untitled

GRATIA SUPPONIT NATURAM (2)

Cabang Meluas karena Akar Mendalam – Kilas Balik (3)

GRATIA SUPPONIT NATURAM (2)

Catatan Pendidikan ala Gymnasium

Di samping pengajaran, ditekankan sekali pembinaan watak. Oleh karena itu kurikulum tidak hanya mencantumkan mata pelajaran-mata pelajaran intelektual. Disediakan juga waktu dan peluang untuk berbagai kegiatan yang bertujuan untuk menanamkan dan menumbuhkan paham, nilai dan sikap hidup di dalam diri para siswa. Ada kegiatan untuk mengembangkan perasaan, merangsang imajinasi, memperlancar komunikasi, interaksi dan hubungan yang baik antar sesama.

Latihan-latihan otoekspresi seperti membuat karangan, berdeklamasi, latihan seni teatrikal, latihan seni suara, olah musik instrumental mendapat tempat pula dalam sistem pendidikan ini. Kegiatan seni musik misalnya, mendapat perhatian yang besar di seminari. P. Karel van Trier, SVD mengajarkan teori dan praktik musik mulai dari kelas satu sampai kelas enam.  Dari beliau, para siswa mendapatkan latihan mengolah seni suara secara intensif. Ada koor dewasa (Mannen-koor) untuk para siswa di kelas-kelas tinggi, ada koor anak-anak (Kinder-koor). Ada latihan intensif dirigen, latihan musik instrumental, pembentukan orkes seminari. Semuanya diarahkan dalam rangka pembinaan watak dan kepribadian.

Bahkan juga kerja tangan dalam rangka kebersihan sekolah, asrama, penataan taman, mendapat porsinya. Kegiatan seperti ini langsung dipelopori pembinanya. P. Yan Smit SVD, misalnya, sangat berjasa dalam penataan taman di halaman tengah kompleks seminari. Beliau memesan bibit-bibit bunga dari negeri Belanda dan bersama siswa menanamnya dalam petak-petak yang artistik. Beliau berpendapat, bunga-bunga yang indah menggairahkan para siswa untuk hidup dan belajar.

Demikian pula kegiatan-kegiatan yang diarahkan untuk menumbuhkan semangat kelompok, kerja sama, solidaritas, tenggang rasa satu sama lain, cinta lingkungan alam dan masyarakat mendapat perhatian serius.

Salah satu bentuk kegiatan itu adalah liburan terpimpin berupa ekskursi ke suatu tempat tertentu, baik secara bersama-sama atau dalam kelompok kecil, di mana para siswa dan Staf Pembina membaur dengan masyarakat, menikmati piknik bersama ke pantai, mendaki gunung dan lain-lain. P. Cornelissen SVD menyimpan banyak kenangan dari kegiatan-kegiatan seperti ini.

Mendaki gunung Ebulobo atau Inerie, beramai-ramai mengunjungi kampung terpencil seperti Warukia di Riung Barat, atau berjalan kaki ke utara untuk berlibur di pulau Pata, Riung, sungguh merupakan pengalaman yang membekas. Di sana ada solidarity making, ada kemenyatuan dengan alam dan masyarakat, ada kemerdekaan dan kegembiraan, ada persahabatan yang tulus.

“Saya sendiri menikmati perjalanan-perjalanan seperti itu, sembari melupakan kesibukan-kesibukan sehari-hari, menghirup udara dalam alam bebas, bersama dengan kelompok pemuda-pemuda sebagai kawan. Ya, mereka benar-benar sahabat!”  kata P. Cornelissen (P.F. Cornelissen, SVD. 50 Tahun Pendidikan Imam di Flores, Timor dan Bali. Ende: Arnoldus, 1978:  28).

Ketika berkisah tentang pendakian gunung api Ebulobo, P. Cornelissen berkata, “Betapa kecil nampak puncak gunung yang tinggi itu dari bawah, tapi setelah berdiri di atasnya orang akan kagum betapa luas di sekitarnya. Jika untuk pertama kalinya mendaki sampai pada puncak sebuah gunung berapi yang tinggi menjulang ke langit itu, barulah terasa suatu pengalaman yang tak pernah akan terlupakan.”

Pulang dari liburan-liburan seperti itu terasa ada energi baru yang menyuburkan jiwa dan menyegarkan panggilan; terasa terpulihkan kekuatan untuk melayani dengan totalitas yang tinggi, untuk mengeksplorasi pertumbuhkembangan diri dan sesama.

Karena itulah pendidikan dengan sistem seperti ini telah sangat besar dirasakan manfaatnya. Tentang hal ini J. Riberu menulis, “Pengaruh seminari bukan saja dirasakan lewat mereka yang ditahbiskan. Kebanyakan mereka yang menikmati jamahan pendidikan seminari mampu membina kepribadiannya sedemikian rupa, sehingga dapat berjasa bagi masyarakat sekitarnya” (Riberu Dr. J.Setengah Abad Lalu: Jasa Pendidikan dan Para Pendidik Flores” dalam Dungkal.A. Jejak Langkah Pendidikan dan Para Pendidik Flores.Jakarta: Yayasan Padi Jagung 1999: 16-17).

Yang Perlu Kita Pelajari

Catatan Bapak John Riberu pantas kita cermati. Di situ tersimpan arti dari judul karangan ini: Gratia supponit naturam. Rahmat bekerja melalui pengembangan diri yang maksimal. Dengan mengembangkan diri secara maksimal baik secara intelektual maupun personal, orang menjadi manusia yang baik, dan dengan menjadi manusia yang baik, orang mampu menjadi berkat bagi banyak orang.

Sudah sepantasnya seluruh proses pembelajaran, baik yang dilakukan guru maupun siswa, menjadi suatu proses yang menumbuh-kembangkan. Itulah salah satu ilham yang bisa ditarik dari praksis pendidikan para pendahulu kita.

Orang belajar bukan untuk menghafal, karena otak bukan alat perekam semata. Orang belajar untuk dapat mengembangkan kegemaran berdaya cipta, kebiasaan dan keberanian berpikir, agar kualitas intelektual benar-benar bertumbuh.

Orang mengapresiasi seni dan musik bukan demi selera dan panggung semata, atau pertunjukkan, atau perlombaan, tapi demi penghalusan kepribadian, dan pada gilirannya, penghalusan peradaban.

Orang melakukan kerja tangan bukan karena terpaksa, tetapi untuk mengembangkan disponibilitas: kerelaan dan kemurahan hati seorang manusia yang baik untuk melayani sesamanya, kendatipun harus berkotor-tangan, berkorban dan bahkan menjadi kuli.

Orang mencintai doa dan berbagai latihan rohani lainnya bukan sekedar sebagai dekorasi dan ekshibisi, tetapi sebagai sarana untuk merasakan kehangatan KasihNya, dan sarana untuk memurnikan motivasi hidupnya untuk berkarya, pertama-tama dan di atas segalanya Ad Maiorem Dei Gloriam – demi kemuliaan nama Tuhan. (Nani Songkares, PrBagian II, habis).

Comments are closed.