirikan sebuah seminari di tengah masyarakat yang sebagian besar kafir itu hampir terasa mustahil. Itu keberatan utama mereka. Maklum banyak dari para misionaris ini adalah pindahan dari tanah misi di Togo, Afrika. Di sana mereka gagal mendirikan seminari karena alasan serupa.

Namun Mgr. Vestraelen, SVD teguh dengan keyakinannya, bahwa bangsa Flores itu gens naturaliter christiana, bangsa yang secara alamiah Kristen. Bangsa ini mempunyai citra-rasa religius dan moral yang tinggi, dan itu menjadi alasan kuat baginya mendirikan seminari.

Ketika P. Frans Cornelissen, SVD tiba di Indonesia tahun 1925, gayung bersambut. Mgr. Vestraelen segera memerintahkan P. Frans mendirikan seminari. Dia tahu watak P. Frans Cornelissen, dan dia tahu pula bahwa imamnya itu telah menyelesaikan kursus guru bantu dan kursus Kepala Sekolah di Belanda, dan baginya bekal itu cukup untuk tugas yang dia sendiri tidak bisa gariskan.

Karena itu ketika P. Frans Cornelissen kebingungan bagaimana memulai proses pendidikan calon imam, Mgr. Vestraelen berkata, “Ajarkan apa saja yang kau anggap berguna. Anda kan guru, anda tahu lebih baik daripada saya”.

Dari yang Kecil
Dengan kepercayaan begitu besar dari Bapak Uskup, P. Cornelissen memulai karya besar ini. Tempat yang dipilih adalah Sikka, sebuah kampung kecil di pantai selatan Maumere, dengan penduduk 1000 orang.

Alasan terpilihnya Sikka sebagai tempat dimulainya seminari ini sederhana saja. Saat itu paroki Sikka tidak mempunyai pastor tetap. Sementara itu di Sikka pastoran peninggalan para imam Jesuit itu besar, terbuat dari kayu jati yang kuat. Jadi kalau seminari dimulai di Sikka, pastor pembina bisa sekaligus merangkap pastor paroki, dan pastoran besar itu dapat langsung dijadikan asrama seminari.

Dengan persiapan dan fasilitas seadanya, seminari itu diresmikan tanggal 2 Februari 1926, oleh Mgr. Vestraelen, SVD. “In het land der blinden is ḗḗn-oog koning! – seorang bermata satu di antara orang-orang buta, dialah raja”, ungkap P. Cornelissen, untuk melukiskan bagaimana karya besar ini dimulai dengan serba sederhana, dan dilakukan nyaris seorang diri.

Itulah uniknya karya Tuhan. Tentang awal yang serba kecil dan sederhana ini, P. Tarsis Djuang, SVD, dan P. Elias Doni Seda, SVD, menulis catatan menarik berkenaan dengan 60 tahun seminari, 15 September 1989: “Hampir setiap orang dapat melakukan hal besar dalam dan bagi suatu peristiwa besar. Tapi hanya Tuhanlah yang melakukan hal besar dalam peristiwa kecil. Karya penyelamatanNya adalah karya besar, tapi dilaksanakan lewat inkarnasi, suatu peristiwa yang begitu kecil dan hina”.

Berpindah ke Mataloko
Tahun 1928, setelah dua tahun berada di Sikka, jumlah siswa membengkak dari 7 orang angkatan pertama menjadi 26 orang. Sebuah tanda jelas, yang menunjukkan suburnya panggilan di Flores, sekaligus mencengangkan sebagian misionaris yang pesimis.

Namun, sebuah tantangan besar menghadang. Pastoran tidak bisa diperluas lagi, dan Sikka tidak mempunyai tanah luas dan kosong untuk membangun sebuah kompleks seminari. Harus dipilih tempat yang baru, di luar Sikka. Di mana?

Ada banyak pro kontra di kalangan misionaris. Namun akhirnya P. Jan van Cleef, SVD dalam jabatannya sebagai Provikaris, meyakinkan para misionaris bahwa Mataloko adalah tempat yang paling cocok sebagai lokasi baru bagi seminari. Iklimnya sejuk, di ketinggian lebih dari 1000 m di atas permukaan laut. Di sana nyamuk tak bertahan hidup dan karena itu para siswa bisa terhindar penyakit malaria. Selain itu, tanah di Mataloko luas dan subur, sehingga dapat diusahakan kebun untuk makanan sehari-hari.

Maka pada tanggal 15 Juli 1928 Mgr. Vestraelen meletakkan batu pertama pembangunan kompleks seminari di Mataloko. Setahun kemudian, pada liburan besar bulan Juni-Juli 1929, mulailah perpindahan seminari dari Sikka ke Mataloko. Pada tahun itu juga beralih tahun ajaran baru dari bulan Januari ke Agustus, sehingga pada bulan Agustus diterima lagi murid baru. Total siswa seminari pada tahun ajaran baru 1929 berjumlah 30 orang.

Tanggal 15 September 1929 dilangsungkan misa pontifical pemberkatan sekaligus peresmian seminari ini oleh Mgr. Arnold Vestraelen, SVD. Hadir saat itu sejumlah tokoh Pemerintah dan Gereja.

Catatan paling lengkap mengenai peristiwa bersejarah itu dibuat oleh P. Henricus Leven, SVD, Provikaris saat itu. Ia menuliskan laporan lengkap mengenai pembicaraan-pembicaraan saat itu, baik oleh P. Frans Cornelissen, SVD, seorang siswa seminari bernama Gabriel Manek, Mgr. Arnold Vestraelen, SVD, maupun Asisten Residen Flores, C.A. Bosselaar.

Semua pembicaraan bernada syukur dan optimisme yang besar, bahwa seminari ini akan tetap eksis, apapun krisis yang dihadapinya, dan akan berkiprah jauh ke depan, tidak hanya demi kepentingan Gereja, tetapi juga bangsa dan tanah air.

Sebagian kata-kata P. Cornelissen, SVD layak digemakan kembali: “Kita berdiri lagi di sini untuk menunjukkan salah satu dari vitalitas yang tak tertahankan dari Gereja Katolik, yang sering mencengangkan mereka yang berbeda pikirannya. Kadang-kadang ketika ia (gereja) seolah-olah melihat bahwa kehancurannya sudah dekat, ia menegakkan dirinya kembali dan setelah kesulitan yang tak henti-hentinya ia pun kembali dengan penuh kejayaan”.

Tentang seminari ini ia mengungkapkan keyakinannya: “Kami memiliki harapan yang teguh, bahwa dari sekolah ini akan muncul para pemimpin bangsa yang berasal dari Flores dan Timor” (Daniel Dhakidae, dalam Percik-Percik Kenangan Alumni, hal.230-233) (Nani – Disarikan dari buku In Dei Providentia).